
Abimanyu tidak habis pikir, mengapa Gita tidak menghubungi dirinya. Bahkan dia sendiri sudah menghabiskan memori handphonenya hanya untuk menciptakan obrolan panjang. Pagi siang malam bahkan tengah malam Abimanyu selalu mengirim kabar dan pertanyaan yang sama."Bibi di mana? kapan pulang? bagaimana kabarnya? sehatkah?" sepanjang itu Abimanyu mengirimkan Khabar melalui segala tempat, SMS, telpon seluler, mesenger, email namun semua nihil jangankan jawaban di lihat pun tidak, handphone bibinya sepertinya mati.
Hari Sabtu, sempat terpikir oleh Abimanyu untuk menyusul Gita. 'Aku bisa minta alamat bibi Gita dengan my dearling.'
Mengingat kekasih hatinya Mardalena.
"Tapi...." mengingat kejadian siang kemarin.
'Dia masih marah, sepertinya.' Abimanyu menelah ludahnya.
Masih tersisa desiran dalam hati saat-saat dirinya mulai menyentuh bagian-bagian tubuh Mardalena.
Aaaaaahh! Abimanyu menjambak rambutnya dengan kasar, kesal dengan kecerobohan diri sendiri.
''bisa-bisanya aku menyentuh guruku! bodoh! bodoh!.." pekiknya berbicara sendiri.
Bola matanya berputar-putar, menetralkan rasa nikmat yang masih terkenang.
Huuuuuuuufffg
Abimanyu menghempaskan nafasnya teramat berat. Kerinduan yang mendalam tidak lagi bisa di kuasainya.
"Tidak! Jika aku menyusul bibi, dia bisa marah."
'Iya, kalau marahnya teriak, kalau marahnya diam, kan eror 404, Mbah Google pun angkat tangan'
“Ada apa?” tanya Reno, mengagetkan Abimanyu. Sahabat Abimanyu satu ini meskipun mengesalkan tapi sangat setia. Reno duduk menjajari Abimanyu yang terlihat kusut dia hanya mendesah menangapi kegelisahan Abimanyu.
“Ada apa, kamu terlihat tidak baik-baik beberapa hari ini?”
“Entahlah , seperginya bibi aku jadi nggak karuan, seperti kesemutan seluruh badan,”
“Oh, jadi ini ceritanya, kamu sudah kena penyakit cinta, bro!”
“Gundolmu! dia dan aku bibi ponakan!”
“Cinta sedarah.”
__ADS_1
"Palanlo peang!"
Abimanyu menatap wajah bersih Reno,
“Ren, Lo pernah merasa seperti ini nggak sih?”
Reno mengangguk, wajahnya yang tampan bak artis Korea, sangat bersinar di antara yang lain, tidak heran jika dia menjadi super start.
“Ren, Lo tuh kan ganteng, cakep, Keren, tajir...”
“ Terus...?”
“ Kok Lo Jomlo!”
“Faktor genetik! Jomblo terlalu nikmat untuk diakhiri, bisa hinggap ke manapun tanpa ada yang menghalangi, dari pada Lo... punya pacar awet sampai lima tahun, eh... hamil sama orang! Sakit nggak!”
“Bijik lo! Kurang ajar! Emang dia hamil sama siapa! Sok tau.” Gerutu Abimanyu kesal dia pura-pura tidak tahu keadaan Dhea. Reno menggelengkan kepalanya.
CK ck ck ck
Gantian Abimanyu menggelengkan kepala karena dia heran bagaimana mungkin Reno bisa lebih tau dari dirinya.
Reno ternyata sangat aktif, kepo tentang hubungan Abimanyu dan banyak wanita.
"Ternyata aku malah ketinggalan informasi,'' Sebenarnya Abimanyu hanya pura-pura tidak tau apapun.
“Nggak tau ya?” tanya Abimanyu lagi pada Reno.
Reno mengusap wajahnya yang tampan, dan sedikit mengeluarkan aura tengilnya.
“Ku pikir Lo galau karena tau berita itu,” katanya kemudian sambil meledek Abimanyu.
“Ada beberapa kejadian yang heboh dan aku melewatkannya, emang apa beritanya?”
Kali ini Abimanyu sedikit memaksa rasa penasarannya dengan teman-temannya sendari yang selalu saja update dengan acara TV umum di sekolah mereka.
“Dhea, hamil.” Katanya kemudian.
__ADS_1
“Sama?”
“Aldi, kakak kelas mantan ketua OSIS tahun kemarin.”
“Oh,”
“Oh doang”
“Lalu, maunya Lo, gue nagis.” Abimanyu memukul kepala Reno dengan tasnya, dan beranjak berdiri menuju kelas.
Hari-hari Abimanyu terasa hampa tanpa Gita, dia tidak sempat memikirkan bagaimana keadaan Dhea. Isi kepalanya terlalu penuh tidak ada lagi tempat untuk wanita lain selain sagittarius.
“Lo, tidak sedikitpun sedih dengan kejadian yang menimpa Dhea, atau sekedar bertanya bagaimana Kabar Dhea sekarang?”
Abimanyu melipat Kedua tangannya di depan dada, pandangannya mengarah pada sosok pemuda yang sedang berdiri di hadapannya saat ini, ia menghentikan langkahnya menatap wajah Reno, tiba-tiba....
“Renoooo... Huwaaaa....! hwaaaa!....hu...hu...hwaaaa!” mata Abimanyu yang rasanya memang sudah panas menahan rindu pada Gita menjadi sasaran empuk untuk luapan emosi, Abimanyu menagis meraung-raung seperti bocah TK yang tidak ingin di tinggalkan ibunya.
Reno yang kebingungan mendiamkan Abimanyu, hanya bisa memandangi sahabatnya tanpa ekspresi.
Cletak!
benda keras menghantam kepala Abimanyu, membuat berhenti dari pura-pura menangisnya dia menoleh dengan spontan, melihat siapa...
“Ibuuuu...huuu huuuu...ibuuu...hwaaaa!...” ketika dilihatnya siapa yang datang, kembali Abimanyu menagis dia mengembangkan tangan seolah hendak memeluk guru matematikanya Mardalena.
“Maju lagi tak gebuk kamu!”
“Sadis!” Abimanyu yang masih berurai air mata langsung merenggut, wajahnya berubah menjadi kelinci yang teramat imut. Kemudian ia tertawa lepas, menyeka air mata dan langsung ikut masuk ke dalam kelas.
Reno bengong heran dan bingung, melihat Abimanyu yang ternyata menangis pura-pura.
“Pura-pura tapi kok keluar air mata.” Katanya.
Reno memandangi Abimanyu dengan sepasang mata cute, melebar kesamping dan ke atas ke kiri ke kanan dengan wajah skeptis.
__ADS_1