Benih Tuan Muda Kejam

Benih Tuan Muda Kejam
BTMK bab 101


__ADS_3

Arin pun sudah berada di ruang rawat inap, Arin masih tertidur sedangkan Abraham masih setia di samping sang istri mengengam tangan nya dengan penuh cinta.


Ruangan VIP dengan fasilitas lengkap itu cukup luas sehingga semua keluarga Arin bisa leluasa menunggu.


Di sudut sofa ada bunda yang tengah mengendong sang cucu, ya Abraham tak membiarkan anaknya tidur di ruangan khusus bayi, dia ingin anaknya berada di dalam kamar bersama istrinya.


Aurel maupun Abrian sudah pulang bersama Bimo dan Rio, sedangkan Tio masih setia menemani sang bunda.


"Siapa nama nya kak?" Tanya Tio langsung kepada Abraham.


"Abiandra zavian Abraham dan nanti kita bisa memanggil nya dengan nama Andra," jelas Abraham tersenyum karena nama itu telah di pilih Arin.


"Wah nama yang bagus," jawab Tio berbinar.


"Iya nak nama yang bagus," jawab bunda ikut senang. Sedangkan bayi mungil itu masih setia tidur sedari tadi.


Tio pun mendekati bayi tampan itu.


"Halo boy, sekarang om bisa memanggil dengan nama Andra," kata Tio dengan jahil menoel pipi bayi yang asyik tertidur pulas tanpa menghiraukan suara mereka semua.


Bayi itu tak terganggu oleh aksi Tio, bayi itu asyik tertidur pulas tanpa memperdulikan siapa yang mengendong nya.


Arin menerjab matanya, melirik ke samping dan tersenyum.


"Sayang kamu sudah bangun," kata Abraham membantu Arin duduk bersandar.


"Emmm..." Guman Arin.


"Sayang mana bayi kita," tanya Arin.


Kemudian bunda menghampiri Arin dan memberikan bayi itu kepada Abraham.


"Akhirnya nak kamu bangun juga, kasihan Andra sudah lapar," kata bunda mengelus tangan sang anak.


Arin melirik ke arah sang suami, Abraham yang mengerti maksud Arin pun mengangguk.


OEEK


OEEK


Bayi itu menangis kencang seolah mengerti kalau mama nya sudah bangun.


"Kamu kasih asi dulu, biar bunda bantu," tawar bunda. Arin heran melirik adiknya yang masih duduk manis di sofa.


Abraham melirik ke arah Tio yang masih duduk santai di sofa tanpa ada rasa pengertian.


"Tio cepat kamu beli nasi pecel di ujung jalan dekat taman," Abraham mengusir Tio dengan cara licik, Abraham tak ingin saat Arin menyusui di lihat oleh Tio meskipun Tio adalah adik Arin sendiri. Abraham tak rela.


"Ck apa gak kurang jauh beli nya," sindir Tio yang mengerti maksud Abraham. Sedangkan Abraham menatap sinis Tio.


"Ha ha ha ha ha aku sudah sering lihat kak Arin menyusui si kembar dulu," bohong Tio hanya untuk membuat Abraham kesal.


Abraham melotot mendengarnya.


'Jadi bocah ini sudah pernah melihat istriku menyusui si kembar,' batin Abraham tak terima meskipun Tio adalah adik nya.

__ADS_1


Melihat wajah Abraham yang kesal karena ucapannya Tio pun tertawa, merasa lucu melihat wajah kakak iparnya itu.


Sedangkan Arin mendelik menatap tajam sang adik membuat Tio meringis takut kepada Arin.


'Dasar Tio, sudah tahu suami ku ini cemburuan,' batin Arin.


"Ha ha ha ha ha tenang saja kak itu semua bohong, lagian setiap kak Arin menyusui pasti dia sendirian tidak ingin di lihat oleh siapapun jadi jangan terlalu POSESIF," setelah mengatakan itu Tio langsung kabur keluar ruangan daripada jadi santapan Abraham.


"Ck dasar jomblo," kesal Abraham karena Tio mengatakan dirinya posesif meskipun itu kenyataan nya.


"Maaf ya nak Abraham, Tio memang suka jahil. Ya sudah kamu bantu Arin menyusui Andra karena bunda mau beli perlengkapan bayi ada yang masih kurang," jelas bunda tak enak hati setelah itu bunda berpamitan kepada menantunya.


