Belibis Senja

Belibis Senja
GITA MARSEL DAN ANGGUN


__ADS_3

Sepulang sekolah Abimanyu melanjutkan aktivitas barunya menyusup masuk kamar Gita. Abimanyu masih penasaran dengan semua yang pernah terjadi dalam kehidupan silam seorang wanita yang sangat dicintainya. Ada simpul sumringah dalam raut dukanya. 'Jadi sagittarius bukan bibi kandungku.'


Dear diary,


Aku menuliskan sebuah prasasti dalam pengalaman rasaku yang masih tersisa agar kelak jika aku tidak ada, ini akan menjadi kenangan terindah bagi yang membacanya.


Inilah akhir kisah cintaku yang telah hangus terbakar penghianatan.


GITA MARSEL DAN ANGGUN


Pagi ini dengan sangat bahagia aku menyusuri koridor sekolah yang masih sepi.


Ini hari pertama aku masuk di bangku sekolah menengah pertama. Aku sudah biasa berangkat pagi, pekerjaan orang tua yang menuntut aku untuk selalu disiplin waktu.


Seorang anak lelaki sudah duduk di sudut ruangan kelas, dia tersenyum sangat manis.


“Hai...” sapaku padanya


“Namanya siapa?”


Mata coklat itu menatap aku tidak berkedip, 'wooooow' matanya indah. “kamu Indo, ya? matamu coklat seperti Silverqueen, uuuuuuiiih kamu Kawai... Kawai...Kawai...” (imut dalam bahasa Jepang)


Itulah sosokku Sagittarius, lahir di bulan Desember, Ceria tidak suka marah juga setia kawan.


Hari pertama masuk menjadi murid di SMP negeri Yogyakarta, itu pertemuan pertamaku dengan seorang Marsel.


Mata Silverqueen, menurutku dia terlalu besar untuk untuk anak usia SMP.


“kenalan, lah, kita satu kelas." kuulurkan tanganku, tanpa ragu.


“Gita...”

__ADS_1


“Marsel... terima kasih sudah mau menjadi temanku,” katanya.


Marsel berdiri dan melangkah pergi, ia tersenyum sangat tampan, "aku cabut dulu ya,"


Seorang anak lelaki seusiaku berbicara padanya di depan pintu kelas, mereka tampak akrab.


Oh, rupanya Marsel hanya mengantarkan adik keponakan saja. Ah, aku jadi malu sendiri.


“Hai...” ku lambaikan tanganku pada keduanya mereka hanya tersenyum menyambut sapaanku.


Marsel Anda Maulana, anak ke dua dari seorang dokter di kota tempat tinggalku, duduk di bangku sekolah menengah atas kelas 2 jurusan IPA.


“Hai...” sapaku pada anak lelaki yang duduk di bangku belakang.


“Aku Gita, kamu?”


“Aku Jack,” kami bersalaman dan langsung akrab.


Anak-anak mulai berdatangan memenuhi ruangan. Ruang kotak kelas kami berisi dua puluh murid tujuh laki-laki dan tiga belas wanita.


"Ayok maju satu-sati perkenalkan diri kalian."


“Pagi buuuuk...” lagi-lagi aku yang paling ramai.


Eeeeeeeeeh, masa SMP yang menyenangkan.


“Siapa yang akan menjadi ketua kelas di sini?”Tanya buk Nandy setelah selesai dengan perkenalan.


“Tu, bu!” aku langsung berteriak menunjuk Jack. Lalu kamipun tertawa bersama, karena justru teman sekelasku menunjuk aku untuk menjadi ketua kelas.


Suasana kelas menjadi riuh oleh kami yang saling tunjuk.

__ADS_1


Sesi perkenalan usai, jam istirahat datang dan kami berhamburan menyerbu Kantin.


“Eh, Gita. Traktir ya?”


“Ih, nggak mau, gelay...”


“ ha ha ha...”


Dor! Jack menangkap aku yang sedang asyik bersama teman wanitaku.


“Ada salam dari Marsel,”


“Waalaikumsallam...”


“Siapa tuh Marsel?” gigi, teman sebangku menggoda.


Aku hanya memonyongkan bibirku yang tipis ke arah gigi seolah marah.


“Halah, muka Lo nggak bisa marah,”


Jack berlari pergi begitu saja tanpa pedulikan aku yang langsung dibully oleh teman-teman.


“Dia kakak Jack, kami bertemu saat pertama masuk, ganteng lhoooo.”


“Masak seeeh...” aku mengangguk semangat menimpali rasa penasaran teman-teman baruku.


Siang yang cerah Andara teman baikku menghampiriku.


“Gita kita jjs yuuuuk,?” tangannya yang panjang dan kurus langsung merangkul pundakku hingga habis, menarik aku dengan paksa untuk turut masuk ke dalam mobil Inova silver miliknya.


Kami pun menghampiri sebuah swalayan yang ramai, tidak untuk berbelanja hanya sekedar bersenang-senang dan nongkrong saja.

__ADS_1


Ini untuk pertama kalinya aku melihat luasnya dunia nyata tanpa orang tua.



__ADS_2