
Gubrak!
Kebodohan virtual! Tidak ada obat. Abimanyu tidak bisa membaca pikiran Mardalena. Akhirnya dia terjun bebas kedalam ruang tanpa batas.
Sampai habis nafasnya bertahan dalam kehampaan.
Lembaran takdirnya mulai ia tulis dengan tinta hitam. Kepolosnya mengikat kuat menjadi rantai argumen.
Abimanyu menjadi simpanan para wanita kesepian. Otaknya yang jongkok benar -benar dipertanyakan.
Sialan! Pikir Abimanyu membahas kebodohannya.
‘Mengapa menjadi serumit ini perjalanan cintaku.
Suasana malam semakin larut dalam keheningan. Mata tak lagi kompromi, acara ghibah ibu-ibu beruang belum usai, mereka masih berbisik-bisik dengan obrolan yang mengganggu telinga.
Game Online yang dimainkan Abimanyu tidak bisa mengusir jenuh dan lelah, matanya terkantuk-kantuk, kadang lelap dan bangun dengan terkejut.
Krueng... Krueng.... suara perutnya ikut berteriak kencang ingin makan.
“Buk!”
Remaja itu memberanikan diri untuk melongokan kepalanya, di antara keramaian Mardalena yang melihat Abimanyu langsung tanggap. Bahasa wajah mainannya itu terlihat pucat dan memerah.
“Apa? Kamu mengantuk? Atau kamu mau sesuatu?”
Wajah Abimanyu berubah masam.
__ADS_1
‘pake tanya, bukanya wajahku sudah sangat jelas mengatakan bahwa aku nggak kuat lagi melek.’
Namun sedetik kemudian wajahnya polos kembali “aku hanya mengangguk.”Ucapnya.
“Tapi....”
Mardalena memperhatikan Abimanyu, menunggu apa yang hendak dikatakan selanjutnya.
“Pertama, saya belum ijin untuk menginap. Ke dua, saya mengantuk. Ke tiga, apa tugas saya? Ini sudah larut, saya bisa kemalaman di jalan.”
Abimanyu mencoba pasang wajah gahar agar penjelasannya terlihat sedikit seram.
Ha ha ha...!
Gigi putih cantik itu terlihat indah, berbaris bagaikan mutiara, Mardalena malah tertawa sangat indah.
Penghinaan! para wanita kesepian itu malah tertawa mengejeknya.
Sialan! Umpat Abimanyu dalam hati.
“Kamu itu tampan, tidak serem, jadi percuma kamu, menggertak kami,” kelakar salah satu dari mereka.
Kali ini Abimanyu melenguh, gemas. Ia *******-***** kedua tangannya saling tarik-menarik antara jari-jari. rasanya ingin memegang kepala gurunya itu dan mencabik-cabik kulit muka mereka sedikit demi sedikit, macam piranha.
Ada sepuluh wanita di rumah Mardalena, rumah kecil itu terlihat sangat padat. Acar arisan kata mereka.
“Mana kami takut, Kalau pencurinya nabi Yusuf era modern,” kelakar mereka menyudutkan Abimanyu.
__ADS_1
Ha ha ha...! Gelak tawa pecah.
Mereka justru tertawa lepas, oleh ulah Abimanyu.
‘emangnya aku badut! Segembira itukah mereka?’
Geram remaja itu. “Dia imut banget.” Mereka justru malah asyik membicarakan Abimanyu.
Apa maksudnya Mardalena, membawa Abimanyu ke tempat seperti ini?
Serem! Abimanyu hanya bergidik membayangkan betapa beraneka ragamnya wanita yang menjadi teman ngobrol Mardalena. Mereka terlihat sekali kelaparan belaian laki -laki.
"Hah! malam gw yang menang!" salah satu dari mereka tampak girang, melirik Abimanyu yang masih berdiri di ambang pintu.
"Kamu masuk dulu, nanti aku susul."
Dengan malas Abimanyu kembali duduk malas.
Tidak lama Mardalena masuk menawarkannya cemilan juga minuman.
"Kamu hubungi dulu keluarga kamu, biar tidak khawatir, setelah itu baru aku berikan tugas untukmu."
Abimanyu mangut -mangut saja, dia tidak pernah membayangkan akan ada badai Padang pasir menimpanya.
Malam semakin larut, kali ini mata Abimanyu tidak lagi bisa di ajak kompromi.
Dia menguap berkali-kali dan akhirnya sampai juga dia ke alam mimpi.
__ADS_1