
Cahaya matahari menerobos masuk melewati celah jendela, cahayanya sangat indah dengan bias warna warni.
Abimanyu menghela nafas panjang. Sarapan pagi, kopi, juga buah-buahan habis sudah ia hajar. Acara selanjutnya adalah mandi dan pulang.
Lama-lama di rumah orang bukan hal yang baik, selain akan terlihat tetangga kanan kiri juga bisa jadi kemungkinan besar dia di hajar lagi oleh para wanita kesepian itu.
Khayalan Abimanyu meredup pada malam panjang penuh dengan makan malam. Ia memejamkan mata, mengingat saat-saat ia mencapai puncak Himalaya, juga saat-saat dirinya di nikmati, tercabik-cabik oleh mereka itu sangat mengerikan!
“Ini benar-benar Gila!”
Meskipun Abimanyu terlihat Santai tapi hatinya sangat tertekan.
“Ada banyak hal dimuka bumi ini yang akan kamu hadapi dikemudian hari, Abimanyu, belajar lah untuk dewasa.” Teringat, seorang Gita pernah memberikan nasehat.
“Bibi...”Abimanyu menelungkupkan kedua tangannya mengusap wajahnya dengan keras, meskipun dia sadar apa yang terjadi semalam, entah itu sebuah kenikmatan atau justru kesakitan. Abimanyu juga sadar bahwa dirinya tidak terkendali.
Dalam ketakutannya Abimanyu menikmati semua sensasi dan itu semua adalah pengalaman baru untuknya.
“Bibi...” kali ini tangis Abimanyu pecah, mengenang kesalahan yang ia lakukan berulang-ulang, jika Seandainya Gita tau bahwa dia telah ternoda, menjadi lelaki penikmat wanita, apa yang akan akan terjadi.
“Mungkinkah bibi Gita masih menerima diriku! Atau aku akan di usir jauh-jauh? Tuhan!”
Gemericik air mengguyur tubuhnya yang bongsor. Bekas merah bertebaran di mana-mana, Seperti cambuk menghantam relung hati.
CTAR!
cermin kamar mandi Mardalena pecah oleh tinjunya. Hatinya laksana reruntuhan bangunan kuno yang berserak tak berharga lagi.
__ADS_1
Di wajahnya melintas bayangan Gita, menjadi kabur dan buram.
“Bibi!”
Air mata tak ingin berhenti mengalir, bersama derasnya air menguyur tubuhnya. Dalam kebasahannya Abimanyu meraung sendiri.
Hah!
Dia menelungkupkan tubuhnya di sudut ruangan cukup lama.
Ha-ha-ha
Seperti orang gila Abimanyu kembali berdiri mengambil handuk melilitkan ke tubuhnya dan keluar.
“Aku sudah berkumis rupanya.”
“Aku kurusan,”
Dia bercermin cukup lama di kamar wanita nikmat Mardalena.
Mengagumi wajahnya sendiri menikmati setiap lekukan tubuhnya, "aku memang tampan."
huuuuuuuufffg! "Gila! Mimpi apa aku malam ini, terasa masih ngilu seluruh persendian." Ucapnya lirih.
Disudut bibir Abimanyu tersungging senyuman samar.
"Jadi penasaran seperti apa rasa bibi Gita ku, hah...!"
__ADS_1
Abimanyu tersenyum nakal pada cermin, ia menggores nama wanita yang ia cintai itu di atas cermin dengan embun yang keluar dari mulutnya.
"Tunggu aku bibi."
****"
Abimanyu adalah anak yang gigih dalam mencapai tujuan. Tidak gampang menyerang atau berprasangka buruk dengan kegagalan. Berpegang teguh pada prinsip dasar 'hidup adalah bentuk lain dari perjuangan, kesabaran, dan belajar, jangan menyerah jangan menyesali kesalahan juga jangan putus asal.'
Kali ini dia harus berterima kasih pada Mardalena karena sudah mengenalkan padanya pada pengalaman pertamanya menikmati wanita.
“Ternyata wanita memiliki rasa yang berbeda.”
Sejak malam panjang itu terjadi Abimanyu berubah menjadi seorang musafir yang selalu kelaparan dan kehausan. Makan dan makan yang ia kejar. Mardalena pun semakin keranjingan mengenalkan remaja itu dengan banyak kalangan.
Bagaikan kerasukan iblis Abimanyu pun menikmati semua tanpa beban.
Ini adalah cara yang dia pilih!Abimanyu tidak pernah menyesali, baginya semua hanya proses kehidupan.
Menikmati sensasi rasa baru dalam pengalaman baru.
“Semua pengalaman memiliki resiko dan semuanya tidaklah murah.” Pikirnya lebih dewasa.
"Saatnya nanti aku pasti menggapaimu bibi, apapun yang terjadi, aku akan mengejarmu. Jangan pernah lari! karena aku tidak peduli sejauh apa engkau pergi aku akan mendatangimu."
'Aku jadi penasaran seperti apa rasa bibi sagittarius,' hah...! Abimanyu tersenyum nakal pada cermin, ia mengores nama Wanita yang ia cintai di atasnya dengan embun. "Tunggu aku bibi."
__ADS_1
Rupanya Abimanyu sudah dewasa.