
"Apa kamu mengenal Anggun dan Marsel,”
“Yes, mereka bertiga sahabat tak terpisahkan.” Mardalena tidak mengalihkan tatapannya pada langit yang mulai temaram. Sesekali matanya terpejam menikmati hembusan angin sejuk pegunungan.
“Siapa mereka?”
“Mereka kakak setingkatku di SMA.”
Mobil melaju dengan kencang, mata Mardalena mulai terlihat terkantuk-kantuk.
Niat Abimanyu pergi ke Jogja semata-mata hanya karena ingin mencari Gita, tapi sebagai kedok dia akan melanjutkan kuliahnya di universitas negeri Yogyakarta.
*****
Rumah dua lantai dengar ukuran lumayan besar, halaman yang luas dengan taman bunga yang tertata rapih, ada dua mobil parkir didepan rumah.
“Kamu orang kaya rupanya.”
Mardalena menguap dengan begitu nikmat, sepanjang jalan dia tidur sangat pulas.
Kadang Abimanyu memikirkan Mardalena, apa mungkin suaminya tidak marah, dia pergi bersama lelaki lain. Mardalena terlalu bebas untuk ukuran wanita yang sudah berpasangan.
Ibu guru Mardalena yang sudah menjadi Mardalena. Seolah hanya seorang teman saja. Tidak ada tanda-tanda bahwa hubungan keduanya adalah murid dan guru.
“Abimanyu, jangan ada yang tau bahwa kamu muridku,”
“Hah! Lalu aku harus jawab apa kalau ada yang tanya?”
“Bodok Mamat, yang penting jangan ada yang tau kalau kamu muridku.”
Abimanyu menarik tangan Mardalena pelan, sebelum keluar dari mobil.
"Aku pangil kamu apa?” tanya Abimanyu mendekatkan bibirnya tepat di bibir wanita cantik itu. Abimanyu merasakan ada yang tidak beres sedang bermain-main di sekitarnya.
Kali ini Abimanyu harus berhati-hati. Pengalaman yang sempat ia dapat dari tragedi surat perjanjian yang pernah di ajukan Mardalena satu itu benar-benar menjadikan Abimanyu pesakitan abadi.
Bagaimana tidak! pengalaman **** yang di kenalkan Mardalena menjadikan Abimanyu pencandu ranjang.
__ADS_1
“Panggil saja aku, Allen." Mardalena keluar dari mobil dan menghempaskan pintunya, tidak peduli dengan Abimanyu yang terkejut di dalam.
"Katakan kamu adalah anak pemilik rumah kontrakanku." Jelasnya sebelum pergi dengan nada pelan.
“??????”
“Nggak usah begitu ekspresinya,”
Mardalena memukul kepala Abimanyu. Melihat pemuda itu menutup mulutnya terkejut yang di buat-buat.
“Sakit!” Abimanyu meraba kepalanya yang terbentur sisi pintu mobil.
Rumah orang tua Mardalena tampak sepi, seorang wanita paruh baya menyambut keduanya.
“Sayang Kok diam-diam pulangnya?”
“Pagi tante,” Abimanyu mengulurkan tangannya ramah.
Wanita renta tampak meneliti Abimanyu, dan membiarkan punggung tangannya di cium Abimanyu berlahan.
“Siapa ini?”
Wooooow
Pemandangan yang sangat indah. Baru menginjakkan kakinya di rumah Mardalena Abimanyu sudah mendapatkan pemandangan alam yang luar biasa, berbaris wanita cantik dengan baju seksi menatap dirinya dengan tanda tanya juga senyum menggoda.
"Asih antar Abimanyu ke kamar tamu."
Wanita yang bernama Asih memiliki bodi gitar rambut sebahu, senyuman Nikita Willy and aroma ranjang yang luar biasa menguji adrenalin lelaki.
"Biarkan aku yang antar dia!" Mardalena menyambar tangan Abimanyu dan menariknya dengan paksa.
Wah ada aura pertikaian rupanya.
"Abimanyu aku tidak suka kamu dekat-dekat dengan mereka." Ucap Mardalena pelan penuh khawatir.
"He eh,''
__ADS_1
"Hanya itu jawaban mu?" Wajah wanita di hadapan Abimanyu berubah seram, membuat pemuda itu mundur beberapa langkah.
"Ada apa emangnya? emang yang kamu butuhkan jawaban yang seperti apa?''
"Itu membuat aku curiga!"
"Why?"
"Mereka wanita kelaparan! sama dengan kamu!" Mardalena menghempaskan pintu kamar tamu dengan marah.
Abimanyu hanya nyengir, memang menggoda sih mereka. Tapi..."Ibu kan tau kebiasaan aku."
"Apa?!" Suara Mardalena mengencang, dia benar -benar tidak rela melihat mata adik-adik tirinya seolah menelanjangi Abimanyu.
"Aku setia pada Gita."
Ch! setia? bibir Mardalena mencibir.
"Lalu yang tidur denganku siapa?"
"Aku, demi Gita, apapun akan aku lakukan, walaupun itu meniduri Ibu sekalipun.''
Wajah Abimanyu mengeras. Dia tersinggung dengan "Ch' yang keluar dari mulut Mardalena.
Meskipun itu hanya percikan kata yang tidak memiliki makna, tapi itu mengandung bahasa sindiran.
"Memang selama ini ibu anggap aku apa? pelacur!"
Mardalena tampak menyesal telah menyinggung Abimanyu. Wajah dingin Abimanyu lebih menyeramkan dalam keadaan marah.
"Maaf! aku cemburu."
"Allen!" Seseorang memanggil Mardalena dengan nada keras.
"Iya mom!"
"Allen, makan yok," wajah tante Sulistyowati muncul di pintu yang memang tidak tertutup. Senyumnya mengembang indah, luar biasa dalam usianya yang sudah tua tante Sulistyowati masih terlihat cantik, seksi juga kencang.
__ADS_1
“Iya mom, aku segera turun."
"Aku mau tidur dulu, istirahat.''Ucap Abimanyu tanpa basa-basi.