
Marsel pergi entah ke mana tidak ada Khabar.
Sejak hari pertengkaran kami hati itu Marsel menghilang.
Satu Minggu sudah dari kejadian itu, Marsel tidak menemui aku juga tidak mengirimkan Khabar.
Aku sangat sedih, seharusnya atau setidaknya, Marsel tidak meninggalkan aku begitu saja.
Siang malam aku menunggunya seperti malam menunggu pagi atau matahari menanti malam. Marselku tidak datang.
Siang, di hari Senin. Mataku menyapu area kampus dimana Marsel menimba ilmu.
“Kak, jurusan manajemen informatika di mana ya?” tanyaku pada seorang mahasiswa yang melewatiku, kami terlibat perbincangan ringan sebentar.
Aku akan bersujud pada Marsel, untuk minta maaf.
“Kak, kenal kak Marsel?” seorang wanita dengan wajah ayu melihat aku dengan curiga “Nggak ada yang namanya Marsel di sini.”
Kukernyitkan keningku, “Ah, masak.”
Rasanya aku sudah putus asal, mencari Marsel ke semua tempat yang biasa dia kunjungi, bahkan tempat di mana kami selalu menghabiskan waktu bersama, Marsel tidak ada di sana. Marsel menghilang tanpa berjejak.
"Marsel maafkan aku."
Dengan wajah lesu aku pulang. Kehilangan Marsel adalah masa terberatku.
''Tidak bisakah, kita melupakan yang terjadi kemarin, Marsel.''
Malam ini hujan deras mengguyur kota Jogja, aku kedinginan didalam kamar, meratapi nasibku, "inikah rasanya kehilangan.''
__ADS_1
Tetesan air hujan seakan menjadi petaka bagiku malam ini. Setiap ketukan yang jatuh menimpa kaca jendela kamar membawa bayangan Marsel. Percikan air laksana jarum menusuk hatiku berkali-kali lipat sakitnya.
"Mama,"
Mama masuk memperhatikan wajahku yang kuyu. Melihatku yang sedang di landa kesedihan mama tidak kalah sedihnya.
“Ada apa?”
“Marsel meninggalkan aku, ma,”
“Gita, kadang kala, kehidupan selalu seperti itu, pertemuan dan perpisahan menjadi keindahan tersembunyi yang tidak pernah manusia perkirakan, tapi, jadikan itu sebagai patokan kehidupan kamu, bahwa akan selalu ada kejutan istimewa dari Tuhan untuk siapa pun yang mampu menghadapi setiap cobaan dari-Nya dengan baik.”
Aku memeluk mama “ mama,” Suara Guntur menggelegar seolah membelah bumi, seperti jiwaku yang sedang melayang melepaskan ragaku tinggal kenangan.
“Tidak ma! aku tidak ingin kehilangan Marsel, ma!”
“Berdoa lah, semoga Marsel kembali. Kamu sudah menghubungi dia?”
Mama mengelus punggungku pelan, “tidurlah, sudah malam besok masih ada hari yang harus kamu lewati.”
Mataku terus mengikuti setiap tetesan-tetesan air hujan yang jatuh menimpa kaca jendela kamarku. Mengetuk-ngetuk.
"Marsel..."
Alunan lagu milik Rani terdengar indah, meskipun itu lagu yang sangat klasik tapi lagu itu yang selalu aku nyanyikan saat Marsel memetik gitarnya.
Dia yang tidak pandai dalam bermain gitar kadang hanya asal petik dan kami akan tertawa bersama.
Cintamu bagiku tiada duanya
__ADS_1
Tak akan pudar sepanjang masalah
Ku tutup mata telinga
Namun kau selalu ada
Memberikan Sinar kasih cinta yang abadi...
‘Marsel...’
Jam dinding di pojok ruangan menunjukkan pukul 01 :00 hujan tidak reda juga, aku berdiri di ambang jendela kamar di lantai dua. Ketika sekelebat bayangan melintasi jalanan, membuka pintu gerbang rumahku, mataku mengikuti, siapa gerangan.
'Anggun!'
Dengan cepat aku menuruni tangga membukakan pintu, ada apa malam-malam begini Anggun datang ke rumah? pikirku.
“Anggun!”
“Gita...” Anggun langsung duduk bersimpuh di kakiku, “iih, ada apa?” tanyaku bingung.
Aku benar-benar hilang akal, saat mendengar apa yang di katakan Anggun.
Anggun hamil, dan...
Aaaaaaaah!
Aku tidak sanggup untuk berbicara... tubuhku limbung.
BERSAMBUNG....
__ADS_1
Awal penghianatan seorang teman.