
Memutuskan untuk pergi ke Jogja bersama Mardalena adalah keputusan Abimanyu. Kali ini adalah keputusan yang di ambil Abimanyu tanpa paksaan.
Paman dan bibi yoga tidak bisa mencegahnya, mereka menerima keputusan Abimanyu yang keras dengan kepala dingin.
Yoga tau Abimanyu mengambil pilihan ke Jogja untuk mencari Gita. Lelaki yang berusia kurang lebih empat puluh lima tahun ini menghela nafas dalam melepaskan kepergian Abimanyu.
"Kamu jaga kesehatan, jangan terlalu lelah, ingat di sini tempat kamu pulang." Yoga menepuk pundak Abimanyu menguatkan.
Remaja yang menurut yoga masih belia ini terlihat matang, matanya redup tidak seperti pertama kali saat mereka datang.
Pertama mereka bertemu Abimanyu. Dia adalah anak kecil yang menyebalkan suka bikin Onar juga semaunya.
"Sekarang kamu sudah dewasa, sudah bisa memilih kehidupanmu sendiri, masa depan seperti apa yang akan kamu ambil itu adalah keputusanmu." Yoga memeluk Abimanyu berat.
“Baiklah, jika itu mau mu, tapi ingat bawa ATM dan nomor handphone, itu penting untuk kamu, agar bisa menghubungi kami,” Abimanyu mengangguk pelan, tas ransel sudah ada dipunggungnya. Sebenarnya Abimanyu sangat ingin paman dan bibinya menceritakan hal yang sangat menarik perihal Gita tapi hingga ayunan langkahnya yang terakhir untuk pergi paman dan bibinya memilih untuk bungkam.
Huuuuuuuufffg, 'ada rahasia apa sebenarnya?'
Mobil cukup mewah sudah menanti Abimanyu dijalan lintas ‘'Mardalena’'
Abimanyu seperti sesuatu yang tidak tau diri, memanggil gurunya hanya dengan nama saja. Tapi '‘Mardalena ya Mardalena'' sangat menyukai Abimanyu memanggil namanya.
“Kamu sudah menikah berapa tahun?” tanya Abimanyu kaku, mengubah panggilan ibu menjadi Mardalena secara bebas, dari seorang guru yang harus di hormati menjadi kamu yang memiliki arti luas.
Bukan hal yang mudah bagi Abimanyu sebenarnya. Tapi apa boleh buat itu keinginan gurunya sendiri.
Abimanyu merasa seperti menjadi murid murtad saja, tidak tau hormat dan balas budi.
Wajah ayu itu menatap Abimanyu yang duduk dengan gelisah. Tatapannya seram, seperti ingin menelanjangi seluruh pulau di tubuh Abimanyu, dengan sensasi ranjang.
Oh, tidak! Abimanyu pura–pura memperhatikan layar handphone, padahal tidak ada yang menarik di sana.
Satu -satunya yang menarik di handphonenya adalah welpaper. Semua aplikasi berisi ‘sagittarius'
__ADS_1
“Kamu benar -benar penggila, Gita, ya,”
“Iya.” Jawab Abimanyu singkat tanpa malu -malu.
Mardalena membenarkan letak duduknya untuk sedikit menjauh dari Abimanyu, dia tau Abimanyu saat ini mencoba menjaga jarak darinya.
Mardalena menyandarkan kepalanya di sisi jendela, membuka sedikit jendela membiarkan udara masuk berbondong-bondong, itu menyegarkan.
“Abi, apa yang akan kamu lakukan, saat bertemu dengan Gita?”
“Tidak ada.”
Mardalena menatap Abimanyu, wajah remaja itu kuyu dingin dan bahasanya padat. Mardalena benar -benar tidak mengerti dengan cara pikir Abimanyu.
"Sudah berapa lama kamu mencintai dia?"
"Aku di dilahirkan untuk mencintainya,"
"Apa kamu tidak ingin berpaling darinya?"
Abimanyu mengalihkan pandangan, memperhatikan wanita di sampingnya yang menatap jauh ke luar jendela.
Berlahan-lahan meletakkan handphone di tangannya.
"Apakah kamu begitu menginginkan aku, Mardalena?"
Hah!
Mardalena mengeluarkan pekik tertahan, Abimanyu telah berada tepat satu inci dari wajahnya yang berpaling tiba-tiba.
Udara yang di hembusan hidup Abimanyu menyapu wajahnya menimbulkan aura panas di sekujur tubuh Mardalena.
Wanita ini mengigit sebentar menahan gejolak.
__ADS_1
"Aku hanya ingin menikahi sagittarius." Ujarnya tanpa mengalihkan wajahnya.
"Tapi jika kamu memang menginginkan aku, aku bisa memberikan dirimu lebih.'' Katanya pelan, lebih pelan dari udara yang keluar dari mulutnya.
Tangan Abimanyu mulai berani, 'apa yang ku takutkan! sejak awal aku sering melakukan ini.'
Setelah tau bawah dia bukan saudara kandung Sagitarius Abimanyu seperti mendapatkan kekuatan, bahwa dirinya berhak mengejar cintanya.
Tidak peduli seberapa jauhnya perjalanan yang akan ia tempuh, Gita lah yang menjadi tujuan hidupnya.
Meskipun akhirnya Abimanyu menjadi pesakitan di tangan Mardalena, dia tetap menganggap itu adalah proses perjalanan cintanya.
"Selama nyawa ini masih ada di sini, aku akan mencarinya," bisik halus Abimanyu menggetarkan hati Mardalena.
''Sebesar itukah cintamu?"
"Kurang besar."
Abimanyu harus mensyukuri perbuatan orang tuanya, yang meninggalkan Gita untuk dirinya. Bahkan tidak sedikitpun Abimanyu menyesali perbuatan mereka.
“Mardalena...oh Mardalena."
'Bocah kurang ajar! bisa-bisanya dia membuat aku jadi itik! kurang ajar!' Mardalena memaki dalam hati, kesal juga malu.
Abimanyu membuat dadanya seperti terbakar, gairahnya bangkit seketika namun padam dalam sekejap mata.
'Anak sialan! dia hanya mempermainkan diriku saja'
Buru-buru Mardalena membereskan dirinya sendiri, melihat sekilas Abimanyu yang sudah asyik dengan layar handphonenya lagi.
"Abimanyu!" Geramnya.
__ADS_1