"Apa perlu di antar supir bunda?" Tanya Abraham.


"Tidak perlu nak, beli di sini saja cuma beberapa popok saja," jawab bunda.


Setelah itu bunda keluar membiarkan suami istri itu menjaga bayi tampan itu berdua saja.


Ceklek...


Di luar ruangan....


"Lho bunda kok keluar?" Tanya Tio penasaran.


Plak.... Bunda memukul lengan anaknya.


"Aduh Bun.... Kenapa aku di pukul?" Protes Tio.


"Kamu sih nakal, sudah tahu suami mbak mu itu posesif, cemburuan masih saja di goda," kesal bunda meluapkan emosi nya.


"Ayo ikut bunda, beli keperluan si Andra ada yang masih kurang," ajak bunda.


"Tetapi Bun...." Tio mau protes namun bunda sudah menarik tangan anaknya.


Brukkk....


"Aduh," wanita muda seumuran Tio itu kesakitan kala pantatnya mendarat di lantai.


Bunda pun menoleh dan segera membantu wanita tadi.


"Maafkan ya nak tadi anak bunda tidak sengaja," jelas bunda kerena dia juga merasa bersalah.


"Tidak apa-apa Tante," jawab nya.


"Tio cepat bantu dia berdiri," bunda melotot ke arah Tio.


"Ck pakai jatuh segala biar dapat perhatian ku," cibir Tio.


Deg....


Wanita itu baru menyadari orang yang di tabrak nya tak lain adalah Tio, wanita itu pun membenarkan kaca matanya yang miring.


Dia menatap Tio sekali lagi ternyata dia tidak salah melihat.


'Apakah dia segitu membenci ku,' batin wanita itu perih.

__ADS_1


Wanita itu merasa sakit hati, dia sudah lelah mendengar mulut pedas Tio, wanita itu berjanji kepada dirinya sendiri akan mulai menjauhi lelaki di depan nya itu.


"Husss kamu ngomong apa sih, bunda tidak pernah ngajarin kamu begitu, cepat bantu dia dan minta maaf," perintah bunda menatap tajam ke arah Tio.


Dengan malas dia membantu wanita itu.


"Dasar 4 mata," bisik Tio di telinga Amanda.


"Permisi Tante," dengan menahan sakit hati Amanda pergi meninggalkan rumah sakit.


Niat hatinya ingin menemui sang ayah pun dia urungkan.


Amanda berlari memilih meninggalkan rumah sakit itu secepatnya.


"Hiks hiks hiks hiks sesakit inikah patah hati," wanita itu berlari sesekali mengusap air mata nya.


Tio masih terpaku melihat kepergian gadis itu tidak seperti biasanya, dia sedikit iba tetapi Tio berusaha menepis rasa itu.


"Kamu kenal dia nak?" Tanya bunda.


"Iya Bun, dia teman sekampus ku," lirih Tio.


"Kenapa kamu jutek begitu sama dia, kan kasihan," kesal bunda.


"Udahlah Bun, ayo kita beli popok baby Andra dulu daripada ngurusi hal tak penting," jawab Tio berjalan duluan.


"Hu dasar," grutu bunda.


***


Di dalam ruangan rawat Arin.


Bayi tampan itu dengan rakus menyusu, membuat Abraham kesal.


"Ck masa dari tadi nih bocah gak selesai menyusu," guman Abraham melihat anaknya menyusu dengan lahap tanpa ada rasa puas.


"Kenapa sih mas biarkan saja, biar dia cepat besar," jawab Arin tak mengerti tingkat Abraham.


"Aku kan juga mau," cicit Abraham pelan.


"Ha apa kamu bilang mas?" Tanya Arin memastikan pendengaran nya tak salah.


"Aku juga ingin tahu rasanya," jawab Abraham dengan polosnya.


"Hei dasar pak tua mesum, sudah punya anak 3 kelakuan seperti bocah," sungut Arin kesal melotot ke arah Abraham.


"Iya-iya,"


"Baby Andra menyusu sampai kapan?" Tanya Abraham penasaran.


"Emmm.... Aku sih maunya sampai 2 tahun," jawab Arin.


"Apa...." Abraham di buat kaget mendengar jawaban Arin, tubuhnya seketika lemas. Entahlah dia tak suka berbagi meskipun dengan anaknya.


B E R S A M B U N G....

__ADS_1


__ADS_2