
"Biar aku yang membawa kepala mereka berdua, kak!" ucap Yo Il bertekat.
Yo jo menatap ragu pada adiknya itu.
"Wanita yang sudah pergi membawa hatiku serta harus mati bersama pencuri wanita yang sudah kutandai." tekat Yo Il dengan amarah yang terlihat berkilatan di matanya.
Yo jo tersenyum sinis.
"Baiklah. Aku serahkan mereka berdua padamu."ujar Yo jo dengan seringai diwajahnya."Masalah CIP itu, kita bisa bicarakan lagi nanti."
Yo jo menyerahkan sebuah pistol pada Yo il. Adiknya itu menatap pistol di tangan Yo jo. Dengan yakin Yo il mengambilnya dan melangkah keluar gerbang markas mereka. Yo jo menatap punggung Yo il yang kian menjauh.
"Kau ikuti bocah itu! Jika dia bertindak melenceng, bunuh saja! Aku tak butuh saudara plinplan tak berguna." perintahnya pada seorang tangan kanannya yang menutup muka bagian bawahnya itu. Hingga hanya tampak rambut dan matanya saja.
"Baik!" tunduk pria itu. bergerak mengikuti Yo Il.
****
Devan dan Aliyah masih berlari menuju arah bukit. Dengan nafas terengah Aliyah berhenti.
"Apa kau sudah tidak kuat?" tanya Devan ikut berhenti.
"Tidak." Aliyah terenggah."Tapi kita masih harus berlari kan?"
"Diatas bukit!" ucap Devan. "Ada heli yang menunggu kita."
"Aku sangat lelah dan lemas."
Devan melihat sekeliling, dia juga cukup lelah tak mungkin untuk menggendong Aliyah sampai atas bukit. Tapi tak mungkin juga berlama-lama istirahat disana. Apalagi mereka juga sedang dalam pelarian.
"Istirahat lima menit. Oke?"
Aliyah mengangguk.
"Aku akan berjaga." ucap Devan berdiri diarah jalan yang baru saja mereka lewati.
"Devan,"
"Heemm" Dehem Devan dengan masih menjaga kewaspadaannya.
"Apa kah jalan keatas bukit masih lama?"
"Satu kilo meter lagi. Dan masih menaiki tebing."
"Aaahhh.... Pantas saja kamu melatihku menaiki tebing." ucap Aliyah lemas.
"Bagaimana jika, kamu tinggalkan aku saja."tanya Aliyah tiba-tiba. Dia tak ingin menjadi beban bagi suaminya itu.
Devan langsung mengerutkan dahinya. menatap Aliyah tak suka.
"Aku tau, kamu menjemputku untuk cip itu kan?"
Devan semakin mengernyitkan dahinya. Aliyah hendak melepaskan gelang ditangannya.
"Aku selama ini berpikir, kenapa kamu begitu berusaha dalam menjagaku. Semua semata bukan karena tanggung jawabmu padaku. Ataupun rasa bersalahmu padaku. Tapi karena ini bukan?"
Aliyah melepaskan gelang ditangannya. Gelang yang sejak awal ada disana sejak dia dibohongi masalah kehamilannya.
__ADS_1
Devan mendekat lalu merebut gelang itu. Dan memasangkan kembali ke tangan Aliyah.
"Tidak perduli karena ini atau bukan. Semuanya penting untukku." ucapnya.
"Tidak!" tolak Aliyah hendak melepas lagi gelangnya. Namun Devan menahan tangannya.
"Benda ini sudah berada ditangan yang tepat. Tidak perduli seberapa keras kamu menolaknya. Ini akan tetap berada disini."
"Aku hanya menjadi beban bagimu."
"Aku tidak keberatan berbagi beban."tegas Devan. "Tetap jaga ini bersamamu..."
PSSSUUUUUIIIITTT...
Suara tembakan dengan peredam. Devan menoleh dan memasang badan. Devan mengacungkan pistolnya ke arah dimana dia berlari tadi.
Tak lama muncul Yo Il beserta beberapa orang Han Yo Jo.
Dengan rasa sedih Aliyah menatap Yo Il.
Kenapa? Apakah kau benar-benar akan membunuhku sekarang? pikir Aliyah.
"Aliyah, bersiaplah menggunakan pistolmu!" lirih Devan masih berpusat pada musuh-musuh didepannya.
Aliyah mengangguk.
"Serahkan Cip itu." ucap Yo il.
Devan terkekeh.
"Aku... berterima kasih untuk semua kebaikanmu selama ini. Tapi, aku tak bisa menerima kebaikanmu lagi. Aku akan mempertahankan cip ini."sahut Aliyah sedih.
"Kalau begitu, bersiaplah untuk mati!"
Yo Il mulai menembak, namun tak satupun mengenai mereka. Devan menarik Aliyah untuk berlindung. Denngan bersembunyi dibaliik pohon. Sesekali Devan mengintip dan menembak balasan, dengan memeluk erat tubuh istrinya.
"Devan. Biar kan aku menembak juga." pinta Aliyah.
Devan tersenyum kecil lalu menautkan bibirnya, menyezap bibir manis dan lembut milik Aliyah. Selanjutnya. Devan kembali berfokus menembak musuhnya.
"Ayo bergerak." titah Devan membawa Aliyah ketempat yang lebih aman.
Devan berlari dengan menggadeng tangan aliyah. Yo il pun mwngwjar.
"Berhenti kau,Aliyah!"
Aliyah gugup dan langkahnya terseog-seog.
"Terus berlari."
"Devan! Aku sudah tidak kuat."
DESSSIIIINNNGG!!
Suara tembakan peluru yang keluar daei moncongnya. Menyerempet pada lengan Devan.
Uuuuggggghhhh..
__ADS_1
Darah segar keluar dan mengalir dadi lengan atasnya.
"Devan kau terluka." ucap Aliyah dengan masih berlari.
"Kita tidak bisa berhenti sekarang, Aliyah."
"Tapi..."
Aliyah menoleh dan melihat Yo il semakin dekat.
DOOORRR!!
Uuugghhh..
Kini bahu Devan yang tertembak.
"Tidak!" Aliyah menghentikan langkahnya melihat Devan sudah tampak lemah.
"Kenapa berhenti!?"
"Banyak sekali darahmu yang mengalir, Devan." tangis Aliyah.
"Ini tidak apa-apa."
Devan memegangi lengannya. Sedang Aliyah sudah menangis sesengukan.
Yo il tepag berada disana.
"Berikan cipnya.Aku akan membiarkan kalian pergi."
"Huuuuhh... Jangan mimpi." sahut Devan mencemooh.
Aliyah melepas gelangnya lalu melemparkan nya ke dekat Yo il.
"Biarkan kami pergi!" ucap Aliyah.
"Bodoh! Apa yang kau lakukan?" protes Devan tak percaya.
"Kita harus segera membawamu kedokter." tangis Aliyah.
"Hahaha....." tawa Yo jo terdengar jelas.
Devan menggeretakan giginya. Sedangkan Yo il mengernyit.
____€€€____
Reader kuuh , kira-kira siapa ya?
Kasih semangat donk, biar Othor up terus setiap hari.
like dan komen ya
Terima kasih.
Salam___
😊
__ADS_1