
Abimanyu tidak mengerti apapun tentang Sagittarius, yang dia tau selama ini mereka hanya hidup berdua saja. Tentang asal usul sagittarius dan dirinya, masih menjadi PR yang belum terpecahkan.
Mata remaja belasan tahun itu tidak berkedip, menatap raut kesayangannya dengan ekspresi wajah memelas.
“Bibi akan ada urusan di luar kota cukup lama, kamu sama mereka ya? jangan nakal.”
Kali ini Abimanyu bisa merasakan betapa halusnya telapak tangan bibinya, jari lentik itu menyibakkan rambutnya yang tergerai acak-acakan.
Dengan ragu dia bertanya “kok tiba-tiba?”
Seandainya saja Bibinya bisa melihat atau bisa merasakan detak jantungnya, yang seolah mulai berkobar membakar seluruh kegelisahan.
“Aku hanya akan pergi satu bulan, Abimanyu, jaga dirimu dengan baik, jangan nakal dan...’’ ucap Gita sekali lagi, kali ini wajah keduanya berhadapan begitu dekat saling bertatap mata, saling
memanah, ada bunga -bunga bertebaran mengelilingi mereka. Tidak bisa di pungkiri bahwa cinta sudah menjadi racun bagi anak Adam dan hawa yang beda spasi itu.
"Aaa, bi...!''
Buru-buru Abimanyu membuang pandangannya, dia tersenyum sekedar melegakan keadaan.
"Oh." Seperti terciduk, Gita langsung membenarkan rambutnya yang sedikit berantakan, rambut yang digulungnya ke atas itu terlepas dari ikatan membuatnya tergerai indah.
"Kamu jangan nakal ya?" ucapnya kemudian berlalu.
Ha ha ha ... “oke” remaja itu melingkarkan jari telunjuk dan jempolnya membentuk lingkaran tanda setuju.
“Jangan lama-lama ya Bibi, nanti aku kangen...”
Gita mendelik jenaka, yang ditanggapi senyum nakal anak asuhnya itu.
Sebenarnya Abimanyu begitu penasaran, ingin bertanya hendak ke manakah, tapi ragu.
“Okelah aku akan menanti bibiku yang cantik kembali. Ingat! Aku akan menikahi Bibi nantinya.” Kata Abimanyu mengancam Gita dengan matanya yang tajam “Jangan coba -coba melarikan diri.” Lanjutnya lagi.
__ADS_1
*****
Selasa...
Seperti kegiatan biasanya, Abimanyu berangkat sekolah.
Hari ini hari pertama tanpa Gita. Dia sengaja menolak di antar oleh Yoga pamannya. Setelah Gita pergi rutinitas menaiki sepeda onthel menjadi miliknya. Dengan begitu dia masih bisa merasakan kebersamanya bersama bibinya.
Hari-hari pun berjalan seperti biasa, tidak ada yang istimewa, waktu tidak mau ambil pusing dengan semua hal yang terjadi.Flet.
‘Hampa’ "iya! aku gabut tanpa bibi."
Ada yang menghilang dari kehidupan Abimanyu, hari-hari ceritanya oleh dimakan oleh rasa cintanya yang pergi.
Rasanya pergi bersama bibinya, yang tinggal kini hanya raga tak bersukma.
Di sekolahnya Abimanyu lebih banyak diam, tidak ada semangat apa pun untuk melakukan kegiatan. Duduk, diam, rebahan bermalas-malasan.
Tidak ada yang istimewa, bahkan kekasihnya sendiri Mardalena tidak memiliki daya tarik untuk membuat semangatnya kembali.
Ia duduk di sebrang meja berseberangan dengan remaja tanpan yang sudah Manarik perhatiannya sejak dia datang sebagai guru di sini.
Kali ini dia sengaja menatap Abimanyu dengan wajah nakal, berkali-kali menjilati bibirnya yang tidak kering, lalu tersenyum.
Tapi senyuman menggodanya tidak mampu membuat remaja ini bereaksi.
Huuuuuuuufffg....dengan berat Abimanyu menghempaskan nafasnya.
“Ibu kenal sama bibi?” Pertama kali membuka mulutnya yang di tanyakan oleh Abimanyu adalah Gita.
“Kami satu asal, pernah dalam satu sekolah.”
“Emang bibi dari mana? Kok satu asal sama ibu, kan dari kecil kami di sini?”
__ADS_1
“Oh, kamu tidak tau?”
“Ya, nggak tau!”
“Bibimu dari Jogja, dan kamu...” kata-kata Mardalena menggantung, seperti takut mengatakan hal yang salah. Senyum manisnya mengembang tergantung di awan kelabu, karena apa yang ia ucapkan tidak selesai, hanya membuat remaja ini penasaran saja.
“Apa?”
Mardalena menggelengkan kepalanya.
“Kok aku baru tau ya, bibi dari Jogja. Sekarang bibi ke mana?”
“Lho ko tanya padaku, emang dia nggak pamitan?” Abimanyu menggeleng pelan. Mardalena juga tidak tau keberadaan Gita, itu terlihat dari mimik wajahnya.
“Berarti ibu tau alamat rumah bibi, di kampung halaman?” tanya Abimanyu sedikit bersemangat. Dia terus bertanya sambil menelungkupkan wajahnya di meja.
Remaja yang sedang dilanda cinta itu tidak bisa menahan kesedihannya, saat menyebut nama Gita “setega itu bibi padaku.” Bisiknya lirih.
Mardalena adalah seorang guru, seorang yang sudah dewasa, dia bisa memastikan bahwa rasa yang dimiliki Abimanyu untuk seorang Gita, bukan sekedar rasa kakak beradik melainkan rasa memiliki yang teramat besar.
Abimanyu bukan seorang anak yang pandai menguasai diri. Guratan gundah di wajahnya jelas mengatakan. 'It's love '
“Memang, Gita nggak pamitan saat pergi?” tanya Mardalena lagi sedikit mencoba membuat suasana hati Abimanyu menjadi ringan. Remaja yang mulai menginjak usia dewasa ini menggeleng, dia tidak berani menatap wajah gurunya, matanya memanas dan hidungku terasa sangat berat.
Terlihat sekilas olehnya wajah gurunya yang bingung.
Wanita cantik ini bergumam seperti kumur-kumur tidak jelas.
“Kamu menangis?” Mardalena mengusap sedikit rambut gondrong Abimanyu, membuat Abimanyu justru tidak bisa menahan air matanya, sesekali dia sesenggukan. Dipipinya mengalir air mata. Meskipun dengan mati-matian remaja ini menahan isak namun akhirnya buncah Juga dalam keluh kesah.
“Dia pergi untuk kembali kan?” katanya dengan suara parau.
"Dia pasti kembali," hibur Mardalena.
__ADS_1
Huuuuuuuufffg...
Abimanyu menengadahkan wajahnya menatap langit-langit kelas. “Pulang yok,” Mardalena langsung beranjak berdiri, ia sudah berada di depan Abimanyu cukup lama. Siswa-siswi yang lain sudah meninggalkan kelas masing-masing, bahkan staf guru pun sudah pergi. Namun keduanya masih bercengkrama dengan gelisah masing -masing.