
Aku sudah duduk di kelas 2 SMA dan aku rasa aku sudah cukup dewasa untuk bisa menikmati keindahan hidup mandiri.
Malam itu, aku dan Marsel bertengkar hebat, ia yang biasanya selalu sabar menghadapiku tiba-tiba memukul Anggun.
Hal itu membuat aku marah dan tidak terima. Menurutku Marsel keterlaluan.
Marsel membuatku kalap, aku pun mencakar wajahnya hingga berdarah.
Alasan Marsel marah malam itu adalah,
Malam Minggu, biasanya aku akan menghabiskan waktu bersama Marsel melihat senja di pantai hingga larut.
Menikmati senja berdua sudah menjadi rutinitas kami, bercerita, menyandarkan kepalaku di bahunya, atau sekedar menerima keluh kesah Marsel dalam pekerjaannya. Terkadang Marsel juga akan menjadi kelinci imut yang tidur dalam pangkuanku, menatap wajahku dan memainkan hidungku.
Tapi malam Minggu ini aku justru pergi ke sebuah diskotik yang terletak sedikit jauh dari rumah.
Marsel tidak terima alasanku.
“Aku sudah izin mama,”
“Lalu, kita punya acara kan! Setiap malam Minggu. Kamu lupa!” suara Marsel marah tapi masih dengan nada rendah, meskipun begitu kemarahan terlihat jelas dirautnya.
“Iya aku tau, aku hanya ingin tau diskotik itu seperti apa! Lagian aku bersama Anggun.”
“Jika kamu ingin tau diskotik seperti apa, Kenapa kamu tidak memintaku saja? Kenapa bersama dia!”
“Kenapa sih, kamu semarah itu? Aku hanya ingin tau diskotik saja.”
__ADS_1
Marsel melirik Anggun tidak suka, ia menghentakkan kakinya, menyambar tanganku.
“Ayok kita pulang.” Katanya.
Aku meronta melepaskan diri. Menurutku Marsel keterlaluan, di depan temanku ia marah-marah, sementara orang tuaku saja tidak pernah melakukan hal seperti itu.
“Lepaskan aku!”
Mata Marsel memerah, “baiklah, pergilah, jika memang Anggun sahabat terbaikmu, aku akan menunggu kamu di sini.”
Aku pergi begitu saja, tidak menghiraukan Marsel. Aku melanjutkan acara berjoget diantara kerumunan orang.
Seorang pria tampan dewasa mendekati aku yang tengah asyik berjoget. Itu membuat aku kesal, dengan kasar aku mendorong orang itu hingga jatuh.
Rupanya ia tidak terima, lelaki itu menarik aku dengan kasar. Dia menyeretku menjauh dari kerumunan.
“Anggun, tolong aku.”
Orang-orang itu, membawaku ke tempat sunyi, mereka tidak menyakiti aku, hanya duduk-duduk saja, tapi wajah seram mereka membuat aku takut.
''Anggun ke mana ya?'' Pikir hatiku.
Malam semakin larut, aku masih duduk disudut, bersama empat orang yang menyeramkan.
Tepat pukul 12 :00 mereka melepaskan aku, diskotik masih rame, aku mencari Anggun tidak ada, lalu aku mencari Marsel yang juga tidak ada.
Rasa takut mulai menghinggapi hati kecilku.
__ADS_1
Tiba-tiba mataku menangkap penampakan Marsel yang sedang berbincang-bincang dengan seorang wanita, disudat remang-remang.
Aku langsung menghampiri Marsel dan menghajarnya habis-habisan.
"Bisa-bisanya kamu malah bersama wanita lain, sementara aku terjebak dalam dekapan orang."
"Gita! ada apa?" tanya Marsel mencoba mendinginkan keadaan.
Aku menagis sejadinya, aku merasa Marsel meninggalkan aku hingga larut.
“ Kamu jahat!” teriakku.
Marsel memeluk tubuhku dengan memaksa “ada apa?” katanya.
Aku yang sudah kalap terus memukul Semauku, “ lada apa?aku tidak meninggalkanmu, mana Anggun?” tanyanya padaku.
“Hei, Gita! Kamu di mana saja? Kami berputar mencari kamu,” kata Anggun menghampiri kami.
Plak!
Marsel langsung menampar wajah Anggun, “kamu yang bawa Gita ke tempat ini, bisa-bisanya...”
Tamparan dua kali, mendarat di pipi Anggun.
Plak!
Kali ini tamparanku yang mendarat di wajah Marsel. Marsel diam saja ia langsung mengambil tidaklah untuk pergi, rupanya malam itu adalah malam terakhir Marsel menjadi milikku.
__ADS_1
BERSAMBUNG YA GAES...