Belenggu Cinta Mafia

Belenggu Cinta Mafia
Ada yang datang


__ADS_3

"Sedang apa kau di sini, bukankah seharusnya keu berlatih dengan yang lain."


"Em... iya tadi aku mau ke toilet sebentar, ini juga sudah selesai dan mau kembali berlatih." elak Niko, meski gugup tapi Niko bisa bersikap biasa saja.


"Oh... segeralah bergabung dengan yang lain, ingat berlatih dengan sungguh-sungguh, anggota Dragon Black harus tak tertandingi." ucap Alex penuh penekanan.


๐˜š๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ช๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ญ๐˜ข๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜•๐˜ช๐˜ฌ๐˜ฐ, ๐˜ต๐˜ข๐˜ฑ๐˜ช ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ซ๐˜ถ๐˜จ๐˜ข ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฃ๐˜ฐ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฉ ๐˜จ๐˜ฆ๐˜จ๐˜ข๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฉ, ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ฎ ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ต๐˜ช ๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ข๐˜ต, ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฃ๐˜ฐ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฉ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ญ๐˜ช๐˜ฉ๐˜ข๐˜ต๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ค๐˜ถ๐˜ณ๐˜ช๐˜จ๐˜ข๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ด๐˜ช๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ฏ.


Sebelum pergi kembali berlatih, Niko meminta izin untuk pergi menemui keluarganya sebentar di caffe indah.


"Tuan, apa boleh setelah berlatih aku pergi sebentar, aku harus menemui adikku hari ini dia hendak membayar uang kuliah, aku harus memberinya uang. Hanya sebentar tuan?" ucap Niko meyakinkan, dengan mimik memelas.


Tentu itu semua adalah alasannya untuk bisa menemui sang bos dan melaporkan apa yang dia ketahui.


"Ya, baiklah. Kau boleh pergi tapi hanya tiga puluh menit waktu yang kamu punya di luar, setalah urusanmu selesai cepat kembali."


Alex berlalu pergi meninggalkan Niko.


๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜ถ๐˜ด ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ต๐˜ข๐˜ฑ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ธ๐˜ข๐˜ด๐˜ช ๐˜•๐˜ช๐˜ฌ๐˜ฐ, ๐˜จ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฌ-๐˜จ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฌ ๐˜•๐˜ช๐˜ฌ๐˜ฐ ๐˜ด๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ต ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ค๐˜ถ๐˜ณ๐˜ช๐˜จ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


Hari ini letha berencana ingin mengajak Keysa pergi berbelanja. Setelah beberapa minggu tidak bertemu, letha sangat merindukan adiknya itu.


"Kenapa nomor Keysa tidak aktif ya, kemana dia? sebaiknya aku cari saja ke rumah Nisa, dia kan sahabat baik Keysa pasti tahu tempat tinggal Keysa dimana."


Ingin tiba lebih cepat letha memilih untuk mengendarai mobilnya sendiri, tentu dengan sedikit cepat, tak sabar ingin menghabiskan waktu dengan Keysa.


"Hari ini aku libur, aku bisa bersenang-senang dengan Keysa." ucap letha dengan antusias.


Cithhh


Bugh


Letha menginjak rem dengan kekuatan penuh.


"Oh astaga! aku menabrak orang, apa dia baik-baik saja?" letha segera turun untuk melihat kondisi orang yang dia tabrak barusan.


"Maaf... maaf, aku tak sengaja!" letha mendekat berniat membantu untuk berdiri. Untung saja yang di tabrak tidak terluka parah hanya beberapa goresan di tangan.

__ADS_1


"Lain kali kalau nyetir hati-hati, kalau bukan aku, orang lain akan jadi korban kamu." ucap Zain. Orang yang Letha tabrak tak lain adalah Zain Miller.


"Kamu... bukankah kamu adalah pengawal di keluarga miller?" Letha ingat betul wajah Zain saat jadi pengawal di pesta waktu itu.


"Ya, itu dulu sekarang tak lagi, aku seorang montir." ucap Zain datar.


Zain bahkan tak tertarik melihat kecantikan letha yang terhidang di hadapannya, namun lain dengan letha, dia terpana dengan ketampanan seorang Zain.


"Sudah, aku tak apa, lain kali jangan di ulangi."


"Em...sebagai permintaan maaf ku, bagaimana kalau aku traktir makan, sepertinya di dekat sini ada caffe yang makanannya enak." letha berharap bisa mengenal pria itu lebih dekat, sungguh ketampanannya telah mengikatnya.


"Tak perlu, aku sudah terlambat!" jawab Zain masih datar, Zain membetulkan motornya sendiri dengan keahliannya, tak lama motornya pun bisa di gunakan kembali. Pikiran Zain pagi ini tertuju pada masakan Keysa hingga membuatnya tidak fokus pada jalanan yang dia lalui, hingga Zain tanpa sengaja berbelok dan menyebabkan kecelakaan kecil, untung jalan tersebut masih sepi kalau tidak, mungkin letha sudah di amuk masa.


"Setidaknya terima ajakan ku tidak kali ini lain kali pun tak apa." letha masih memaksa.


Zain tak ingin terjebak bersama letha terus menerus, akhirnya Zain mengangguk saja menyetujui ajakan letha. Itu Zain lakukan agar bisa segera pergi.


๐˜ˆ๐˜ด๐˜ต๐˜ข๐˜จ๐˜ข, ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข๐˜ต ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ต๐˜ถ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ฆ ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ฎ๐˜ช, ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ข ๐˜ต๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ญ๐˜ช. ๐˜ˆ๐˜ช๐˜ด๐˜ฉ, ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข, ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ถ ๐˜ฏ๐˜ฐ๐˜ฎ๐˜ฐ๐˜ณ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ง๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข, ๐˜ฃ๐˜ข๐˜จ๐˜ข๐˜ช๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ด๐˜ข ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ซ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฌ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ญ๐˜ช ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜จ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช. ๐˜๐˜ช๐˜ญ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฌ ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ด๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ต ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฑ๐˜ณ๐˜ช๐˜ข ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ.


