
Seharian menghabiskan waktu bersama Mardalena, berkeliling kota Jogja badan terasa pegal-pegal. Abimanyu memilih langsung masuk kamar dan merebahkan diri bersantai. Namun, baru saja dia meluruskan kakinya. Suara gaduh terdengar dari luar. Abimanyu melirik jam di sudut kiri Handphonenya, pukul 01.33 tengah malam.
'Hampir sehari semalam aku jalan!'
Ada suara pertengkaran, semakin lama semakin kencang, dan semakin seru.
Abimanyu keluar kamar, penasaran! diapun melihat ke bawa tangga.
Mardalena terduduk di lantai, sedangkan tante Sulistyo duduk di kursi meja makan. Seorang lelaki paruh baya sedang berkaca pinggang, rupanya itu ayah Mardalena.
Plak! Plak!
Dua tamparan keras mendarat di wajah Mardalena, Wanita yang memiliki Status Guru di SMA negeri kampung halaman Abimanyu itu tidak melawan.
Abimanyu tidak ingin ikut campur, bukan tidak peduli! tapi, dia tidak tahu letak permasalahannya. Dia hanya diam menyaksikan betapa indah drama yang sedang terjadi.
Pria paruh baya yang memang ayah dari Mardalena itu pergi. Suara deru mobil menjauh menandakan kepergiannya.
Abimanyu segera buru-buru turun menghampiri kedua beranak itu, membantu Mardalena untuk duduk di kursi. Dua gelas air hangat ia sodorkan pada kedua wanita di hadapannya. Pipi Mardalena memerah, matanya berkaca-kaca. Dia menjatuhkan tubuhnya dalam pelukan Abimanyu.
"Abi, alangkah beruntungnya Gita." Bisik Mardalena pelan, suaranya tengelam dalam Isak halus, kepiluannya.
“Ini sudah malam, alangkah baiknya jika tante dan Bu Mardalena tidur,” Abimanyu menepuk punggung Mardalena halus.
Kedua wanita itu menatap Abimanyu dengan tatapan skeptis, namun mereka memilih pergi ke kamar masing-masing.
Menurut Abimanyu sendiri Mardalena juga aneh, dia sudah menyandang status istri tapi dia justru berada di Jogja bersama laki-laki lain.
"Ah, terserah! bukan urusanku."
Pagi -pagi sekali seperti biasanya Abimanyu terbangun. Kadang dia tidak habis pikir dengan dirinya sendiri. Untuk apa dia bangun sepagi ini? untuk membantu tante Sulistyowati?
__ADS_1
''Kamu ngopii?” tanya tante Listyo melihat Abimanyu yang sibuk membuat kopi sendari.
"Tante nggak ngopi?” Abimanyu tidak menjawab pertanyaan pemilik kontrakan itu, dia justru bertanya balik.
Wanita itu tersenyum, Abimanyu tau, itu adalah jawaban iya tanpa suara.
“Biarkan aku yang membuatkan kopi untuk tante.”
Pagi itu Abimanyu menikmati sentuhan hangat udara Jogja bersama tante Listyo di temani dua gelas kopi buatannya.
"Ini hari Minggu, anak-anak ada yang pergi berlibur atau pulang ke rumah mereka." Jelas tante Sulistyowati pelan. Bibirnya manis menyeruput kopi, wajannya tenag.
"Tante tidak pergi berlibur?"
"Kemana? tante sudah tidak memiliki siapapun! Kecuali anak-anak.''
"Jadi hari Minggu kita beres-benar rumah saja." tandas Abimanyu menghibur.
“Good morning boy,”
Beberapa wanita cantik penghuni kontrakan muncul dengan busana olahraga.
“Morning to ladies! mo joging?"
Wajah ayu Marsela dengan balutan maceup muncul dengan sangat cerah, seperti baru saja mendapatkan undian.
"Kita mo jalan ya mom?" Gadis manis itu memeluk tente Sulistyowati dari belakang. Dia adalah adik bungsu Mardalena.
"Eeeeeeeeeh tante, yang semalam Siapa?"
"Ayah Mardalena."
__ADS_1
"Ada apa? kok bisa semarah itu?"
''Mardalena memang tidak sepaham dengan papanya!
Semenjak papanya memutuskan untuk memiliki istri muda, anak-anak menjadi brutal! Mardalena dan Marsela tidak lagi patuh, Angga anak lelaki tante satu satunya memilih ikut papanya, dan menjadi anak yang berantakan!"
"Bukannya Marsela pegawai Bank.''
Menurut informasi Mardalena seperti itu.
“Sudah berapa lama tante sendiri?"
“Cukup lama! hampir lima belas tahun.”
Woow
Cukup lama untuk seorang wanita menyendiri menghidupi dan membiayai anak -anaknya.
*****
Seperti rencana awal Abimanyu akan pergi ke kampus UNY. Tempat terdekat dengan rumah tante Listyo. Mardalena secara eksklusif mengurus semuanya dan mengenalkan Abimanyu dengan kota Jogja.
Belum ada perbincangan yang menyentuh keberadaan Gita, tapi Abimanyu lebih memilih untuk sabar. Jikalau memang Mardalena membohongi dirinya, tidak apa-apa, itu bukan masalah bagi Abimanyu.
''Aku akan mencari sendiri."
Abimanyu bertekad walaupun dirinya hancur menjadi kepingan sampah, dia akan tetap mendapatkan Gita kembali.
"Berlarilah sejauh yang bibi mau, aku tidak peduli! aku akan mengejarmu."
__ADS_1