
Hari pertama aku jatuh cinta dan memiliki seorang kekasih, adalah hari yang paling bersejarah untukku.
“Mama,?” panggilku pada mamaku, yang masih sibuk dengan laktopnya.
‘’Apa sayang...”
Mama yang sibuk dengan pembukuan tidak menghiraukan aku yang merajuk dan ingin berbagi kisah.
“Apa, Gita?” tanya papa menghampiriku yang sedikit merenggut, tangan besar papa menyambut uluran tanganku.
“Sini, duduklah dekat papa, dan bercerita lah...”
Uuuuuuniiih papaku memang paling tau, aku.
“Papa...aku...,” aku mulai bercerita namun ragu-ragu.
“Gita jatuh cinta,” kataku buru-buru menutupi wajahku dengan kedua telapak tangan.
“Oh, ya?” papa tampak sedikit terkejut dengan pengakuanku.
“He eh, Rasanya itu, iiiiiindah banget.”
“Siapa pangeran yang sudah membuat putri kerajaan dongeng papa jatuh hati?” papa mencubit hidungku pelan.
“Pacaran boleh Gita, tapi... ada batasan yang tidak boleh dilewati oleh anak-anak di usia kamu.” Mama datang menghampiri kami, segelas kopi diberikan pada papa yang langsung diteguk panas-panas.
“Emang nggak panas pa?”
“Panas,”
“kok papa minum, tidak menunggu dingin.”
“Nikmatnya kopi, dinikmati saat masih panas sayang, seperti kehidupan, nikmatnya saat kita masih dalam perjuangan.”
“Apa itu pah?”
“Nanti, saat Gita besar, Gita akan mengetahui betapa nikmatnya sebuah perjuangan.”
Aku merenggut tidak puas dengan Jawaban papa.
__ADS_1
“Sayang, mama tidak melarang Gita pacaran, tapi...no hubungan yang seperti suami istri, karena gita harus sekolah, lulus, kuliah dan berkarier. Oke...” mama mengacungkan teluknya ke hidungku, dan mencium keningku.
Aku tersenyum senang, walaupun aku tidak paham dengan yang dikatakan oleh papa dan mama, tapi aku mencoba mengiyakan dan aku akan cari informasi sendiri.
Mamaku wanita energi, papaku seorang pekerja keras, mereka pasangan yang sempurna. Meskipun dalam kesibukan mereka tetap tidak pernah melupakan akan aku, anak yang masih butuh kasih sayang.
“Bawa pacarmu pulang dan kenal pada kami,” goda papa sambil melangkah pergi, gelas berisi kopi miliknya sudah tinggal seteguk, tapi papa sepertinya sayang untuk menghabiskan tetes terakhirnya.
“Yang terakhir selalu lebih nikmat.” Kata papa menggoda mama.
Handphone berdering, terpampang wajah Silverqueen dipangilan Vidio.
📱”Sudah tidur?” buru -buru aku berlari meninggalkan ruang tamu untuk menyepi.
📱”Belum,”
📱”Mengapa burung belibisku belum tidur?”
Iiiih, dia panggil aku burung belibis, kok bisa?
📱”Lalu, Kenapa coklat Silverqueen ku Belum tidur juga?” kataku membalas pangilan kesayangannya.
📱”Eh, Marsel adalah si mata coklat Silverqueen,”
📱”Ha ha ha.”
Uuuuuuiih tawa Marsel renyah sekali.
Entah apa saja yang kami bicarakan, berbincang dengan Marsel semua hal sangat indah.
📱”Besok aku akan menjemputmu, boleh?”
📱”Eh,” aku mengangguk setuju.
Inilah sepenggal ceritaku di masa SMP bersama kekasih hatiku Marsel dan kami bahagia.
Selama tiga tahun Marsel menemani aku di masa suka duka sedih dibangku SMP.
Aku akui sebagai anak semata wayang, kesedihan yang aku alami bukanlah sesuatu yang berarti, satu-satunya kesedihan dalam hidupku adalah kehilangan Marsel.
__ADS_1
Kadang aku bertanya apalah arti cinta sejati? Adakah?
Aku pikir Marsel adalah cinta sejatiku, kami bersama selama lima tahun, dari aku duduk di bangku kelas 1 SMP sampai aku duduk di bangku sekolah menengah atas kelas dua.
Mama dan papaku mengenal Marsel sangat baik, bahkan mereka mempercayakan aku pada seorang Marsel, lebih-lebih saat Marsel sudah duduk dibangku kuliah.
Waktu yang berjalan berlahan membawa aku berada di suatu tempat yang lebih menarik lebih asyik, juga lebih menguji adrenalin pubertas anak remaja.
Kata papa, masa SMA adalah masa yang sangat penting.
Heeem....apa ya? yaitu masa putih abu-abu.
Lima tahun tahun sudah Marsel menemani aku melewati banyak kenangan manis.
“Di usia ke 17 tahunmu, apa yang kamu inginkan sebagai hadiah dariku Gita?” tanya Marsel padaku, kami menikmati senja dan riuhnya suara burung belibis yang saling berbincang ditepi pantai yang biasa kami datangi, rutinitas kami menjelang Senja setiap hari Sabtu dan Minggu.
“Silverqueen, kamu bisa tau apa yang di perbincangkan burung belibis itu?” mata Marsel melirikku, ia tersenyum.
Ah, Marselku sudah dewasa, kumisnya tubuh dengan manis, rambutnya rapih, ia seperti aktor Korea yang sering kutonton setiap hari.
“Katakan padaku, hadiah apa yang kamu inginkan dariku, untukmu?”
Aku menggeleng pelan, “aku hanya ingin kamu tetap bersamaku, Silverqueen, tamani aku melewati indahnya waktu.”
“Tidak terasa sekarang kamu sudah SMA, kamu sudah besar belibisku,”
Indahnya senja setiap hari libur selalu menjadi waktu yang kunantikan, karena saat itu Marsel selalu membawaku untuk menghabiskan waktu bersama.
“Tidakkah kamu bosan? Bersamaku setiap hari Gita?” kata Marsel lembut. Mana mungkin aku bosan.
“Tidak! Karena yang terindah dalam hidupku hanya bersamamu Marsel.”
Di bangku sekolah menengah atas inilah aku bertemu dengan wanita yang sangat cantik dengan tinggi semampai gaul berani juga cerdas, Anggun Mayang Sari.
BERGABUNG....
jangan pernah lupa untuk mengikuti kisah sagittarius ya....
CUS....
__ADS_1