
“Siang, buk...?”
Pak Hendro menghampiri dua bidadari yang sedang asyik berbincang, lalu tampak ketiganya terlibat perbincangan seru, buk Selly yang baru keluar dari kelas sebelah ikut bergabung.
Why? Mengapa rasanya aku cemburu. Bibi tidak pernah terlihat bahagia bersamaku, bahkan saat terlibat perbincangan denganku, bibi terkesan menghindar.
Semenjak aku masuk SMA, bibi seperti menjaga jarak denganku, berbeda dengan saat aku masih SD, SMP dulu, setiap pagi siang sore malam, bibi selalu mencium keningnya sebagai salam perpisahan selamat tidur. Rasanya masih bisa kurasakan sisa kenikmatan dan hangatnya ciuman itu.
“Bi?” Abimanyu mengambil inisiatif menghampiri Gita. Wanita cantik yang di panggil Gita oleh Abimanyu menoleh.
"Iya ada apa Abimanyu?”
Raut gelisah remaja ini memang tidak bisa disembunyikan.
“Mau pulang sekarang atau nanti?”
Gita memperhatikan Abimanyu sejenak, dia terdiam seperti meneliti sesuatu.
“Sepertinya Bibi pulang Sore, pulanglah duluan. Makan Siang dan kebutuhan kamu semua sudah kusiapkan, kamu tinggal hangatkan makanannya.” Rasanya ada tidak terima dengan jawaban Gita, namun apa daya
dia tidak akan bisa berkutik didepan wajah malaikat itu. Hempasan nafasnya pun pasrah.
Duduk sendiri di rumah membuat Abimanyu bosan. Tiba-tiba terbersit sesuatu di kepalanya.
Mengapa tidak mencuri informasi saja, siapa tau ada informasi tentang siapa aku...
__ADS_1
Otak kecil Abimanyu mengingat sebuah buku tebal yang selalu di baca Gita.
Aku akan menjadi pencuri...
Remaja itu mulai mengamati kamar Gita, Pintu kamar terkunci rapat, tapi itu bukan masalah buat remaja ini, dengan sedikit keahliannya mudah baginya membuka pintu yang terbuat dari papan itu.
Sejak duduk di bangku SMA Gita seolah memotong semua akses Abimanyu untuk masuk ke wilayah pribadinya. Bahkan kamarnya yang dulu begitu mudah dimasuki kini seperti kotak rahasia yang menyimpan hal magic.
Kamar Gita sangat rapih, ada tiga gelas cantik bertuliskan nama Marsel Sagitarius dan Anggun tersusun didalam lemari kaca.
"Siapa?''
Abimanyu terus beraksi, membuka semua tempat dengan hati-hati, sesekali ia melongok keluar jendela, dari balik celah ia bisa memastikan aman.
Buku setebal lima inci yang sering dibaca Gita, duduk nyaman disudut rak yang sedikit tersembunyi. Buku yang selalu menemani Gita mengisi waktu luangnya sangat menarik perhatian pemuda ini.
Di sudut ruangan, Abimanyu duduk dengan kaki lurus, matanya terus mengikuti setiap aksara.
Menikmati kisah pilu seorang yang sangat ia cintai secara diam-diam.
My diary...
Aku seorang Sagitarius, hidup dengan limpahan harta dan kasih sayang orang tua, anak tunggal seorang pengusaha sukses di bidang promosi elektronik. Tapi, nasibku tak sebaik takdirku...
Tuhan...
__ADS_1
Suara sepeda ontel terparkir di halaman rumah. Abimanyu segera meninggalkan kamar Gita. Sekali lagi ia menghirup harum kamar itu, memuaskan hati dan rasa ingin memiliki pemiliknya yang tak tersampaikan.
Abimanyu keluar dengan cara melompat jendela, lalu masuk kembali ke kamarnya dengan melewati jendela kamarnya.
Aaaaaahh "lega," ini benar-benar membuat ia kesal, karena berulang kali ia harus basah oleh fantasi gilanya.
“Abimanyu, kamu belum makan ya...!’’
Oh, iya lupa, dengan bergegas remaja yang tadinya ingin berpura-pura tidur itu bangkit.
Sekilas ia melihat bias wajah murung menutupi wajah bidadarinya, ingin bertanya namun ia urungkan.
“Non, ini taruh sini ya...?”seseorang wanita paruh baya kira-kira usia tiga puluh lima masuk dengan membawa kardus cukup besar.
Dengan sopan, ibu muda itu meletakkan semua barang.
“Non, saya bereskan gudang ya...” seorang lelaki muda pun muncul di pintu masuk.
Abimanyu menatap wajah kedua orang itu bergantian lalu melihat Gita yang tersenyum pada mereka dan mengangguk pelan, sepertinya sudah sangat akrab.
“Abimanyu paman dan Bibi itu namanya yoga, suami istri, mereka akan tinggal di sini membantu kamu selama Bibi pergi.” Segelas air di tuangkan oleh Gita, menemani sarapan pagi Abimanyu.
“ Maksudnya?”
Gita menghampiri Abimanyu, dia berdiri begitu dekat.
__ADS_1
"Bibi akan meninggalkan kamu sementara waktu. Jadilah anak yang baik," Jari telunjuk Gita menyentuh ujung rambut Abimanyu yang sudah tergerai melewati telinga.
"Abimanyu."