
Anggun datang dengan bayi laki-lakinya, dia menangis dibawah gerimis memohon ampun dariku juga belas kasihanku. Mungkin aku memang terlalu naif, membohongi diri sendiri. Air mata Anggun mampu melumpuhkan dendam dan sakit hati.
Aku tidak habis pikir juga akalku tidak pernah membayangkan yang terjadi antara kami bertiga. Bahkan aku tidak bisa membedakan air mata palsu atau asli, seperti persahabatan kami, tampak asli ternyata palsu.
Digendongnya sosok bayi mungil menangis.
“Ada apa?” tanyaku padanya.
Wanita cantik dengan tubuh semampai dan seksi 'Anggun memang cantik' pantas Marsel berpaling padanya.
Dadaku sesak, nafasku terasa berat, tidak kuasa menahan emosi. Tubuh Anggun mengigil Bayi dalam dekapannya pun tampak ikut kedinginan.
Berulang kali aku hempaskan nafasku ke dalam kekosongan.
Rasanya jijik! melihat wanita itu, tapi bayi tanpa dosa itu begitu menarik perhatianku dalam sekilas lihat.
Rasanya aku ingin meludahi wajah Anggun saking jijiknya, melihat wanita munafik satu ini tiba-tiba perutku mual.
__ADS_1
Aku terdiam cukup lama, berusaha menguasai diri sendiri, Walaupun aku tidak memiliki reaksi apapun atas dirinya tapi tetap saja, sakit di hatiku cukup dalam, cukup untuk membuat aku membencinya dari ujung kaki sampai ujung rambutnya.
“Dia mengancam akan menceraikan aku Gita, dia tidak percaya jika anak ini hanya miliknya, tolong aku Gita." rengek Anggun.
Anggun menangis dengan keras di bahuku, membuat baju putihku basah.
"Aku lari dari rumah, dia tidak menerima anakku."
heh! Cerita seorang penghianat!
“lalu, apa yang ingin kamu lakukan dengan datang padaku? aku sudah tidak memiliki apapun untuk kamu rebut...!” ucapku lirih.
kulirik bayi laki-laki mungil yang berada diperlukannya, percikan air hujan yang berpadu dengan atap payung menjadikan wajahnya begitu indah, tangannya menggapai -gapai, lalu sesekali ia mengenyut jari jempolnya.
"Aku takut masa depan anakku...akan terganggu dengan keadaan kami yang masih seperti ini.”
Kembali kulirik Bayi mungil yang tampan itu 'aku boleh membenci orang tuanya tapi tidak dengan anak tanpa dosa'.
__ADS_1
Tidak ada yang aku inginkan dari seorang penghianatan seperti mereka, tapi aku tidak boleh jahat pada mahluk kecil itu, apa yang harus aku lakukan?
Membayangkan nasip bayi kecil itu.
aaaaaahh! hal buruk apa yang akan terjadi? aku menjadi tidak tega.
Tatapanku beralih pada wajah cantik Anggun, masih membekas sangat dalam atas penghianatnya, lalu kembali kulihat bayi mungil itu yang tiba-tiba merengek manja, jika aku menolak bayi itu, apa yang akan terjadi padanya?
“Baiklah, tinggalkan ia padaku, tapi dengan syarat," kutarik nafasku dalam-dalam.
"Ia adalah milikmu, hitam di atas putih! Jangan pernah kamu datang mengambilnya!” Kali ini aku harus tegas, pikirku dalam hati, seorang penghianat tetap penghianat!
Anggun tertunduk lesu terlihat berat, tapi iapun mengangguk terpaksa.
Hari itu adalah hari terakhir aku melihat Sabahatku itu. Selepas aku lulus SMA aku terbang ke luar negeri membawa Abimanyu bersamaku, untuk mendapatkan kehidupan baru.
Aku melanjutkan pendidikan di luar negeri dan mengambil jurusan kedokteran, niat awal hanya agar aku bisa merawat Abimanyu dengan baik. Tapi justru jurusan yang aku ambil adalah jurusan yang sangat bagus untuk Mesa depan kehidupanku selanjutnya.
__ADS_1
Selamat tinggal masa lalu, aku akan mencapai tujuan hidupku dengan baik bersama malaikat kecilku. Silverqueen.