Belibis Senja

Belibis Senja
TANTE SULISTYOWATI


__ADS_3

Kruex... kruex... kruex....


Tengah malam Abimanyu terbangun oleh perutnya yang keroncongan.


Suara potato di Gilas gigi sangat berisik di sampingnya. Abimanyu membuka mata dan melihat kebelakang, seorang wanita yang di kenalnya duduk dengan laptop, matanya asyik dengan layar, sedang tangannya sibuk memasukkan makanan ke mulutnya.


"Mardalena...!" Abimanyu membalikkan tubuhnya menghadap wanita cantik itu. Mardalena tidak menggubris Abimanyu yang menatap dirinya dengan pandangan aneh.


"Mengapa kamu ada di kamar ini?"


"Pingin aja!" jawab Mardalena Santai.


"Apa nggak di marah sama ibumu?"


"Nggak!"


Abimanyu bangkit, badannya terasa lebih nyaman.


"Besok aku temani kamu mendaftar dan melihat -lihat kampus barumu. Mau ambil jurusan apa?"


"Aku sudah masuk, tinggal daftar ulang."


Kamar ukuran dua kali dari kamarnya di kampung halaman itu sangat nyaman untuk seorang Abimanyu.


"Daftar ulang beberapa hari lagi, besok aku ingin keluar rumah untuk melihat keadaan sekitar, mengenal lingkungan baru, setelah itu aku mau cari pekerjaan.''


"Untuk apa kamu kerja?"

__ADS_1


"Menurutmu?''


Remaja yang sudah berubah menjadi pemuda itu berjalan membelakangi Mardalena menuju kamar mandi.


"Kita keluar yok?"


"Boleh.''


*****


Suara azan subuh berkumandang merdu, membangunkan Abimanyu. Kali ini Abimanyu akan menjadi anak baik. Harus bisa berubah demi diri-sendiri juga sebagai seorang hamba Abimanyu harus bertaruh pada keesaan Tuhannya, "Ya Allah pertemuan aku dengan bibi Gita."


Bersimpuh sebentar di hadapan Tuhan sebelum memilih jalan, agar tak tersesat.


Matahari belum muncul sempurna! Abimanyu memilih untuk keluar menghirup udara segar. Masih sepi, belum pada bangun, tapi tante Listyo sudah ada di dapur membuat Abimanyu menghentikan keinginannya untuk pergi.


“Eh, Abi, sudah bangun? Iya masak untuk anak-anak, mereka akan berangkat kuliah pagi, jadi perlu sarapan.”


“Tidak ada yang bantu?”


Wajah tante Sulistyo tidak bisa berbohong. Jelas sekali bahwa wajahnya yang terbungkus senyum menawan memiliki masalah.


Namun wanita paruh baya itu termasuk seseorang yang pandai menyimpan rahasia.


Dia mampu menguraikan gelisahnya diantara senyuman.


"Ada apa tante? Tante terlihat memiliki masalah?”

__ADS_1


"Sok tau!" Abimanyu membungkam mulutnya, menyesal dengan ucapannya. Wajah tante Listyo menengadah ke arah Abimanyu, tapi dia tidak mengatakan apapun kecuali hanya berdecak sedikit lebih lembut dari awal, hembusan nafasnya juga terlihat lebih rileks.


"Untuk wanita seusia aku, memangnya memiliki masalah apa, Abi?"


"Yaaaah... namanya manusia, mana ada yang tidak memiliki masalah.''


Abimanyu mengurungkan diri untuk keluar rumah, dia memilih untuk membantu tante Listyo sibuk di dapur.


"Memang kamu bisa masak?"


"Bisa dong! masak air." Remaja ini mengerlingkan mata genitnya.


"Mardalena terlihat seperti wanita bar -bar! dia sangat cuek dengan semua keadaan, tapi dia baik." jelas Tante Sulistyowati Membiarkan Abimanyu berdiri cukup lama dan sampingnya.


“Istirahat dulu, sana! biarkan tante yang kerjakan dapur. Tante mau menyiapkan sarapan untuk kalian,”


"Memangnya mereka makan di tanggung, ya tante?''


"Dah! sana pergi! nggak enak di lihat anak-anak jika kamu terus bersama tante."


"Lho! kenapa? kan aku bantuin Tante.''


"Sudah sana pergi!" Tante Sulistyowati memukul kening Abimanyu pelan dengan sendok makan yang di pegangannya.


"Baiklah.''


Abimanyu tersenyum mengiyakan saja apa yang dikatakan tante Listyo. Wanita renta itu sepertinya berusia sekitar lima puluh lima tahun, masih cantik, tapi guratan di dahinya benar-benar terlihat jelas, membuat wajah cantiknya tertutup mendung.

__ADS_1


__ADS_2