
Yogyakarta adalah kota yang luas, mencari Gita tanpa kompas sepertinya mustahil. Namun Abimanyu tidak ingin menyerah begitu saja. Pamannya yoga tidak sekalipun mau menyebutkan tentang apapun yang berhubungan dengan Gita. Sementara Mardalena memilih memberikan Abimanyu pilihan yang sulit untuk melanjutkan hubungan gelap mereka. Demi menginginkan Abimanyu untuk terus menjadi simpanannya Mardalena memberikan pilihan menjadi miliknya dan menemukan Gita dengan cepat atau bebas! tapi memulai pencaharian sendiri.
Mardalena hanya memberikan lampu hijau, bahwa Gita ada di Jogja. Tidak jelas di mana.
Abimanyu mantab memilih jalannya sendiri. Sebuah tantangan, mencari Gita dalam ribuan manusia. Meskipun seperti mencari jarum ditumpukkan jerami, bukan masalah bagi Abimanyu.
Menurut buku diary yang di tinggalkan Gita, kedua orang tua Gita seorang pengusaha yang sukses di bidang jual beli elektronik.
Dari sanalah Abimanyu memulai pencaharian. Memasukan lamaran kerja di setiap perusahaan elektronik. Meskipun perusahaan itu tidak membuka lowongan.
Berbekal tekat tanpa pengalaman dia terus bergerak tidak kenal lelah. Penolakan demi penolakan menjadi warna baru baginya.
"Aku harus irit.”
Jeeerrrr.... jeeeerrrr....
Suara handphone Abimanyu bergetar dari pagi handphone itu berteriak ingin di buka, tapi Abimanyu enggan membukanya.
"Paling-paling tente Sulistyowati atau Baby atau... entahlah." pikir Abimanyu pesimis.
"Paman aku berjanji tidak akan mengaggu bibi Gita, tapi tolonglah aku. Berikan aku kesempatan sekali saja untuk bisa bertemu dengannya." Abimanyu mengingat perbincangannya dengan pamannya.
"Tolonglah paman?! please." Rajuk Abimanyu pada pamannya saat mereka sedang berkabar.
Abimanyu tidak mengenal lelah dan menyerah “Tidak! Aku tidak akan menyerah, bibi berhutang penjelasan padaku.”
Jeeeerrrr.... jeeeerrrr...
Handphone kembali bergetar.
"Siapa sih?"
__ADS_1
Sembari duduk di taman kampus seorang diri' rileks! dia mulai membuka handphonenya.
Huuuuuuuufffg....
'Paman yoga' tertera di pojok notifikasi.
Hah!
Sempat ternganga dan berharap banyak, Abimanyu langsung mengangkat pangilan, namun justru terputus.
Sudah berbaris dua puluh sembilan kali pangilan tidak terjawab.
"Ada apa paman melakukan panggilan sebanyak ini."
"Paman!" tanpa basa-basi Abimanyu langsung menyambut pamannya dengan rasa rindu.
"Apa kabar paman? aku baik-baik saja!'' Sayang sambungan telepon terputus, sudah di pastikan sinyal buruk, Abimanyu Sanggat tau keadaan kampung halamannya. Namun kemudian sederetan chat pribadi lewat aplikasi WhatsApp datang.
“Pulanglah, jika ingin bertemu bibimu, tapi janji ya den, jangan nakal, ini kesepakatan kita. Jangan sampai bibimu tau bahwa Paman yang kasih Khabar ke Aden."
Kalimat dalam pesan singkat itu sungguh sebuah mukjizat bagi remaja yang di landa rindu panjang itu.
Abimanyu melompat saking bahagianya. Mukjizat yang bisa membuat dirinya hidup seribu tahun. Mukjizat yang mampu membuat Abimanyu berlari melangkahi seribu pulau. Tidak menunggu besok atau menit berikutnya, pemuda inipun terbang ke kampung halamannya.
MENGUBUR RESAH
-------Arjuna Bayu-----
Di tanah basah ini kukubur resahku
Dialtar Sunyi aku bersembunyi
__ADS_1
Mencoba menghapus rindu yang membatu
cintaku tak bertuan
tinggal senja dan kenangan
Resah ini berkalang jalan
Bersimpuh
mengemis pada debu jalanan
terakhir
Mencoba berdamai dengan takdir
Untuk sebuah rasaku
Pergi menghilang lah resah
Ingatan terkubur dengan kisah gelisah
Untuk sebuah nama yang kupuja
Aku telah rela mengalah
Menjauh pergi bersama lelah
29042022/11:09
__ADS_1