
Dia pergi juga sepertinya tidak buruk . Aku libur latihan hari ini. batin Aliyah senang mencoba menghibur diri.
Seusai sarapan Aliyah melangkah keluar gedung Vila. Aliyah sudah disambut oleh seorang wanita berpakaian ala militer.
"selamat pagi nona."
Aliyah tertegun,
"Iyaa.... Ka-mu si-apa?" Aliyah merasakan perasaan buruk. Apakah dia pengganti Devan untuk melatihnya? Aliyah bergidig hanya dengan membayangkan saja.
"Perkenalkan. Namaku Sonya. Saya instruktur kamu mulai hari ini." ucap wanita itu.
Gubraakk..
Aliyah langsung melemas. Dia benar-benar tidak mau melepaskanku kali ini. tangis Aliyah dalam hati.
"kamu nggak papa?" tanya Sonya memegang lengan Aliyah.
"Yaahh... hanya sedikit lemas."tersenyum canggung.
"Kita pemanasan saja dulu sebelum mulai latihan." Sonya mengajak Aliyah ke arena tempat berlatih.
Setelah berganti dengan baju yang lebih nyaman dipakai, Aliyah dan Sonya memulai pemanasan. Melakukan perenggangan sedikit.
"Bagimana? Sudah merasa panas sedikit?" tanya Sonya.
"Yaah.. ini lebih manusiawi."Ujar Aliyah seusai melakukan pemanasan.
Sonya tersenyum kecil."Kita latihan pertahanan diri dulu. Pelan-pelan saja."
Seharian ini, Aliyah dan Sonya melakukan latihan pertahanan diri. Dan sedikit latihan menyerang lawan.
Hana terlihat menyusul aliyah dengan tergesa.
"Nona?''
Aliyah menoleh."Ada apa Han?"
"Tuan Devan menelpon." Hana menyerahkan hp Aliyah yang ditinggal di vila. dan sengaja dia titipkan pada Hana.
Aliyah menerimanya. Lalu menempelkan benda pipih itu ke telinganya.
"Iya tuan suami?"
"Bagaimana latihannya?"
"Sonya lebih baik dari padamu."cibir Aliyah."Dia tidak terlalu keras. Hanya latihan berkelahi."
"Baguslah."
"Kapan pergi? kenapa nggak bilang bilang?"
"Merasa kehilangan?"ledek Devan dengan kekehan.
"Tidak. Siapa juga. Aku malah senang latihan kali ini tidak berat karna kamu nggak ada"
"Aaa.. begitu. Baiklah."ucap Devan, dia terdiam sesaat."Aku masih ada yang harus di urus. Menurutlah dan jangan menyulitkan Sonya. Sudah ya."
"Aaaa... Kapan.."
TUTUTUTUT..
__ADS_1
Huuuhhh.. Aliyah kesal, sambungan sudah terputus.
"Hana. terima kasih ya."Aliyah menyerhkan ponselnya pada Hana lagi.
"Iya nona Aliyah."
"Kenapa begitu sedih?" tanya sonya yang masih stay disana.
"Ng? Siapa?"
"Kamu!"
"Kenapa aku harus bersedih? Aku justru senang Devan tidak ada disini. Badan ku pegal semua jika dia ada." kesal Aliyah memijit bahunya sendiri.
Sonya terkekeh.
"Hihihi... Aku tidak menyinggung Devan. Jadi kamu bersedih karenanya?"
"Tidak! mana mungkin! Ayo kita lanjut latihan."Aliyah mengalihakan pembicaraan. dengan rasa malu.
Selama beberapa hari Aliyah mwnjalani latihan bertarung. Aliyah juga sudah menguasahi cara bettahan dan menyerang. Walau hnya sebagai kemampuan dasar saja.
Di ruang terbuka latihan, Aliyah dan Sonya berduel. Aliyah mempraktekan apa yang sudah dia pelajari dari Sonya. Di akhir pertarungan. Aliyah berhasil membating tubuh Sonya. Wanita itu mendarat dengan punggungnya.
"Bagus, kemampuanmu sudah meningkat." puji Sonya bangkit."Terus lakukan latihan ini dan sering olah raga fisik. Agar ototmu tidak kaku."
"Baiklah"
"Ini seminggu latihanmu. Selanjutnya adalah latihan menembak." ucap Sonya, mata sonya melihat Devan yang mendekat.
"Sepertinya pelatih tembakmu sudah datang." serunya. menunjuk dengan dagunya dibelakang Aliyah.
"Kau begitu merindukanku?" ucap Devan.
"Tidak. Ini hanya agar kita lebih terlihat seperti suami istri betulan." Elak Aliyah cepat tapi masih memeluk tubuh Devan.
"Hmmppptt ... Kau memelukku terlalu erat. Apa ini juga bagian dari sandiwara?"