"Tadi bukankah dia mengatakan bekerja sebagai seorang montir, itu artinya aku masih punya kesempatan untuk dekat dengannya dong." bak mendapat lotre, letha terus saja tersenyum sepanjang jalan menuju rumah Nisa.


๐ŸŒพ๐ŸŒพ๐ŸŒพ๐ŸŒพ๐ŸŒพ


"Sepertinya aku pernah melihat gadis itu, tapi dimana?" Zain mencoba mengingat-ingat kembali.


"Oh... Bukankah dia letha, putri sulungnya Dirga. Dunia ini terlalu sempit ya, sampai aku bisa mendapatkan mangsa tanpa berbuat terlalu banyak!" Zain bermonolog.


Sebuah senyum terbit di sudut bibir Zain, "Akan ku manfaatkan kamu letha, mungkin kamu tak memiliki masalah denganku, tapi semua orang yang berhubungan dengan Dirga harus merasakan penderitaan. Bahkan harus lebih sakit dari apa yang aku rasakan!"


Saat Zain masih memikirkan cara untuk membalas Dirga, sebuah pesan masuk ke handphone Zain.


"๐˜›๐˜ถ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ค๐˜ถ๐˜ณ๐˜ช๐˜จ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ณ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ด ๐˜ฌ๐˜ช๐˜ต๐˜ข, ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ช๐˜ญ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ช ๐˜ด๐˜ข๐˜ต๐˜ถ ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ค๐˜ถ๐˜ณ๐˜ช๐˜จ๐˜ข๐˜ช, ๐˜ต๐˜ข๐˜ฑ๐˜ช ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ด๐˜ช๐˜ฉ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ฎ ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ด๐˜ต๐˜ช, ๐˜ด๐˜ข๐˜ข๐˜ต ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ต๐˜ช๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ข๐˜ณ."


Zain cukup geram membaca pesan dari Alex, "Siapa orang yang berani bermain di belakangku?" tatapan penuh amarah terlihat di mata Zain. Dengan cepat Zian membalas pesan dari Alex, " ๐˜๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ต๐˜ช ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ด ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ข, ๐˜ฌ๐˜ช๐˜ต๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ข๐˜ณ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ด๐˜ถ๐˜ฌ ๐˜ฌ๐˜ฆ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ ๐˜ซ๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ช๐˜ต๐˜ข, ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ณ๐˜ฏ๐˜ข, ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ต๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ธ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ค๐˜ช๐˜ญ ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ฏ."


Alex pun membaca pesan dari Zain.


"Sesuai perintah tuan." dengan menyamar Alex mengikuti setiap pergerakan dari Niko, tentu tanpa sepengetahuannya.

__ADS_1


๐ŸŒพ๐ŸŒพ๐ŸŒพ๐ŸŒพ๐ŸŒพ


Di caffe sesuai janji Niko telah menunggu, lima menit kemudian datang seorang pemuda yang mengaku sebagai adik dari Niko.


"Hai kak, sorry lama nunggu." pemuda yang di ketahui namanya viko itu bersikap layaknya saudara Niko. Untuk tetap aman Niko juga membalas perlakuan tersebut.


"Ya, bagaimana kuliahnya? semuanya lancar?"


"Lancar kak, itu semua juga karena kakak!"


Pertemuan mereka terlihat tak ada yang mencurigakan, Alex yang mendengarkan melalui chip yang terpasang secara sembunyi di baju Niko pun kini cukup binggung, antara mencurigai dan percaya. Tapi instingnya mengatakan jika Niko tak seperti yang terlihat.


"Sepertinya tak ada cara lain selain ini." ucap Alex menyerigai.


Bos besar Niko tidak bodoh dengan langsung bertemu dengan Niko. Dia lebih memilih bermain di balik layar dan memantau pergerakan dari kejauhan.


"Kali ini aku yang akan menang Zain. Aku akan membalas semua yang kamu lakukan kepadaku." ucap Albert.


Albert juga sedang berada di caffe indah namun duduk di kursi paling ujung, suasana yang ramai membuat kehadirannya tak di ketahui oleh siapapun.


"Ayah... apa dia benar bisa kita andalkan?" tanya Dion yang juga menemani ayahnya makan di sana.


"Tentu, Niko yang terbaik dan dia yang paling setia, kenapa kamu berkata begitu, kamu tak yakin jika dia bisa di andalkan?"


"Ya, bisa saja dia berhianat."


"Tidak akan, semau keluarganya berada di bawah kendali ku, tenang saja semua berjalan sesuai keinginan kita."


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


Hari ini Keysa banyak bersantai, pekerjaan sudah selesai sedari tadi.


"Sepertinya aku bisa bermain piano lagi, kak Zain juga pulangnya pasti sore dan sekarang masih siang. Aku aman."


Tanpa membuang waktu, Keysa kembali bermain dengan sangat lihai, semakin hari kemampuannya bermain piano semakin meningkat.


Saat Keysa masih asik dengan pianonya, terdengar sebuah ketukan di pintu utama, yang artinya ada yang datang berkunjung.


"Siapa yang datang, bukankah kak Zain bilang jika dia tidak terlalu mengenal tetangga disini sebab masih baru, dan rumah kak Zain cukup jauh dengan rumah para tetangga, lalu siapa di luar?" Keysa berdiri meninggalkan pianonya, dia hendak membuka pintu dan melihat siapa yang datang.

__ADS_1


__ADS_2