
Udara pagi selalu menjadi sahabat baik bagi Abimanyu. Kesepiannya tanpa Gita membuat dia selalu ditemani kesunyian.
Baginya sepi, sunyi, senyap yang diberikan malam, kicau burung hembusan angin sejuk, nyanyian dedaunan yang diberikan pagi adalah anugerah.
Anugerah bagi seseorang yang sedang dilanda gundah.
Sepi adalah tempat yang paling disukainya untuk menyendiri.
“Aku harus bisa menjadi yang terbaik untuk bibi,” pikir Abimanyu dalam hati.
Matahari pagi yang menerobos celah-celah dingin papan memberikan warna keemasan sangat indah namun tidak bisa mengurangi hati Abimanyu yang gelisah.
Huuuuuuuufffg
Remaja yang tengah di mabuk cinta ini menguap, dia menyapu seluruh ruangan di mana Gita selalu menghabiskan waktunya.
Matanya masih perih karena kurang tidur juga kurang istirahat. Sebulan yang mengurus energi.
Ah! ia melangkah meninggalkan kamar berukuran kecil dengan tumpukan buku-buku. Aroma wanita yang dicintainya masih sangat menyengat di kamar itu.
Dengan bergegas Abimanyu bangkit dan berlari keluar.
“Bik! Paman! Bibik yoga!.... paman yoga!” dia berteriak mencari paman dan bibi pengasuhnya yang selama ini menemani keheningan.
__ADS_1
Sejak kepergian Gita pujaannya paman yoga dan istrinya selalu setia mengasihi dirinya layak'nya seperti orang tua yang lengkap.
Sepi, "pada ke mana ya?'' Abimanyu terus mengitari seluruh ruangan, sekitar rumah sampai ke halaman belakang.
Sesekali Abimanyu melihat area perkebunan.
Hari ini adalah Senin kedua dari janji Gita. Satu Minggu sudah Gita mengingkari janjinya.
"Oh iya, aku baru ingat, paman dan bibi yoga berpamitan denganku beberapa hari yang lalu, Mereka akan mengunjungi makam kedua orang tuanya, itu adalah rutinitas mereka di bulan Januari. Hari meninggalnya kedua orang tua mereka dalam kecelakaan maut.''
Abimanyu mendengus kesal, tidak ada Gita yang berjanji akan pulang.
Dia menendang beberapa bunga yang berbaris rapi tak berdosa sehingga tercerai berai.
"Mengapa Bibi sekejam ini!
Bibiiii...! setidaknya berikan aku kabarmu!"
Abimanyu tidak bisa menahan lagi gejolak hatinya, dia menagis histeris.
"Bibi!''
"Mengapa pamitmu yang indah tidak bibi tepati! mengapa kamu pergi tiba-tiba, mengapa!"
__ADS_1
Abimanyu benar-benar tidak habis pikir dengan semua takdirnya, mencintai seorang wanita yang telah merawatnya sejak kecil.
*******
PAGI DI SEKOLAH.
Selamat pagi boz?” sapa Reno. Wajah Reno bersinar menyilaukan, sahabat Abimanyu satu ini memang paling bening di antara yang lainnya, tidak heran jika ia selalu gonta-ganti pasangan tapi dia tetap menyandang gelar jomblo 'kok bisa?'
''Jomblo adalah kenikmatan tersendiri untuk bisa menikmati banyak wanita tanpa setatus dan tuntutan hukum percintaan yang banyak aturan." Tegas Reno beralasan.
“Apa kabar, pagi!” si hitam Andre berlari -lari menghampiri Abimanyu dan Reno 'pagi adalah pangilan kesayangan teman-teman Abimanyu padanya. Mereka akan menyingkat pangilan untuk Abimanyu dan Reno.
Alasannya kedua remaja ini dikenali sebagai cahaya yang menyejukkan, selalu ceria tidak pernah marah setia kawan juga solidaritas yang tinggi.
Andre menghampiri kedua sahabatnya ini dengan berlari lari kecil, Perutnya yang gendut melompat -lompat seperti ingin berlari mendahuluinya.
Sahabat Abimanyu yang satu ini memiliki pesona unik, kebiasaannya adalah belum berbicara sudah tertawa.
Ha ha ha...
Tawa Reno pecah sangat keras melihat kelakuan Andre. Biasanya Abimanyu dan Reno akan meledek Andre habis-habisan. Tapi, kali ini Abimanyu hanya tersenyum, tidak ada apapun yang bisa di ekspresikan olehnya yang sedang dilanda cinta.
Seperti lembayung senja yang tergantung di hamparan awan ‘dia adalah gelisah yang tak berkesudahan'
__ADS_1