
Abimanyu dan Mardalena menjejakkan kaki di depan rumah Mardalena pukul 14.00 dan dilanjutkan dengan tidur istirahat.
Tepat ketika Abimanyu melihat Jam ditangannya, menunjukkan pukul 17.00 pintu kamar di ketuk dengan sopan.
'Pasti Tante' pikir Abimanyu.
“Bangun Abi, ini sudah waktunya makan malam,”
Abimanyu melangkahkan kakinya dengan malas membuka pintu. Wajah tante Sulistyo mengatakan bahwa ia kelelahan.
“Ayok lekas bergabung makan,” katanya dengan sopan.
Kamar yang ditinggali Abimanyu berada di lantai dua, bersebelahan dengan kamar-kamar yang berbaris rapih. Bisa di bilang rumah dengan dua lantai ini memang di peruntukan untuk mes wanita. Jadi Abimanyu lah satu-satunya lelaki di rumah itu.
"Banyak banget, ceweknya.“
Setelah mencuci muka Abimanyu pun segera turun untuk bergabung. Beberapa orang sudah ada di sana dengan menu lumayan istimewa.
Wooooow...ada tujuh cewek yang duduk mengitari meja, mereka menatap Abimanyu dengan wajah penuh pertanyaan atau kelapangan.
“Sore...” sapa Abimanyu risih.
“Malam boy!” sergah Mardalena yang juga berada di antara mereka, wanita cantik itu seperti tidak rela jika ada yang menyapa Abimanyu terlebih dahulu, dia dengan cepat menyiapkan tempat duduk untuk Abimanyu di sampingnya.
“Ayok makan,” Tante Sulistyo menarik kursi untuknya sendiri dan mengambilkan piring semua orang.
Acara makan malam yang hangat. Ada potret wanita manis dengan seragam sekolah 'itu pasti Mardalena' berdiri di belakang tengah kedua orang tuanya. Potret itu menempel di dinding tepat dihadapan Abimanyu.
“Di sini menyediakan kontrakan Abi, tapi khusus cewek, terkecuali kamu.”
“Oooooh!” Abimanyu memasang wajah terpanah cukup lama.
“Mau ambil kuliah di mana?” Lanjut tante Sulistyowati, Abimanyu menatap wajah wanita yang berada di sebrang mejanya, mulutnya penuh dengan makanan.
'Bukanya orang Jawa memiliki tata Krama di atas rata-rata ya?' Pikir Abimanyu dalam hatinya.
__ADS_1
Tiba-tiba Mardalena tersedak dan batuk.
“Makanlah hati-hati, nanti keselek.” Ucap Abimanyu pelan dia langsung mengulurkan air minum.
"Makanlah dengan fokus!obrolan bisa nanti lagi." Abimanyu tidak sadar jika semua orang memperhatikan dirinya. Perlakuannya begitu manis dengan Mardalena.
“Uhuk-uhuk... uhuk-uhuk...” Kali ini tante Sulistyowati yang batuk.
“Minum,” Abimanyu menyadari, semua mata memperhatikan dirinya, diapun menyodorkan segelas air pada tante Sulistyo mengkamoflasekan tindakannya pada Mardalena.
"Minum tante! ada apa? apakah tindakan ku salah?" tanya Abimanyu pura-pura bodoh.
“Apa yang menarik? Mengapa kalian melihat aku seperti itu? ada yang aneh?”
“Ah, nggak... nggak...!”
Semua orang menjadi gugup, dan salah tingkah.
Bukannya normal tindakan seperti itu pada wanita.
''Makan harus hati-hati, saat tersedak harus minum." Ah, mereka terlalu aneh.
“Abi, sana Kamu pergi menemani mereka,” Abimanyu mengambil sapu dan lap tidak mengindahkan apa yang di perintahkan tante Listyo.
Abimanyu harus mulai mengerti dunia luar, di rumah dua tingkat ini dirinya hanya menumpang, setidaknya tau diri! seperti yang diajarkan oleh Gita.
Membersihkan meja menyapu sisa -sisa makanan juga mulai mencuci piring.
“Ini tidak lama Tante,” katanya pelan.
Selepas membantu tante Listyo Abimanyu langsung masuk kamar. Acara selanjutnya adalah tidur lagi menyiapkan energi untuk besok.
“Abimanyu...!” suara dari luar memaksa remaja ini untuk bangkit.
Dia melonggokkan kepalanya.
__ADS_1
Empat cewek cantik dengan baju seksi tersenyum melambaikan tangan.
“Parti! yok.” Ajak mereka, “No!hari ini aku lelah, ingin istirahat.” jawab Abimanyu.
'Ini sudah tengah malam, untuk apa wanita -wanita itu mengunjungiku'
Huuuuaagkss...
Abimanyu menguap, memberikan isyarat pada keempatnya.
Abimanyu menutup pintu dan merebahkan tubuhnya lagi. Matanya terus menerawang mengitari angannya, menelusuri setiap Kenangan demi kenangan. Kenangan bersama Dhea, bersama Mardalena.
'Mardalena oh Mardalena'
Di malam di mana dirinya menghabiskan sisa-sisa kenikmatan. Ah, perjalanan ini begitu rumit.
"Bibi kemana aku mencarimu? eh, Aku lupa mengabari bibi yoga jika aku sudah sampai Jogja."
Abimanyu mengambil handphone di tas ransel dan segera menekan nomor mereka.
Jeeeerrrr...
Tidak dua kali Abimanyu menekan nomor mereka.
“Halo, Aden!" suara bibi yoga terdengar serak. Ada apa?
“Bibi habis nagis?” Abimanyu justru bertanya lain dari rencana awal.
“Aden sudah sampai?bagaimana? Lancar? Aden menginap di mana? Den, jangan lupa makan, jaga kesehatan dan satu lagi, Aden pulang saja jika aden kesusahan.”
Abimanyu tersenyum, bibi Yoga nyerocos seperti kereta api, ia berbicara tanpa ada Jedah untuk dirinya bisa menjawab.
“Bibi, aku baik-baik saja, aku sekarang sedang rebahan di kontrakan, dan sudah makan, minum, mandi, pokonya aku terawat dengan baik.” Jawab Abimanyu menjelaskan. Sekedar untuk membuat kekhawatiran bibi dan pamannya berkurang.
“Alhamdulillah, jangan lupa kirim kabar ya den?''
__ADS_1
“Siap,”