Belibis Senja

Belibis Senja
DIARY MILIK GITA


__ADS_3

Begitu terpuruknya aku kehilangan Marsel. Sehingga aku menutup semua pintu hati untuk mahluk laki -laki. Bayangan penghianatan Marsel dan Anggun tidak pernah bisa menghilang, menjadi monster menakutkan bagiku.


Bayi mungil ini ku beri nama Abimanyu, seperti kisah pewayangan 'jujur setia penyayang juga seorang satria ' nama adalah cita-cita dan harapan.


Dan Abimanyu lah harapan baruku.


Sebesar apa harapan dan impian manusia pasti sepadan dengan pengorbanan yang akan kita keluarkan, seperti jual beli ada uang ada barang, barang bagus akan memiliki harga yang bagus pula.


Abimanyu adalah hal terindah pemberian Tuhan. Warna baru dalam hidupku. Benar yang dikatakan ayah, Allah akan menganti yang lebih baik untuk orang yang sabar berada dalam masa sulit.


Aku tak lagi kesepian, semenjak Abimanyu ada, kami menghabiskan seluruh waktu bersama, sepenjang hari, Minggu bulan dan tahun. Aku belajar banyak hal, bersamanya dan aku bahagia.


“Terima kasih Tuhan."


Beberapa tahun kuhabiskan menjadi mahasiswi kedokteran di Amerika serikat akhirnya aku wisuda, dan kembali ke kota kelahiranku ‘Jogja’


Ibu dan ayah sangat bahagia melihat kedatangan kami, mereka menerima Abimanyu yang lucu sebagai seorang anak laki-laki. Ah, hidupku menjadi sempurna.


Waktu terus berjalan seiring takdirku, kadang banyak hal yang terjadi di dunia ini, seperti sebuah pergantian musim saja.


Di Jogja, banyak kenangan yang kutinggalkan teringat kembali.


Rabu sore, aku duduk di halte bus bersama Abi-ku, kami yang kebetulan ingin memakan sesuatu keluar dengan berjalan kaki. Hujan yang tiba-tiba datang membawa kami berlari cepat untuk berteduh. Abi tertawa terbahak-bahak melihatku yang kebasahan, ia begitu imut dengan wajah ovalnya, kulitnya yang kuning Langsat bibirnya tipis merona basah, dia bagaikan pinang dibelah dua wajahnya sama persis dengan Marsel.


uuuuuuiiih ia begitu mengemaskan.


Sebuah Pajero hitam berhenti tepat di hadapanku, pada mulanya aku hanya cuek, sebelum aku melihat siapa yang datang.


‘Marsel’


Aku masih mengingat wajah itu dengan baik rupanya, ia menghampiriku dengan ramah tapi aku memilih pergi, kusambar Abi yang masih bermain air hujan tanpa aba-aba, itu membuatnya terkejut dan sedikit meronta dalam boponganku, tapi aku yang sudah kalap tidak peduli dengan semuanya, derasnya air yang jatuh dengan ribut kuterjang tanpa ampun.

__ADS_1


“ Gita...!”


Sempat kudengar suara Marsel memangilku, bahkan suaranya pun masih kuingat dengan jelas.


"Gitaaaa..." ibu menyambut kami dengan terkejut, langsung menghampiriku memberikan handuk dan mengambil Abi dari gendonganku.


Hari yang menyebalkan! mimpi apa aku semalam? pertemuan yang singkat dan tanpa aku sengaja itu menguraikan kenagan lama, membuka lembaran-lembaran luka, aku menangis histeris .


Jahanam! Marsel jahanam!


Ingatanku pada tahun itu terus menghisap kesadaranku, membuat aku kembali mengarungi samudera luka penghianatan enam tahun yang lalu sungguh luar biasa menghancurkan kehidupanku.


Tidak terasa aku mengunci diri cukup lama, gelapnya malam tak ku hiraukan, juga aku melupakan Silverqueen kesayanganku.


Sembari terus mengutuk keadaan.


Tok!tok!tok!


Aku memilih diam di tempat tanpa bergerak.


"Pagi sayang bangun, hari ini sangat cerah," Ucap ibu


"Pagi?"


Suasana sedikit gaduh, ada apa si? Pikirku.


Cetak! Cetak! Cetak!...


Suara langkah kaki menghampiri pintu kamarku lagi.


“Gita, coba keluar dulu nak, Abi mencari kamu sepanjang malam, ia tidak tidur!”

__ADS_1


Astagfirullah alazim! Aku memiliki Abi,


dengan cepat aku menghampiri pintu dan berlari berhambur mencari Abimanyu.


“Abi mana Bu...” kataku, dengan bergegas aku menuruni tangga meninggalkan ibu yang masih terbengong-bengong di depan pintu kamar.


“Hati-hati Gita,...”


Tex,


Jantungku hampir berhenti berdetak, manakala aku melihat siapa yang ada di bawah. 'Marsel dan anggun'


Untuk apa mereka datang! Kusambar Abimanyu yang digendong Marsel dengan cepat Tanpa pikir panjang aku langsung keluar rumah, masuk garasi dan pergi.


Tidak!


Tidak akan aku berikan Abimanyu pada mereka, tidak akan! aku akan melawan mereka kali ini!


Hendak kemana kah aku? aku belum tau. Terios putih melaju kencang membawa kami berdua.


Aku hanya ingin pergi dan tidak ingin berhubungan dengan mereka! Soal apapun itu.


Abimanyu adalah milikku! sampai kapanpun Abimanyu adalah milikku!


Suara alunan musik kesayangan ku dari Al Ghazali mengalir merdu, ringtone handphoneku, dilayar biru aku melihat notifikasi tertulis di sana' my mom'


"Ibu,..."


Kubuka layar handphone dan kulihat wajah ibu yang memelas.


“Aku pergi mom, aku tidak akan membiarkan mereka merampas milikku lagi!” kataku singkat dan tegas, tanpa menunggu ibu membalas ucapanku, kututup handphone, dan kunyalakan mode terbang.

__ADS_1


Bersyukur sekali aku memiliki kebiasaan menyimpan ATM di pembungkus handphone. Jadi kami tidak mengalami kesulitan.


__ADS_2