Belenggu Cinta Mafia

Belenggu Cinta Mafia
Sesuai dengan rencana


__ADS_3

Hari ini adalah hari pertama Keysa mulai bekerja lagi di restoran milik Dion.


"Apa aku sudah terlihat cantik? ini hari pertama ku bekerja, aku harus memberikan yang terbaik. Selagi kak Zain mengizinkan aku akan mengunakan kesempatan ini dengan baik." ucap Keysa yang masih berdiri di depan cermin, memperhatikan penampilannya apakah wajah cantik nan pucat itu sudah tersamarkan oleh make up yang keysa pakai.


"Perfect!!" ucap Keysa dengan senyum manisnya.


Di meja makan sudah ada Zain yang sudah makan lebih dulu tanpa menunggu Keysa ikut bergabung. Seperti biasa Zain akan pergi ke bengkel bekerja dari pagi sampai sore. Terkadang Zain pun tak pulang entah bekerja ataupun pulang ke rumah utama Keysa pun tak tahu. Meski begitu Keysa tetap menunggu kepulangan Zain, tentu dengan senyum dan harapan bahwa Zain akan melihat perhatian yang Keysa tunjukkan.


Memang apa salahnya merayu suami sendiri, bukankah itu juga kewajiban istri?


Keysa turun dengan penampilan sederhana namun terlihat cantik. Wajah pucat Keysa benar-benar tertutupi oleh make up.


Andai Keysa tidak memiliki penyakit kecantikan Keysa pasti akan berlipat-lipat cantiknya.


Zain yang hendak bangun dari meja makan seakan mematung melihat istri yang dia anggap sebagai alat balas dendam terlihat berbeda kali ini. Jelas berbeda selama ini Keysa tak pernah berdandan jika di rumah, berdandan pun jika Zain ada di rumah namun sayang meski di rumah Zain bahkan tak meliriknya dan hari ini Keysa akan bekerja di luar rumah tentu penampilan sangat di perhatikan di luar sana.


"Kamu sudah mendapatkan pekerjaan?"


"Iya kak, aku bekerja di tempat aku bekerja dulu, oh ya kak... apa aku boleh bekerja dari pagi sampai sore seperti kak Zain, itu pun jika kak Zain mengizinkan?" untuk pertama kalinya Keysa berani menatap mata indah suaminya cukup lama, berani mengatakan keinginan yang ada di hatinya.


๐˜š๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฐ๐˜จ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ก๐˜ข๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ช๐˜ป๐˜ช๐˜ฏ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ, ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ด๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ต ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฉ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ซ๐˜ข๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช ๐˜›๐˜ถ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฏ.


"Aku janji tak akan membuat kesalahan kak, semua pekerjaan rumah yang kak Zain berikan akan aku lakukan sebelum aku berangkat bekerja, please kak, aku mohon!" pinta Keysa dengan memelas.

__ADS_1


๐˜Ž๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช๐˜ด ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช ๐˜ด๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ต ๐˜ญ๐˜ช๐˜ค๐˜ช๐˜ฌ, ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ข ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ต๐˜ช ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ด๐˜ข๐˜ฏ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ฉ๐˜ช ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ต๐˜ข๐˜ฑ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ. ๐˜—๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ต๐˜ถ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ต๐˜ข๐˜ฑ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ต๐˜ถ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ, ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฑ๐˜ช๐˜ฐ๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜ถ๐˜ด๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ซ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ด๐˜ถ๐˜ข๐˜ช ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฉ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฌ๐˜ถ, ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ด๐˜ถ๐˜ข๐˜ช ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฉ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ณ๐˜ช.


Zain menatap Keysa dengan tatapan yang dingin, bagai belati yang siap menghujam lawannya, itu yang saat ini Keysa rasakan. Seketika nyali Keysa menciut, tak lagi mengutarakan keinginan yang dia pendam meski sebenarnya masih banyak yang ingin Keysa minta, tapi sepertinya semua itu hanya tinggal harapan. Kak Zain pastilah tak ingin mengabulkan permintaan Keysa. Memang siapa Keysa bagi kak Zain, dia tak lebih hanya sekedar pion yang di jadikan pijakan untuk menyakiti musuhnya. Status Keysa hanya sekedar istri rahasia yang di jadikan pembantu di rumah suaminya sendiri.


"Yakin kamu bisa menyelesaikan tugas rumah sebelum bekerja? jika sampai kamu melalaikan tugasmu di rumah sebagai istri, kamu tahu sendiri kan apa akibatnya."


Secara tidak langsung kak Zain telah memberikan izin meski dengan tatapan meremehkan.


Dengan cepat Keysa mengangguk tanda mengerti, Keysa tak akan melewatkan kesempatan yang di berikan oleh Kak Zain kali ini.


"Yakin kak! kak Zain bisa pegang ucapanku aku tak akan lalai kak."


๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ฉ๐˜ช๐˜ณ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ด๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ซ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ด. ๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ซ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ช๐˜ฌ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ถ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฌ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ช ๐˜ฐ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ต ๐˜ฌ๐˜ถ, ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ต ๐˜’๐˜ฆ๐˜บ๐˜ด๐˜ข!!๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ด๐˜ต๐˜ช ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ด๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ข๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฏ. ๐˜‹๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ต๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ก๐˜ข๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ซ๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ด๐˜ข ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ณ ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ซ๐˜ข๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ฏ.


Keysa senang meski harus menunggu setidaknya dia akan memiliki sedikit uang untuk menebus obat yang dia butuhkan. Sementara ini Keysa harus bertahan dengan keadaannya sekarang. Meski Keysa terlihat pucat, tapi semangat untuk bekerja demi mendapatkan uang yang nantinya akan dia gunakan untuk membeli obat untuk penyakitnya memberinya kekuatan. Impian memulai keluarga bahagia masih melekat di pikirannya, ya, meski sikap Kak Zain masih sangat kasar tapi Keysa percaya jika hatinya bisa berubah. Seiring waktu kak Zain pasti akan bisa menerimanya sebagai istri sesungguhnya. Dan Keysa meyakini itu.


๐ŸŒพ๐ŸŒพ๐ŸŒพ๐ŸŒพ๐ŸŒพ


Ruangan tertutup yang hanya di ketahui oleh Zain, daddy Brian dan Alex itu tak pernah di buka. Hanya pada saat akan ada perang atau pun pembahasan strategi, baru Zain maupun daddy Brian dan Alex akan menggunakan ruangan itu.


"Kau sudah menemukan celah, apa dia memang orangnya?"


Alex menggeleng, "Tak ada yang aneh, hanya saja bahasa yang dia gunakan seperti bahasa isyarat!"

__ADS_1


Zain tersenyum, nyatanya Zain sudah menangkap sesuatu dari apa yang di ceritakan oleh Alex.


"Kita akan mulia rencana kita, jika Niko bisa melewati ujian ini dia aman dan jika dia menyimpang maka....!" Zain tersenyum smirk, tatapan mengerikan terlihat jelas di wajah tampannya.


"Tuan yakin akan melakukan ini?" tanya Alex memastikan jika apa yang akan di lakukan Zain tak akan membahayakannya.


"Lakukan saja sesuai perintah ku, aku ingin Niko masuk perangkap ku, soal aku, tak ada yang bisa menyakitiku bahkan senjata musuhku tak ada yang bisa menyentuhku." ucap Zain penuh dengan keyakinan.


Zain paling tak suka dengan penghianatan, jika ada yang berkhianat maka dia akan mengetahuinya dengan mudah, namun sepertinya kali ini penghianat itu cukup licik hingga kebusukannya masih tersimpan rapat hingga kini.


"Baik tuan, sesuai dengan keinginan tuan!" Alex lekas pergi mengatur semua rencana agar terlihat natural.


Rencananya Zain sendiri akan menjadikan dirinya umpan untuk menguji kesetiaan Niko. Mengenai hasil, Zain berharap dugaannya salah.


Memang Niko baru menjadi anggota Dragon Black, namun rasa kepedulian terhadap sesama anggota sangatlah kuat, bahkan melebihi saudara kandung. Mereka sangatlah menjaga hubungan, baik itu di dalam maupun di luar markas Dragon Black.


๐ŸŒพ๐ŸŒพ๐ŸŒพ๐ŸŒพ๐ŸŒพ


Zain saat ini sudah berada di jalanan yang cukup sepi hanya bersama dengan Niko. Sesuai dengan rencana. Zain mengajak Niko pergi dengan alasan akan mengajaknya ke markas Dragon Black yang berada di tengah hutan, tampan penyimpanan senjata sesuai dengan perintah daddy Brian.


Zain akan menggunakan dirinya sendiri sebagai umpan apakah Niko benar-benar dapat di percaya ataukah akan berkhianat dengan menggunakan kesempatan ini untuk membunuh Zain. Namun menumbangkan Zain bukanlah hal mudah, pemuda yang sangat mahir mengunakan berbagai senjata terutama benda yang runcing dan tajam itu tak pernah terkalahkan. Nasib baik pun tak pernah meninggalkannya.


Tak ada pengawal yang mendampingi mereka, Zain benar-benar hanya berdua dengan Niko. Niko pun tak tahu apa rencana dari pimpinannya ini, yang jelas saat ini Niko hanya mengikuti saja.

__ADS_1


Sebelumnya Bos besar Niko yaitu Albert dan Viktor telah memutuskan bahwa tak akan menyerang Zain di luar rencana mereka meskipun ada kesempatan.


Mobil Zain tiba-tiba saja berhenti, semua itu bukan kebetulan namun memang Zain sengaja menghentikan, mobilnya dan mengatakan jika mobil miliknya itu mogok. Tempat mereka berada sekarang adalah di tengah-tengah hutan yang tak mungkin kendaraan berlalu lalang, sebab jalan itu hanya di ketahui oleh beberapa anak Buah Dragon Black saja.


__ADS_2