
Siang hari terasa panas, terik matahari siang menembus atap ruang kelas.
“Ibu menemani aku sejak tadi,” kata Abimanyu pelan, dia berinisiatif menyentuh tangan gurunya, tidak ada sengatan listrik, dia terus memainkan jari-jari lentik itu. Lalu di tariknya dengan pelan, agar gurunya duduk kembali.
Wanita yang ia kencani sudah hampir lima bulan itu membiarkan tindakannya. Membuat dirinya lebih berani, dia mencengkeram tangan itu dengan kuat, Abimanyu yakin dengan begitu, moodnya bisa kembali seperti semula.
Tapi, ternyata tidak! benar-benat tidak ada pengaruh, suasana gundah dan gaduh hatinya masih tetap bertengkar dan berkelana menjelajahi dunia sunyi nya. Abimanyu masih tinggal dalam bayangan rindu pada sosok sagittarius.
Suasana gedung sekolah sudah teramat sepi, suara kesunyian memeluk keduanya dengan nyaman, Abimanyu masih duduk bungkam sedangkan Mardalena hanya mengamatinya.
Sesekali tangan kanan Mardalena menyibakkan anak rambut Abimanyu yang mulai menutupi mata, di dalam tatapan Abimanyu ada seribu harapan tersembunyi.
Wajah ayu Mardalena tampak tenang, dia sesekali menyambut jari-jari Abimanyu, mencengkram dan menarik-narik, keduanya saling memainkan jemari seolah dalam diamnya mereka ada perbincangan yang hangat, dihati masing-masing.
Mardalena menatap ruang kosong. Tatapannya berakhir pada wajah tampan didepannya mereka saling tatap akhirnya kesunyian yang semakin sunyi menciptakan tragedi.
“Kamu imut sekali kalau lagi galau,” canda Mardalena yang sudah duduk dihadapan Abimanyu, pinggulnya yang pasang merangsak masuk ke ************ Abimanyu mencari tempat nyaman.
“Di mana Abi yang gahar kemarin?” katanya menyandarkan tubuhnya yang berisi ke dada kekasihnya.
“Dimakan tikus! Ibuuuuu...!” Abimanyu memeluk Mardalena dari belakang menggoyangkan tubuhnya. Lumayan,sedikit menghibur diri!
__ADS_1
“Ada yang kamu inginkan?” tanya Mardalena padanya dengan pelan lebih pelan dari hembusan angin yang melewati keduanya.
“No!”
“Ayok pulang, tidak baik jika ada yang melihat kita berdua seperti ini.”
"Eh," Abimanyu mengangguk, satu ciuman mendarat di bibir Abimanyu, hisapan pelan yang dilakukan guru cantiknya ini secara alami menarik perhatiannya.
Entah dia sengaja atau hanya sekedar rutinitas saja, dengan tiba-tiba kejadian itu menariknya untuk maju, ia ******* balik bibir seksi dengan lipstik Orenge rasanya manis.
Seeeet!
“Apa kamu Sanggat mengingginkan aku?”
Abimanyu hanya diam saja mendapatkan pertanyaan seperti itu, ia menjilati bibirnya menikmati rasa yang baru saja ada.
Rasanya ciuman gurunya masih sangat nikmat untuk segera dilupakan, bibirnya terasa sangat manis di lidah, bahkan memiliki rasa yang berbeda dari bibir Dhea dan wanita yang pernah ia tiduri lainnya.
Apakah wanita memang memiliki rasa yang berbeda?” Pikir remaja ini dalam hati. Lalu tanpa sadar ia meraih kembali wajah ayu yang masih ada di depannya. Kali ini dia lebih interest ******* bibir gurunya, lebih ganas dan lebih bersemangat.
Fick! hari ini Abimanyu menang lotre, makan siang yang sangat nikmat. Dia menghabiskan waktu bersama guru matematikanya, di bawah atap sekolah dengan terik matahari siang panasnya menembus angka sepuluh serasa hidup di oven.
__ADS_1
******
Sore hari,
Seperti biasa Abimanyu akan menjadi pencuri di rumah sendiri. Gita mengunci kamarnya dengan rapat, tapi Abimanyu ahli dalam bidang ini, dengan sedikit usaha dan kerja keras ia bisa membuka kamar Gita dan masuk dengan leluasa.
Rencana yang sudah ia susun rapih adalah mencuri kunci kamar Gita yang di simpan paman yoga, lalu masuk dan membuka jendela agar bisa keluar masuk dengan leluasa.
Hari yang mulai gelap mengantarkan Abimanyu ke rumah sahabatnya Hendrik, ia membawa sebuah kotak yang tidak seberapa lebek juga tidak begitu padat.
"Buatkan aku kunci duplikat nya." katanya pada Hendrik.
Lelaki gendut itu menolak-balik kotak itu.
"Siap bos."
Setiap malam Abimanyu tidur di kamar Gita menikmati beranda dalam kamar itu dan menikmati setiap sensasi aroma Gita.
Yoga dan istrinya tidak sepintar Gita, jadi dengan mudah Abimanyu mengelabui keduanya.
Seperti malam ini Abimanyu dengan bebas bergerilya di kamar Gita tanpa takut ketahuan.
__ADS_1