
Sepasang kaki dengan sepatu hitam dan celana panjang nyantung terlihat dari balik rak barisan etalase sebrang.
"Eh,''
'itu kakinya cakep banget, ramping dan bersih.'
Aku penasaran dalam hati, Siapa pemilik kaki indah itu.
“Gigi!” panggilku sedikit kuat, aku mengendap-endap mencari tau.
Ctak!
“Aduh! Siapa sih? Main pukul sembarangan!” teriakku, spontan melihat ke arah belakang.
Aku tidak dapat menyembunyikan rasa kesalku, namun ketika melihat yang dibelakangku, aku langsung meleleh.
“Kamu...” mulutku monyong marah bercampur...
Senang.
“Mencari apa?” si mata Silverqueen berdiri di depanku, dia menatapku sedikit meneliti apa saja yang ada di sekitarku.
Matanya yang indah berputar seperti bola marmer, Sangat menarik.
Iiiih, bikin aku deg deg gan, nggak karuan.
“Cari apa?” katanya lagi.
“Nggak kok,” jawabku asal-asalan.
__ADS_1
“Apa?” mata Silverqueen terus menjelajahi wajahku. Tiba -tiba tangannya bergerak cepat menyibakkan rambutku yang menutupi dahi. Itu membuat aku tersipu, wajahku memerah.
“Aku Cuma mau nongkrong, aja.” Marsel mengangguk-angguk, pelan.
“Ikut aku yok,”
Belum sempat aku menjawab ajakannya, Marsel sudah menarik tanganku “ke mana?” tanyaku, dengan terkejut.
Marasel membawaku berlari keluar swalayan, menghampiri motor Vixion merah miliknya.
“Kita mau ke mana? temanku akan kebingungan mencariaku, aku tidak pamitan sama mereka!”
“Budux mamat!”
Vixion merah melaju kencang melewati keramaian, jauh meninggalkan tempatku semula bermain. 'Gigi pasti akan kebingungan mencari aku yang pergi begitu saja, *m*udah-mudahkan dia tau aku pergi.' Pikirku dengan rasa bersalah.
Marsel membawa aku pergi ke suatu tempat yang sangat luas biasa “tempat apa ini?” ia tersenyum, “ini tempat aku nongkrong.” Katanya pelan.
Ia memungut batu dan melemparkan batu kecil itu jauh.
“Tempat apa ini?” tanyaku padanya sekedar ingin tau “seperti tempat balap motor.”
Seseorang yang ada di bawah sana melihat ke arah kami, ia melambaikan tangannya.
Hebat batu yang dilemparkan Marsel mengenai punggungnya.
“Ini tempat aku selalu menghabiskan waktu, tempat yang aman untuk nakal, tanpa harus merugikan orang lain.” Kata Marsel, ia menyandarkan punggungnya di garis pembatas, matanya indah memancarkan cahaya teduh.
'Gila! Marsel begitu indah.'
__ADS_1
“Oh, ya?” Kataku tanpa mengurangi rasa kagumku padanya.
Marsel mengangguk-angguk pelan tangannya merangkul pundakku dan matanya lepas memandang ke depan.
Ini pukul 16: 22 sudah ada beberapa pembalap yang mengitari arena balap, saling kejar dan saling mendahului.
“Sepertinya asyik”
katanya tanpa melihat ke arahku.
Wooooow... Marsel begitu indah, mata coklatnya terlihat seperti coklat Silverqueen, menatap jauh ke depan. Rambutnya yang sedikit panjang bergerak di tipu angin.
Aku tidak konsentrasi dengan balapan liar yang sedang di bahas oleh Marsel, karena aku terlalu sibuk menganggumi dirinya yang terlampau indah.
“Mau mencoba, bermain?” aku tertegun melihat aura tampannya yang mampu membuat aku mengangguk tanpa tau apa yang ia katakan.
Ia menarik tanganku menuruni tangga.
“Halo boy, cewek baru? Mudah kali, kau dapat cewek, baru putus kemarin, dah bawa yang baru.” Seorang wanita cantik dengan baju balap menghampiri kami, ia memberikan helmnya padaku “kenakan ini,” katanya sopan.
“Gue mo jalan, Jangan mengganggu, oke...!” wanita cantik itu pergi begitu saja meninggalkan kerumunan setelah memasangkan helm padaku. Marsel Sibuk dengan motor trail yang akan membawa kami mengitari arena balap.
“Apa?” kataku tidak mengerti melihat mata Marsel ke arahku.
“Naik..”
“Aku...? no!” Marsel menyentuh daguku lembut ia mengangguk pelan, tangannya membantu aku membenarkan helm. Dengan ragu-ragu aku pun ikut bersamanya.
Motor melaju berlahan, semakin kencang, dan mulai kencang.
__ADS_1