
Dalam derasnya air hujan Anggun menenggelamkan tangisnya. Ada kereta bayi juga penghuninya. Bayi mungil tertutup rapat selimut, percikan air menimpa wajah bayi itu seperti pijar cahaya kecil yang pecah, bayi itu begitu indah.
“Gita, maafkan aku,” katanya sedih. Aku terdiam, tak sedikitpun mataku melihat wajah Anggun, aku tidak sudi melihatnya!
Semua sudah terlambat bagiku, apapun yang ia katakan hari tidak berguna, tidak akan merubah hari yang sudah berlalu.
Bahkan aku sudah memaafkan dirinya sebelum dia meminta.
“Tolong aku Gita,”
“Apa lagi? Bukannya yang paling berharga bagiku sudah kamu rampas! Aku sudah tidak punya apapun untuk kamu rebut Anggun!” kataku sedikit luru.
Anggun menangis, sejadinya. Untuk apa? air mata yang sia-sia. Bahkan air matanya itu tidak akan terlihat karena air hujan menimpanya lebih deras.
“Untuk apa aku menolong kamu, Anggun, tidak ada gunanya.”
“Gita, maafkan aku,”
“Aku sudah memaafkan kamu, tidak perlu memintanya. Tapi, tidak untuk mengulangi kesalahan yang sama.” Jawabku, kali ini aku mencoba menatap wajah wanita yang sangat cantik dan anggun seperti namanya itu.
“Aku tidak memiliki apapun yang tertinggal diruang hatiku untukmu,” lanjutku lagi, “pergilah.” Aku membalikan badanku untuk segera pergi.
“Gita, ini soal anak Marsel!” suara Anggun mengencang bersaing dengan suara hujan.
Aku terdiam menghentikan langkahku. Rasanya aku ingin menampar wajah Anggun. Aku sangat jijik mendengar dia menyebutkan nama Marsel di hadapanku.
Aku merasa mulut kotor itu tidak pantas menyebutkan nama Marselku. Tapi...
__ADS_1
“Apa yang bisa kulakukan untuk Marsel?”
“Gita, Marsel..." Anggun mengantung ucapannya.
"Gita! Marsel tidak mau mengakui anakku sebagai milik, dia ingin membuang anakku, tolonglah, rawatkan dia Gita.”
Hujan mulai reda, bahkan bias pelangi muncul begitu indah di sudut langit terpancar bersama cahaya matahari.
Sesosok bayi lelaki berbalut selimut berada di kereta bayi, mengemaskan.
“Jika aku tidak membuangnya maka Marsel yang akan melakukannya. Gita! maafkan aku, tolonglah.”
“Baiklah, aku mau merawatnya. Tapi, hitam di atas putih, kamu tidak boleh merampasnya lagi dariku, dan jangan pernah datang untuk mengatakan apapun padanya kelak. Dia adalah anakku dan hanya milikku.”
Meskipun dengan berat hati akhirnya Anggun melepaskan bayi itu untukku.
Papa benar, akan ada rahasia di balik cobaan yang Tuhan berikan kepada hambanya, jangan pernah berburuk sangka atau berkhianat pada Tuhanmu ketika duka melanda, percaya saja bahwa pelangi akan datang setelah ada hujan Guntur petir dan kilat.
*******
FLASHBACK
Lirik lagu kesayangan milik Al Ghazali mengalun merdu. Masih basah di ingatan. Lagu yang selalu dilantunkan Abimanyu, karena lagu itu adalah lagu kesukaan Gita.
Saat menemani Gita sibuk dengan hasil panennya, Abimanyu akan menyanyikan lagu itu.
Ah, betapa rindunya Abimanyu pada sosok Gita. Sepenggal kisah sedih sagittarius yang tercurah di dalam buku diary miliknya sudah habis dibaca Abimanyu.
__ADS_1
Abimanyu baru menyadari, bahwa dirinya adalah anak seorang penghianat. Betapa sakit hatinya mengetahui kenyataan itu.
Abimanyu menghembuskan nafasnya dalam-dalam, entah rasa yang seperti apa yang ada di dalam hatinya saat ini, genap sudah Satu bulan sagittarius pergi.
Besok adalah hari Senin, tanggal baru dan bulan Baru. Jika Gita tidak ingkar janji harusnya besok dia sudah kembali.
Huuaaaah.... Abimanyu menguap, menyambut pagi yang cerah.
Semalam dia sengaja tidur lebih awal. Abimanyu berharap ketika dia membuka mata, Gita sudah ada di depannya.
Setelah sekian lama dia menanti pagi ini adalah finis.
Jika janji Gita tidak di tempati, makan Abimanyu memutuskan akan mengambil tindakan sendiri, menyusulnya.
Paman dan bibi yoga selalu berbohong, tidak tau keberadaan Gita.
Bohong! Mana mungkin mereka tidak tau. Mereka sengaja menyembunyikan semua kebenaran.
“Yang penting kamu sekolah, lulus dan hidup yang baik Abi,” kata paman yoga menanggapi semua pertanyaan yang selalu dia lontarkan Abimanyu. Mereka berdua sama saja, tidak memberikan jawaban yang di inginkan Abimanyu.
Seperti biasanya setiap pagi Abimanyu akan pergi ke sekolah, dengan mengendarai sepeda onthel kesayangan Gita.
Akhirnya Abimanyu mendapatkan kebenaran tentang dirinya. Meskipun dia sedikit kecewa.
Ketika Abimanyu membuka matanya dan Gita belum kembali seperti jajinya, Abimanyu tidak ingin buru-buru berspekulasi apapun, dia dengan sabar 'mungkin nanti siang dia datang, mungkin sore, mungkin malam, dan akhirnya sampai pagi kembali datang Gita belum pulang' masih berharap Gita menepati janjinya.
"Sabar''.
__ADS_1
BERSAMBUNG....🤗🤗🤗🤗🤗