Belenggu Cinta Mafia

Belenggu Cinta Mafia
Pulang


__ADS_3

Zain Atharrayhan / Zain miller





Keysa Anderson




Letha Anderson



Nisa Atmaja (sahabat Keysa)



Alex Andriano (bawahan Zain yang paling setia)



Andra Castano(bawahan daddy Brian /Zain)



Jeff Dikson(bawahan Daddy Brian/zain)



Smith Bilion (Bawahan Daddy Brian/Zain)



Kalau nggak suka bisa di ganti sesuai dengan keinginan kalian ya.... see you๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜


๐™†๐™š๐™ข๐™—๐™–๐™ก๐™ž ๐™ ๐™š ๐™˜๐™š๐™ง๐™ž๐™ฉ๐™–


Zain kini telah tiba di indonesia, tak ada penyambutan berlebihan di bandara semua mengalir sesuai dengan keinginan Zain.


"Kita langsung pulang, aku ingin menemui Daddy and mommy."


"Baik tuan." ucap sopir pribadi yang menjemput mereka berlima.


Tak membutuhkan waktu lama, Zain kini telah sampai di kediaman Miller.


Mommy Maya, daddy Brian sudah menunggu kedatangan putranya di depan pintu masuk setelah sebelumnya mendapat informasi dari Andra mengenai kepulangan Zain.


"Selamat datang putraku!!"


Zain menghampiri mommy dan daddy nya dengan senyum mengembang, Zain tak mau memperlihatkan kegelisahan yang di alami pada orang tuanya, saat ini cukup Zain saja yang mengetahuinya.


"Mommy, Daddy...." mereka berpelukan melepas rindu.


"Mommy senang kamu pulang dengan selamat, mommy sempat takut saat mengetahui kamu melakukan tindakan yang cukup berbahaya, jangan kamu ulangi lagi Zain, itu terlalu berbahaya meskipun mommy tahu jika kamu mampu melawan musuh mu sendiri tetap saja mommy khawatir Zain." cerca mommy Maya.

__ADS_1


"Iya mom, maafkan Zain, sekarang tersenyum mommy lebih cantik jika tersenyum."


mommy Maya menepuk pundak Zain, "Kamu selalu bisa merubah mood mommy kalau sedang marah Zain."


"Kita masuk atau mau tetap di sini?" Daddy Brian kini angkat bicara.


"Bos kami ingin izin undur diri, tugas kami sudah selesai." ucap Andra mewakili keempat rekannya.


"Kalian jangan pulang, ayok ikut makan disini." ajak Mommy Maya.


"Tak perlu nyonya, kami istirahat di apartemen saja, saya yakin nyonya juga butuh waktu bersama keluarga."


"Baiklah, terimakasih sudah menjaga Zian kalian melakukan tugas dengan sangat baik."


"Itu sudah menjadi tugas kami, jika perlu nyawa kami pun akan kami serahkan untuk menjaga tuan muda." ucap Alex penuh keyakinan. Setelah berpamitan ke empat pemuda tersebut undur diri dari kediaman Miller.


"Ayo masuk, mommy sudah siapkan makanan kesukaanmu, kamu pasti belum makan kan, pasti disana kamu nggak makan teratur, Kamu terlihat lebih kurus Zain."


"Zain makan mom, ya memang tidak selalu tepat waktu tapi Zain nggak lupain pesan mommy kok, sekarang Zain mau habisin makanan kesukaan Zain." Zain berharap mommy nya berhati sejenak untuk mempertanyakan kondisinya selama di Dubai dan membiarkannya menikmati setiap suap makanan kesukaannya itu.


"Mommy gimana mau percaya, lihat badan kamu baru beberapa hari sudah berkurang, pasti ngak ikut apa kata mommy disana." Mommy Maya masih bertahan dengan Argumennya.


"Daddy...."


