Belibis Senja

Belibis Senja
DIARY MILIK GITA


__ADS_3

Aku tidak akan menyerahkan Abimanyu pada siapapun. Dia milikku! Meskipun aku tidak tau hendak ke mana, yang jelas aku harus pergi, yang aku inginkan saat hanya pergi dari mereka sejauh yang aku bisa.


Abimanyu adalah milikku!


Kegelapan memeluk malam, dengan pekatnya menjadi pemandangan. Di depanku seperti altar kosong yang pekat yang tidak bisa kutembus dengan akal sehat.


Ngeri! ini pertama kali aku melintasi hutan belantara yang dikelilingi bukit-bukit, seorang diri.


Di mana aku?


Kusapukan pandanganku keseluruh penjuru. Kebingungan membawa aku pergi jauh meninggalkan kota Jogja dan terus melintasi keramaian.


Berakhir berada di kapal Veri menuju Lampung.


Sepiiii.... ternyata Lampung daerah yang masih sepi, masih terjaga kesejukan alamnya.


Sempat kebingungan namun aku terus menjalankan mobilku.


Perjalanan berakhir disebuah kota kecil, dan kami menginap di sebuah hotel sederhana.


Abimanyu menatapku, matanya yang bening bulat, imut sedikit merah karena baru saja terbangun dari tidurnya.


Mata bulat itu mengerjab imut. “Kamu lapar?” tanyaku, ia mengangguk.


“Mau makan apa?” Abimanyu menggeleng pelan, ia imut sekali.

__ADS_1


Seperti biasanya aku akan membawanya mencari sesuatu yang nikmat di lidah.


Ini bukan pertama kalinya kami makan di pinggir jalan.


“Enak.” Katanya ia memelukku, badannya yang bongsor sudah tidak pantas duduk di pangkuanku meskipun ia masih berusia en tahun.


Kucubit hidungnya yang bangir membuat ia mengeleng -gelengkan kepala kesakitan.


Mulutnya terus mengunyah-ngunyah makanan seolah sangat menikmati.


“Buk, ada kontrakan murah nggak di sekitar sini?” tanyaku pada seorang ibu yang ada di kedai kaki lima itu.


“ Dari mana dek?”


“Oooh...ada, jika kamu tidak keberatan, nanti bisa kami antar.”


“Makasih pak," Suasana pedesaan yang nyaman, sambutan yang ramah. Aku tersenyum melihat Abimanyu yang manis duduk dengan rapi oooooohhhh dia pangeran ku, pangeran Silverqueen.


Abimanyu, memang tidak suka berbicara dengan siapa pun, ia hanya berbicara denganku saja, bahkan dengan ayah ibuku pun ia jarang berkomunikasi, mungkin memang sifatnya pendiam.


Namun saat bersamaku ia bisa sangat liar, nakal, pintar dan lincah.


“Aku hanya mau bersama bibi!” katanya, ia mengatakan hal itu ulang-ulang sampai aku bosan.


Sama persis dengan diriku sendiri.

__ADS_1


“Aku hanya ingin bersama Abimanyu,”


Aku tersenyum karena aku akan selalu mengulangi kata-kata itu berkali-kali, dan aku tidak pernah bosan mengatakan hal itu.


"Hahahaha...aneh ya?" aku berbicara dengan Abimanyu, dan kami tertawa.


“Abi dah kenyang?” Abimanyu mengangguk.


Ibu pemilik kedai menyuruh seseorang untuk mengantarkan kami melihat kontrakan yang kuinginkan. Sepetak rumah berderet rapih, lumayan.


“Abi, kita minap di sini ya?” mata mungil kesayanganku mengerjap imut,


Ku terima kunci rumah kontrakan itu, lumayan, dalamnya rapih, tapi tidak ada kasur di sana.


Yaaaah,...lenguhku sedikit kecewa. Harus beli kasur dong.


“Yok kita jalan-jalan Abi,”


Kami memutari tempat itu dengan bahagia, mencari inspirasi dan mulai mengenal lingkungan. Akhirnya pukul 22:00 kami berakhir di hotel tempat kami menginap semula.


Aku tersenyum, kami tidur berhimpitan, kupeluk tubuh mungil kesayanganku. Aku tidak memiliki Beban apapun saat bersamanya.


“Abi, aku hanya ingin bersamamu selamanya,” bisikku pada pangeran kecilku, dan seperti biasa ia akan menelungkupkan tubuhnya dalam pelukanku.


inilah sepenggal cerita cinta seorang Sagittarius.

__ADS_1


__ADS_2