
Aku akui memang, Anggun sangat cantik. Dalam waktu singkat ia sudah mampu membuat sekolah kami gempar.
Kami satu kelas, bahkan kami duduk satu meja dan sangat dekat. Menjadi sahabat karib dan selalu menghabiskan waktu bersama tidak hanya di sekolah anggun juga sering menginap di rumahku.
Seperti biasa aku selalu mengenalkan teman dekatku pada kedua orang tuaku, Marsel dan lingkunganku.
“Hai, anggun, kenalkan ini Marsel my darling.” Dengan bangga aku menggandeng tangan Marsel dan memperkenalkan keduanya.
“hai...” sambut Marsel ramah, ia tidak menyebut uluran tangan Anggun.
'Tidak boleh' katanya. “Aku harus menjaga perasaan kekasihku.”
“Sweeeet uuuui...iri nih,” aku tertawa melihat wajah cantik Anggun yang kesemsem dengan Marsel.
“Ayok kita pulang,” ajak Marsel seperti biasa ia menjemputku.
Ini hari Jum’at, kami memliki kebiasaan pergi untuk melihat balapan.
“Asyik aku akan bertemu, Epri.” Kataku senang.
Marsel sudah menjadi seorang mahasiswa, jurusan manajemen informatika. Wajahnya sudah terlihat seperti seorang pemuda matang siap dalam menghadapi kehidupan. Bahkan papa dan mama sangat berharap banyak dengan hubungan kami.
“Aku akan sibuk dengan pekerjaan Gita, bisakah kamu memahami keadaanku?” kata Marsel disela-sela riuhnya sirkuit balap. Sorak-sorai penonton yang datang menenggelamkan suara Marsel yang lirih, mataku lebih asyik menelusuri wajah Marsel dari sudut ke sudut.
Aku tersenyum manggut-manggut seolah paham akan ucapannya akan tetapi sebenarnya aku lebih menikmati keindahan Silverqueen 'dia milikku'
Buatku Marsel adalah dunia kedua selain keluargaku.
“Hai...!” tiba-tiba Anggun menepuk punggung Marsel dari belakang mengagetkan kami.
"Ehh! kamu ada di sini juga?” kataku senang menyambut Anggun.
Karena kami sangat dekat, kehadiran Anggun di sekitarku adalah hal yang menyenangkan.
“Nggak ngajakin!” ia langsung menjajari kami, berdiri ditengah-tengah antara aku dan Marsel. Tapi, seperti biasa Marsel selalu mendahulukan aku dari yang lain, ia berpindah tempat ke samping kiriku, tangannya menggenggam tanganku erat.
Acara balap motor selesai, Marsel turun menemui kerumunan pembalap yang memang teman-temannya, ia melambaikan tangannya padaku, memberikan isyarat bahwa ia hanya sebentar.
__ADS_1
“Aku salut sama Marsel, sebegitu setia dia padamu,” kata Anggun.
“kamu sering ke sini?” tanya Anggun padaku lagi. Aku hanya mengangguk pelan.
Kami saling pandang, kemudian “Kita makan yok?” tanpa banyak bicara kami pun menyerbu mamang tukang bakso yang mengkal di area parkir.
“Kamu sendirian saja Anggun, aku tidak melihat ada seseorang bersamamu.” Anggun tersenyum, “Aku barenggg...aku sendirian, penasaran sih tadi, jadi mampir ingin melihat.”
“Sayang! Nggak bilang-bilang kalau di sini, aku mencari kamu mutar-mutar.” Marsel datang dengan nafas ngos-ngosan. Dia menghampiriku dan langsung mengganggu acara makan baksoku.
“Aaaaak....” mulutnya terbuka lebar, menanti suapan dariku.
“Ayok pulang, sudah sore.” Marsel mengandeng tanganku memaksa aku untuk berdiri, ia sedikit cemas.
Hari yang semakin sore membuat Marsel memaksaku lekas mengambil tindakan hengkang.
Kupeluk pinggang Marsel erat, hujan tiba-tiba datang mengguyur kami.
“kita berhenti dulu istirahat, ya.” Kata Marsel.
“Jika kita langsung pulang, aku bisa langsung mandi dan berselimut,” alasanku di setujui oleh Marsel.
Motor kesayangan Marsel berhenti di halaman, aku langsung berlari masuk rumah, mama yang berteriak menghentikan suaranya. Ia melirikku serius.
“Maaf, ma.” Kata Marsel menghampiri mama dan mencium tangan mama bersalaman.
“Marsel, sana kamu mandi juga, nanti masuk angin.”
“Maaf, ma, aku langsung pulang saja,”
“Heh! Nggak! Mandi dan segera ganti baju, mama siapkan makan malam untuk kalian.”
Suara azan magrib berkumandang.
Tok!tok!tok!
Ckrek! “siapa?” sambut mama.
__ADS_1
Wajah Anggun berdiri di ambang pintu, “masuk, kok kamu hujan-hujanan Anggun.” Kata mama.
“Halooo... Anggun! kamu basah! ayok ke kamarku.”
Aku langsung menghampiri Anggun yang juga basah kuyup, untuk segera mandi.
Marsel, duduk di meja makan menunggu kami. “Ayok makan dulu,” kata mama, tiga gelas susu panas diseduh agar kami bisa merasa hangat.
“Silverqueen, kamu ganteng banget pake baju papa,” kataku menggoda.
Marsel! Kata ibu mendelik melihatku, wajah Marsel yang Santai sedikit tegang.
Anggun tersenyum melihat keakraban kami, “tidur di rumahku, ya,” ajakku pada Anggun yang langsung di iyakan.
“Aku izin dulu sama orang tua,” katanya.
Pukul 20: 00 hujan tak reda-reda, Marsel duduk di kursi ruang tamu, ia lebih nyaman di sana, katanya.
Aku dan anggun mengerjakan pekerjaan rumah, matematika.
Kami cekikikan berdua melihat Marsel yang terkantuk-kantuk,
Wajah Marsel yang sudah dewasa begitu indah, dengan mata tertutup, sesekali kami mengganggunya untuk membantu mengerjakan PR.
Marsel memang seorang yang baik, ia selalu menuruti semua keinginanku.
Hujan tak kunjung reda, “Kalian, tidur di sini saja ya." pinta mama, “mama takut kalian sakit, jika nekat pulang hujan-hujanan.”
Mendengar mama berbicara Marsel membuka matanya, ia bangkit duduk. “Saya harus pulang ma, karena saya harus bekerja besok pagi.” Katanya.
Mama hanya diam melihat Marsel yang bersiap untuk pulang “hujan belum reda, nanti sakit.” Kataku memelas.
“Aku akan ikut pulang Marsel, boleh? Karena rumah kami satu jalur.” Kata Anggun.
“Nggak!” jawab Marsel sedikit keras dan tegas.
BERSAMBUNG GAES.... Lanjutkan baca ya....
__ADS_1