Aliyah terkekeh. Lalu melepaskan pelukannya.
"Bagaimana hari ini?" tanya Devan menatap wajah aliyah.
"Seperti biasanya."
Devan mengernyit dan melangkah menghampiri Sonya.
"Bagaimana latihannya?" tanya nya pada Sonya.
"Dia tidak seburuk yang kau katakan." ucap Sonya."Kau terlalu berlebihan."
"Baguslah. Jika tidak kau yang dapat penangananku." ujar Devan.
"Kau yang tidak berhasil ini akan menangani aku seperti apa? Baru sekali latihan sudah membuatnya lebam-lebam."Ejek Sonya." Sudah ya aku masih ada urusan lain. Jangan memanggilku lagi. Istirahatlah."
Sonya berlalu sambil melambaikan tangannya. Aliyah hanya menatap pelatih sementara nya selama seminggu itu dengan tatapan yang entah apa.
"Lain kali ayo kita makan siang bersama." teriak Aliyah pada Sonya yang masih berjalan memungguinya.
"Tentu." jawab Sonya tanpa menoleh.
"Hari ini sepertinya kamu cukup lelah. Istirahatlah. Dan besok kita mulai latihan menembak." jelas Devan memeluk pinggang Aliyah.
__ADS_1
"Heemm.." Aliyah masih menatap jejak Sonya. Rasanya cukup berat berpisah karena sudah seminggu ini bersama.
****
Malam itu Devan menatap langit dari beranda kamarnya. Melihat bintang-bintang yang bertaburan diatas sana. Devan menyesap anggur dalam gelas yang dibawanya. Lalu menghela nafasnya.
Semakin banyak yang menginginkan cip dan data itu. Bagaimana aku akan menyembunyikannya lagi? Batin Devan menghela nafasnya.
Aliyah sudah tau dia tidak hamil dan fungsi dari gelang itu sudah berkurang. Suatu saat dia akan melepasnya juga. Haruskah aku jujur padanya? pikir Devan lagi.
Tapi dia belum siap menghadapi semua. Aku juga belum yakin akan kesetiaannya. Bagaimana jika dia tau lalu malah menyerahkannya pada musuh?
Devan menenggak anggurnya hingga habis tak bersisa. Devan berbalik, mendapati Aliyah berdiri diambang pintu balkon, tirai putih melambai-lambai dimainkan angin memberi kesan lain pada gadis itu. Aliyah baru saja selesai mandi,masih mengenakan bathrobe nya.
"Apa yang kau lakukan berdiri disitu?" tanya Devan akhirnya membuka mulut setelah sesaat terpesona oleh kehadiran istrinya.
"Diluar dingin. Masuklah." ucap Devan lagi.
"Apa yang kau lakukan disini jika dingin?" Aliyah berjalan mendekati Devan.
"Cari angin."
"Sudah dapat?"
Devan tertawa lucu.
"Seperti nya langit malam ini cerah. Banyak bintang yang menampakkan diri." ucap Aliyah berdiri disamping Devan menatap langit yang terlihat lebih indah.
"Yang seperti ini tak ada di kota." kata Devan menyetujui. ikut memandang langit.
"Seberapa lama kamu sudah menatapnya Dev?"
"Mmmm.. aku tak mau bilang."
"Kenapa?" Aliyah menoleh pada Devan.
"Aku takut kau cemburu."
"Ahahaha.. Selama itukah?" tertawa geli.
"Heeemm..." Devan memeluk pinggang Aliyah dan mengambil tengkuknya. Menatap jauhnpada manik mata indah milik istrinya. Perlahan Devan mendekatkan wajahnya, mengecup ringan bibir lembut Aliyah. Wanita itu menyambutnya. Mempertemukan lidah dan bergelut lembut diruang khusus itu.
Devan semakin menuntut, memperdalam ciumannya, meminta lebih, hingga Aliyah kehabisan nafasnya.
Devan menjeda. Menatap wajah cantik istrinya. Nafas hangatnya menerpa wajah Aliyah. Gadis itu menunduk merasa wajahnya yang menghangat. Devan mengangkat dagu Aliyah, lalu menautkan kembali bibir mereka. Tenggelam bersama dengan dinginnya malam itu.
Tubuh Aliyah roboh diatas lantai balkon. Devan dengan rakusnya menggulum bibir Aliyah. Tangannya mulai nakal menggrayangi tubuh istrinya. Gadis itu juga menikmati setiap sentuhan suaminya. Membuatnya melayang entah kemana.
Bathrobe sudah terlepas jauh dari tubuh Aliyah. Dibawah langit malam yang bertaburan bintang itu, mereka melakukan penyatuan. Melepas rindu yang terpendam selama seminggu.
____€€€____
Reader kuuh , kasih semangat donk, biar Othor up terus setiap hari.
like dan komen ya
Terima kasih.
Salam___
😊
__ADS_1