"Mi, biarkan putra kita menikmati makanannya, kalau di tanya terus Zain ngak jadi makan." Daddy Brian memberikan pembelaan, sesuai dengan kode Zain.


"Iya, iya, mommy kan hanya bertanya, sekarang makanlah tak ada yang menganggumu, nikmatilah sepuas mu, mommy menyiapkan makanan ini khusus untuk mu." Mommy Maya akhirnya menyerah juga setelah daddy Brian ikut bicara, sebab perkataan daddy Brian tak bisa di bantah.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


Keysa memiliki rencana ingin kembali ke bengkel bersama Nisa, hari ini mobil Nisa sudah bisa di ambil setelah mendapat telfon dari pihak bengkel.


"Ini taksi pada kenapa, masa dari tadi aku usaha tapi nggak ada hasilnya, kalau begini bisa telat aku ketemu sama Pangeran Zain." Keysa Menyala keringat yang membasahi pelipisnya karena cuaca yang cukup terik.


"Pak, taksi..." lagi-lagi taksi tak mau berhenti.


"Fiks..., hari ini aku sial, kenapa ngak ada yang berhenti coba, mana handphone aku ketinggalan lagi kalau puter balik, jalannya jauh yang ada aku nggak berangkat-berangkat ini." gerutu Keysa.


Sebuah mobil BMW berhenti tepat di depan tempat Keysa berdiri, kaca mobil tersebut perlahan turun, menampakkan seorang pria sepantaran dengan Keysa. "Hai... Keysa, mau kemana?"


"Mau ke rumah Nisa." jawab Keysa singkat.


"Mau aku antar, sepertinya kita searah, daripada kamu nunggu lama di sini."


๐˜ˆ๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฎ๐˜ข ๐˜ด๐˜ข๐˜ซ๐˜ข ๐˜บ๐˜ข, ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ฏ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ถ ๐˜ต๐˜ข๐˜ฌ๐˜ด๐˜ช ๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฉ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ช, ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ช๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜‹๐˜ช๐˜ฐ๐˜ฏ ๐˜ซ๐˜ถ๐˜จ๐˜ข ๐˜ต๐˜ถ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ด ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ต๐˜ถ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข.


"Ayo masuk."


Keysa akhirnya memilih ikut dengan Dion, jarak antara kontrakan keysa dengan rumah Nisa sekitar tiga puluh menit. Selama perjalanan itu Keysa hanya menjawab seadanya jika Dion bertanya, yang di pikirkan Keysa saat ini adalah cepat sampai ke rumah Nisa dan pergi ke bengkel bertemu pangeran Zain.


Dion sendiri memaklumi sikap Keysa, terlebih Dion sudah di beritahu oleh Dirga, ayah Keysa, mengenai watak putrinya itu.


๐˜š๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ช ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช ๐˜ซ๐˜ถ๐˜ด๐˜ต๐˜ณ๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ข๐˜ต๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ช๐˜ญ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ช๐˜ฎ๐˜ถ, ๐˜’๐˜ฆ๐˜บ๐˜ด๐˜ข, ๐˜ญ๐˜ช๐˜ฉ๐˜ข๐˜ต ๐˜ด๐˜ข๐˜ซ๐˜ข ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ด๐˜ต๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ฎ๐˜ช๐˜ญ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ, ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ฌ ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ต๐˜ถ๐˜ต ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ค๐˜ช๐˜ฏ๐˜ต๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ.


Brak


Keysa keluar dari mobil Dion, "Terimakasih sudah memberikan tumpangan." ucap Keysa yang segera masuk ke kediaman Atmaja menemui Nisa tanpa menunggu jawaban dari Dion.


"Tadi kamu di antar siapa?" tanya Nisa saat mereka sudah di dalam perjalanan ke bengkel.

__ADS_1


"Dion, tadi kebetulan dia nawarin tumpangan, berhubung nggak ada taksi yang berhenti ya aku terima." jelas Keysa apa adanya.


