
Abrian masih terdiam membisu di mobil, dia engan menjawab pertanyaan dari sang papa. Abraham menghela nafas panjang melihat kelakuan sang anak. Mobil pun melaju dengan cepat menuju ke arah mansion mewah milik Abraham.
Arin terdiam melihat sang anak, dia engan bertanya setelah melihat Abraham yang sedari tadi membujuk tak berhasil membuat Abrian berbicara.
Sedangkan Aurel berceloteh ruang, mengungkapkan rasa senangnya saat bertemu dengan baby Kayla, bagaimana lembutnya kulit dan lucunya bayi perempuan itu.
Setelah sampai Abraham pun bergegas turun saat melihat Abrian turun dengan cepat langsung berlari menuju ke dalam kamarnya sedangkan Arin yang melihat sang anak bertingkat demikian semakin dibuat bingung tak mengerti.
"Sayang sebenarnya apa yang terjadi dengan Abrian saat ini?" Tanya Arin kepada sang suami karena merasa bingung dengan sifat anaknya saat ini.
Aurel menarik baju Arin.
"Ma... Aurel ke atas dulu ya menemui kakak Abrian," kata Aurel meminta pendapat sama mama saat ini.
"Jangan dulu sayang biarkan kak Abrian istirahat," bukannya Arin yang menjawab melainkan Abraham yang menjawab pertanyaan sang putri.
__ADS_1
Aurel pun mengangguk setuju setelah itu dia berjalan menuju ke arah kamarnya, ya sekarang kamar Abrian dan Aurel tidak dijadikan satu melainkan terpisah, dengan alasan keduanya sering berantem dan membuat Abraham dan Arin pusing tujuh keliling. Jadi Abraham dan Arin pun sepakat untuk memberikan mereka berdua kamar masing-masing agar keduanya tak berantem merebutkan sesuatu.
Arin menatap Abraham dengan tatapan mata menyipit seolah Arin mencurigai sesuatu yang tidak beres.
"Sayang aku tahu pasti ada sesuatu yang tak beres, pasti kamu tahu siapa yang menyebabkan anak kita seperti itu," kata Arin saat keduanya sudah berada di kamar.
Abraham mendesah berat setelah itu dia menatap ke arah sang istri dengan tatapan lembut.
"Sebenarnya tadi Abrian tiba-tiba muncul di depan ruang kerja saat aku tengah berbicara penting dengan dokter Rian, aku juga kaget saat mendengar Abrian mengatakan ingin menikahi baby Kayla saat dia sudah besar, entahlah apa yang di pikirkan anak itu sampai melamar bayi yang baru berusia beberapa bulan itu langsung kepada ayahnya. Mungkin Abrian sedih saat dokter mesum itu berkata tidak dan membuat Abrian pergi tanpa sepatah kata pun dari sana," jelas Abraham memijit pelipisnya yang tiba-tiba berdenyut pusing.
"Aku juga bingung harus berbicara apa kepada anak itu? Karena sifat anak itu begitu keras seperti Papa nya," kata Arin sedikit melirik ke arah sang suami.
"Ya sudah kita biarkan saja dulu, mungkin nanti setelah dia beristirahat pemikiran anak itu berubah lagi, ya apalagi mengingat usia anak itu masih jauh dari dewasa," kata Abraham menenangkan sang istri.
_____
__ADS_1
Sedangkan di dalam kamar Abrian.
Dia merebahkan tubuhnya di atas kasur.
"Ck akan ku buat pak tua itu memohon mengemis kepada ku nanti untuk menikahi anak nya," kata Abrian dengan dendam membara.
"Aku harus belajar dengan rajin, terus rajin olahraga dan berlatih bela diri agar aku bisa seperti papa yang di kagumi banyak wanita. Aku harus cepat besar seperti papa," tekad Abrian dengan kuat.
Entahlah apa yang di rencanakan otak kecil itu saat ini.
Sedangkan di rumah dokter Rian saat ini.
"Apa-apaan tuh bocah seenaknya saja mengancam," sungut dokter Rian dengan kesal.
"Aku tidak ingin mempunyai menantu seperti dia, dari sifatnya saja sudah ketahuan tuh anak akan menuruni Abraham nantinya. Mana mungkin ku biarkan anakku menikah dengan kulkas 2 pintu," grutu dokter Rian tak rela anaknya menikah dengan Abrian suatu hari nanti.
__ADS_1
B E R S A M B U N G.....