
Malam yang panjang seperti parasit terus merambat berlahan-lahan tapi pasti. Makanan dan jus lemon yang disuguhkan Mardalena habis’ sudah.
Acara wanita-wanita ber-uang itu belum usai, meskipun suara gaduh di luar ruangan mulai mereda namun masih ada perbincangan.
Huuuuuuuufffg....
Tiba-tiba Abimanyu merasakan gerah, matanya yang kantuk menyusuri setiap sudut kamar mencari penampakan kipas angin.
“Buk, panas!” 'aneh' Abimanyu membuka pintu, mencoba mencari Mardalena, keringat mulai bercucuran membuat wajahnya lembab, semua mata kearahnya.
Abimanyu melongok ke pintu, kepalanya kisruh ramai ‘aneh’ dengan diri sendiri telinganya berdengung juga geli seluruh tubuhnya merinding.
Ada sengatan-sengatan listrik bertenaga kecil mengalir di seluruh persendian otot! ‘apa'
“Ada apa?” Mardalena yang kini memakai baju tidur transparan menghampirinya.
Perbincangan para ibu-ibu ber-uang tertunda, entah apa yang menjadi topik mereka, yang jelas Abimanyu menjadi seperti ikan yang kehilangan airnya, menggelepar tidak berdaya, rasa panas yang ia rasakan membakar tubuhnya, ada sengatan nikmat pada satu titik vitalnya, ini seperti rasa akhir dalam permainan ****, seolah Abimanyu ingin menghabiskan air seninya sendiri.
Malam yang gelap menjadi horor seketika, Lampu berubah menjadi remang-remang. Mata remaja yang beranjak dewasa menjadi redup memudar dan akhirnya tenggelam dalam lautan kenikmatan.
Ini gila! Benar-benar gila! Demi apa?
Abimanyu sangat lihai, dan begitu liar, ini menandakan bukan yang pertama baginya, bermain bersama wanita.
Abimanyu bahkan memiliki teknik tersendiri untuk gaya manuvernya, dan dia mampu memotivasi dirinya sendiri untuk Setiap permainan. Terus melakukan inovasi, dalam keadaan setengah sadar.
Abimanyu terlihat bukan lagi seorang anak yang polos, terbukti dia mampu memuaskan mereka semua dalam satu malam.
Ini bukan sebuah masalah, karena wanita yang bersamanya malam itu adalah wanita yang sudah berpengalaman, mereka mampu memegang kendali saat berhubungan intim.
__ADS_1
*****
Jrrrr...jrrrrr...
Suara getaran handphone membangunkan Abimanyu. Tubuhnya terasa ngilu di mana-mana. Pengalaman pertama menjadi pengelana tidak sulit.
“Halo!” suara Abimanyu malas.
“Hei! Bijik kedondong! Di mana Lo?”
“Adalah! apa?”
“Aku ada di depan rumah, goblox!”
‘Anjai, Reno kurang ajar, pagi-pagi dah ngatain aku goblox! Biji kedondong’
Abimanyu bangkit berdiri dengan serampangan.
“Aduh! Sakit Mak!”
“Abi! Ada apa? Kamu ngapain? Sakit! sakit apa?”
Abimanyu tersungkur ke lantai. Dia baru saja ingat kejadian semalam. Pantas saja badannya terasa sakit semua, bagaikan di timpa batu berton-ton beratnya.
Kakinya pegal-pegal kepalanya pusing.
“Aku kebanyakan minum kali ya? Tapi, aku nggak minum."
Heh! remaja itu memiringkan kepalanya, "Jangan -jangan aku dicekoki minuman aneh semalam.''
__ADS_1
"Dasar Mak-mak nggak berakhlak, anak kecil juga di kerjain!" Abimanyu ngedumel panjang, sembari bangkit dengan sudah payah.
Secarik surat tergeletak di atas meja, Abimanyu meraihnya.
“Abi! Kamu di mana? Aku di depan rumah nih.” Suara Reno terus memanggil-manggil dari sebrang.
‘Kesayanganku minum kopi sarapan dan istirahat.’
Secarik surat dari Mardalena. Ada termos kecil diatas meja juga mangkuk yang tertutup.
“Nasi goreng.” Tau aja Mardalena kesukaan mainannya.
Heran? Abimanyu memutar matanya melihat keadaan kamar.
Biasanya kamar seorang yang memiliki uang banyak, seperti kamar pengantin baru atau kamar sultan dengan kemewahan, sangat bertolak belakang.
Abimanyu menikmati makanan juga kopi yang sudah di seduh Mardalena.
Dia mengingat tragedi panas semalam.
Jarum jam dinding menunjukkan angka 08:00, Sudah siang, Abimanyu melihat sekeliling, ia melilitkan handuk bersiap mandi. Meskipun badannya serasa remuk tapi pengalaman pertamanya tidak buruk.
“Tampan, istirahat sebentar, sarapan dan nikmatilah kopi buatanku. Terima kasih untuk malam ini.”
Chat WA dari Mardalena.
Huex... perut Abimanyu tiba-tiba mual, dan akhirnya dia menghabiskan semua isi perutnya di kamar mandi.
“Bisa-bisanya mereka mengerjai aku habis-habisan.”
__ADS_1