
Entah berapa lama aku terbaring di rumah sakit, masih berharap yang terjadi hanya mimpi dan aku siap menunggu Marselku kembali.
“Mama...” panggilku pada mama dan papa yang terkantuk-kantuk menungguiku.
“Eeeeeeeeeeh, anak mama dah sadar, Alhamdulillah...” mama terlihat lega.
Papa ikut bangun melihat wajahku, dia mengelus-elus pipiku.
“Anak papa Kenapa? Kok nggak pernah cerita.”
“Pa, Marsel...papa... Marsel ningalin aku, pa!”
“Eh, kamu tau, itu berarti seorang pangeran sedang di siapkan untuk anak papa,” papa mengerlingkan matanya dan memelukku. Dalam keadaan seperti inipun papa masih saja bisa menghibur aku dengan kekonyolannya.
“Pa, aku nggak mau tinggal di Jogja.”
“Baiklah, seperti yang di inginkan anak papa.”
Papa tidak menunggu waktu lama. Bali menjadi tujuan pelarianku.
Papa dan mama secara eksklusif mengantarkan aku ke rumah kakek.
“Bali I’m coming.”
__ADS_1
Orang berkata sakit Cinta mahal obatnya. Itu semua benar.
Berhari-hari aku menangis meratapi nasib.
“Sayang, hidup itu seperti air yang mengalir, semua akan mengalir pada muara, di mana muara air itu. Samudra. Nasib dan takdir berjalan seiring."
"Gita, mama akan menjadi pelangimu, yang akan selalu menjadi warna dalam semua keadaanmu.”
Hari pertama berada di rumah nenek, Mama menemaniku sepanjang hari, bercerita banyak tentang kisah hidupnya. Namun itu hanya sebuah kisah.
Kesedihanku kehilangan Marsel bukan sebuah bait kata dalam cerita, tapi yang kurasakan nyata. Rindu yang tak bertuan, cinta yang tidak memiliki tempat pulang, sakit yang tak berdarah ditikam tapi tidak mati.
“Sayang, setiap manusia akan mengalami cobaan masing-masing, saat Gita merasa sakit, yang perlu Gita lakukan adalah berbesar hati, jangan pernah berburuk sangka.”
“Gita?” papa menghampiriku.
“Papa sudah mendaftarkan anak papa di sekolah baru, papa harap, Gita tetap menjadi Gita yang papa punya dulu. Percaya diri, yakinlah! Tuhan sedang siapkan pangeran untukmu, yang lebih baik.”
“Benarkah pa?” papa mengangguk pelan memelukku erat.
"Anak papa adalah anak yang baik, tetaplah menjadi orang yang baik, maka Tuhan akan datangkan pangeran yang terbaik untuk bidadari papa."
Aku memang bisa bangkit dari rasa terpuruk, tapi hanya itu yang bisa kulakukan.
__ADS_1
Sejak saat itu, aku tidak lebih dari sebait kalimat. Duniaku runtuh semangatku hancur, pikiranku berhenti di satu titik ‘pasrah’.
Sejak saat itu, aku seperti seorang yang tidak memiliki semangat hidup, bangun tidur, makan, sekolah, belajar, pulang dan tidur lagi.
Hingga suatu hari, ketika hujan begitu deras mengguyur kota Denpasar. Aku kembali dihadapkan dengan kenyataan yang tak ingin aku terima.
Aku sangat terkejut dengan kedatangan wanita yang sudah merampas Marselku.
Sudah begitu lama waktu berjalan, meninggalkan kenangan demi kenangan. Mengapa ia datang lagi.
Tanpa terasa aku sudah duduk di kelas tiga. Waktu memang sebuah contoh kekejaman dalam diam, tidak mau berhenti meskipun hanya sejenak, tidak memperdulikan aku yang merajuk.
Pukul sepuluh pagi dipintu gerbang, saat itu hujan turun begitu derasnya.
Anggun!
Yah itu adalah Anggun! dia wanita cantik sahabat karibku yang sudah merebut Marselku. Dia mendatangi aku di Bali.
Dalam derasnya air hujan dia menengelamkan tangisnya. Untuk apa?
Bukannya semua itu tidak berguna. Apapun yang dilakukan olehnya sekarang tidak akan mengembalikan apapun, yang sudah terjadi ya sudahlah.
BERSAMBUNG....🤗🤗🤗🤗
__ADS_1