
"Hujan!” Reno berlari cepat menuju koridor. Gerimis yang datang mengemis perhatian sejak pagi menjadi titik-titik air berjamaah turun lalu seolah menjadi masa yang membasahi bumi adam. Kilat saling sambar, Guntur pun menggelegar menghardik bumi begitu seram, akankan badai akan datang?
Oooooohhhh....ada sebongkah hati yang tengah ditusuk rindu bertubi-tubi. Mengapa matahari tertutup Kesedihan? Abimanyu menghela nafasnya berkali-kali mencoba membuat suasana hatinya yang keruh tidak tampak sepi di mata penikmatnya.
Satu jam sudah berlalu bersama hujan, akhirnya sinar matahari tampak indah dengan kehangatan.
Hembusan angin pagi mulai semilir meniup dedaunan yang lepas dari ranting. Membawanya terbang terombang-ambing ke segala penjuru arah tujuan dan khayalan.
“Bibi, ke mana engkau saat ini?" Abimanyu terus bertanya pada kekosongan, di ujung koridor dengan bertumpu pada kedua kaki Abimanyu meluruhkan egonya.
Dalam ingatannya hanya menyimpan seorang Gita wanita yang diam-diam ia puja.
Setiap detik waktunya, nafasnya, berpacu dengan rindu yang menggebu, detak jantung yang mengharapkan, memanggil-manggil nama Gita 'Setidaknya kirimkan aku kabarmu, bi.'
“Hai...! ada apa dari tadi bengong?” Reno tidak tahan melihat sahabatnya dirundung gelisah. Abimanyu hanya membisu sediri, berjalan di samping Abimanyu saat ini seperti berjalan bersama patung es kutub Utara.
"Terlalu dingin." canda Reno.
“Ini bukan Abimanyu seperti biasanya.” Lanjut Reno sedikit heran.
“Tidak biasanya kamu seperti orang linglung, bahkan putus cinta dengan Dhea, tidak membuat seorang Abimanyu shock! Ada apa, kawan?” Andre yang juga ada di samping Abimanyu ikut melongokan wajahnya, tepat berhadapan dengan wajah Abimanyu.
“Apa sih?” masih dengan lagak tak bermasalah Abimanyu menyingkirkan wajah kedua sahabatnya dari depannya.
Bell masuk kelas berteriak tanda pelajaran akan di mulai.
Abimanyu mencampakkan kuntum rokoknya, lalu bergegas masuk kelas.
“Abi...!”
Nisa anak IPS 3 sahabat Dhea menghampiri Abimanyu. Ketiga remaja yang sudah berdiri diambang pintu kelas berdiri mematung, menungu acara langsung yang akan di siarkan oleh Nisa.
__ADS_1
Abimanyu hanya melirik sekilas pada Nisa, “ada apa?” jawab Andre.
“Abimanyu di panggil buk Mardalena,”
Lega, ternyata Nisa menyampaikan pesan guru cantiknya bukan dari Dhea. 'Su'uzon'
“Hah!” Bagaikan terbangun dari tidur, saat mendengar nama Mardalena di sebutkan.
“Aku ke kantor dulu ya?” tanpa persetujuan kedua sahabatnya, Abimanyu langsung melesat pergi.
“Hei! ada apa?” Reno mencoba bertanya.
Wajah galau Abimanyu memang sangat terlihat! remaja itu bukan seseorang yang pandai menyembunyikan perasaannya.
Wajah, rambut yang berantakan, baju yang acak-acakan, dan pekerjaannya yang hanya tidur, mendengkur saja di kelas, menggambarkan pikiran yang sedang buncah.
Reno tampak ngedumel sendirian bersama Andre melihat kelakuan Abimanyu.
Berdiri lama-lama dihadapi Mardalena bukan hal yang mudah, hati Abimanyu terus berdesir, adegan demi adegan yang pernah disinggahinya bersama Mardalena begitu kencang mengikat ingatan.
“Terus bagaimana caranya, agar aku bisa bertemu bi Gita,” Abimanyu tidak bisa berpura-pura tidak membutuhkan bantuan, betapa rindunya Abimanyu pada sosok Gita, bahkan di depan Mardalena yang berstatus kekasihnya dia tidak mampu menahan derasnya air mata.
Abimanyu telah mati -matian menahan harga dirinya sebagai laki-laki namun pertahanannya tidak dapat membendung badai rindu yang tengah melandanya.
Hatinya luruh, tinggal landas, pasrah dalam kerinduan yang tak dapat ia ungkapkan.
“Apa Gita tidak menghubungi mu?” tanya Mardalena, wanita cantik dan seksi itu menyilangkan kakinya lurus. Kaki yang jenjang mulus tampak menggoda. Abimanyu menggeleng melihatnya.
“Ini sudah satu bulan, dia pergi. Tapi tak satupun pesan kabar ku terima,”
Abimanyu menatap wajah gurunya, dia terus berusaha mencari sesuatu yang bisa ia dapatkan sebagai petunjuk.
__ADS_1
“Apa kamu ingin aku membantumu?” Mardalena tersenyum, mengayun -ayunkan kakinya, menyadari apa yang sedang diinginkan kekasih simpanannya itu.
Sebagai seorang yang memiliki setatus kekasih, tentu saja Abimanyu dilarang terlalu fulgar menceritakan hubungannya dengan Gita.
Akan tetapi Mardalena bisa melihat jelas bahwa Abimanyu tengah mengimbangi rasa yang sedang melandanya.
Cinta dan rindu yang telah memadat dalam bibirnya yang terkatup rapat berkoordinasi membentuk lingkaran hitam disudut rautnya yang tengelam dalam kegelapan. 'Rindu akan kekasih'
“Aku bisa membuat kamu bertemu Gita, tapi...”
Kalimat Mardalena menggantung seolah sengaja ia lakukan. Dia hanya memberikan angin sejuk saja, mencoba memanfaatkan keadaan.
Mata Abimanyu berbinar-binar memohon akan seteguk penjelasan.
'hanya hal semacam itu saja sudah membuatnya bahagia' pikir Mardalena tersenyum penuh rencana.
“Apa?” dengan memburu Abimanyu menghampiri Magdalena, wanita yang berstatus guru Juga kekasih simpanannya ini tersenyum nakal.
“Kamu menjadi milikku, seutuhnya! nanti saat kelulusanmu, aku yang akan mengantarkan kamu pada Gita.”
Tawaran yang menggiurkan.
"Demi Gita-ku.''
Tanpa pikir panjang Abimanyu langsung mengiyakan semua syarat.
BERSAMBUNG....
Terima kasih buat teman-teman semua yang sudah mendukung aku sejauh ini...
__ADS_1