"Boleh juga tuh Dion, baru kenalan udah ngasih tumpangan, mungkin Dion nya suka sama kamu."


"Suka? tapi aku nggak suka sama Dion, di hati dan jiwa aku cuma ada pangeran Zain seorang!" Keysa kekeh pada pendiriannya.


"Emang Zain nya suka sama kamu, kan kita nggak tahu hati orang."


"Suka nggak suka, akan ku buat dia suka sama aku, kita lihat saja nanti, siapa juga yang bisa nolak pesona dari Keysa Anderson."


"Hahaha... iya...iya aku percaya." kedua nya tertawa kecil, candaan menemani mereka hingga sampai ke bengkel.


"Mobilnya sudah bisa di ambil kak?" Nisa menghampiri Karyawan bengkel yang sedang fokus bekerja.


"Oh, mbak Nisa ya!"


"Ya, aku mau ambil mobil, katanya sudah di perbaiki."


"Sudah mbak sebentar ya aku ambilkan kuncinya." Karyawan bengkel berlalu dari tempat Nisa dan Keysa.


"Nisa, ini pangeran Zain kayaknya beneran di skors deh, aku cari dari tadi nggak kelihatan batang hidungnya."


"Entar kita tanya sama karyawan bengkelnya, udah jangan gitu ah, tengok sana tengok sini kayak orang mau maling aja." lama-lama Nisa juga Kesal melihat tingkah absurd Keysa.


"Ini mbak kuncinya." karyawan bengkel menyerahkan kunci mobil pada Nisa.


"Oh ya mas, karyawan yang bernama Zain kapan balik bekerjanya lagi?" Keysa langsung mengeluarkan pertanyaan yang menganjal di hatinya.


"Zain, mungkin tiga hari lagi, memang ada apa dengan Zain?" tanya karyawan bengkel yang belum mengetahui kejadian kemarin.


"Kalian..." seru Doni dari balik mobil yang baru saja selesai dia perbaiki.


"Eh, Kak Doni, ini mau ambil mobil sekalian mau tanyain kak Zain nya ada apa nggak soalnya dicariin sama Keysa." jawab Nisa enteng tanpa melihat muka Keysa yang sudah berubah memerah.


"Zain, kan masih menjalankan hukuman, sabar aja tiga hari lagi juga masuk."


"Kak Doni tau alamatnya kak Zain nggak?" Keysa masih belum menyerah untuk mendapatkan informasi mengenai Zain.


"Sayangnya nggak ada yang tahu dimana rumahnya, aku aja yang sudah seperti sahabat dekat aja nggak tahu dimana rumahnya." jelas Doni.


"Aneh ya, yasudah lah nanti kalau sudah masuk kerja kak Doni bisa kabari kita ya, bukan apa aku cuma mau ucapin terimakasih secara langsung pada orangnya." Keysa memberikan secarik kertas berisi nomor telfon miliknya.


"Iya nanti aku kabari." Doni menerima kertas tersebut.


๐ŸŒพ๐ŸŒพ๐ŸŒพ๐ŸŒพ๐ŸŒพ


Zain sedang berada di kamar miliknya, duduk di samping jendela dengan pandangan liris ke depan, namun pikirannya tidak berada di tempat.


Tok


Tok


"Masuk...." jawab Zain tanpa merubah posisinya.


"Zain, daddy mau bicara sama kamu."


"Ini bukan soal daddy tapi kamu!"


๐˜ˆ๐˜ฑ๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ฅ๐˜บ ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ค๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ, ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ฅ๐˜บ ๐˜ต๐˜ข๐˜ฉ๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ช ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฑ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ช๐˜ณ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ? ๐˜ต๐˜ข๐˜ฑ๐˜ช ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏa ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ฅ๐˜บ ๐˜ต๐˜ข๐˜ฉ๐˜ถ. Zain mengerutkan keningnya, menatap daddy Brian lekat, kemudian membuang pandangan ke luar jendela.

__ADS_1


__ADS_2