
"Kamu ....." Abraham melotot tak percaya dengan orang yang di lihatnya.
"Ha ha ha ha ha ha.... Ternyata tuan Abraham masih ingat saya," Wilson tertawa renyah dengan lebar tanpa ada rasa takut di hati nya saat ini padahal dia sedang berhadapan dengan Abraham yang di kenal kejam di dunia bisnis.
"Ck ternyata hanya tikus kecil seperti mu yang berani mengusik ku," Abraham menatap remeh pria di depannya.
Abraham masih ingat pria di depannya itu pernah mencopet laptop miliknya dulu saat Abraham baru selesai bertemu dengan koleganya, Abraham pun melepaskan orang itu karena dulu Abraham pikir pria itu masih kecil atau masih SMA jadi Abraham sedikit kasihan karena pria itu berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Ternyata keputusan Abraham untuk melepaskan Wilson saat itu ternyata salah besar, Abraham mengertakan giginya dengan penuh kekesalan karena rasa kasihan itu sekarang orang yang dia sayangi harus berada di tempat ini, orang ini telah dengan berani menculik istri dan kedua anaknya yang masih kecil. Abraham tak kan membiarkan orang itu bebas setelah melakukan semua ini.
Matanya seakan mengatakan hal itu. Terdapat kilatan amarah di mata Abraham saat ini di sana.
Deg ....
Arin yang sedari tadi mendengar suara-suara berisik dari luar mencoba untuk mendekati pintu.
Arin memutar-mutar handle pintu namun sia-sia karena pintu di kunci. Arin mendekatkan telinganya ke pintu untuk menguping. Arin berharap suara itu terdengar lagi.
"Akan ku pastikan setelah ini kamu akan takut mendengar nama ku," kata Abraham menatap Wilson dengan begitu tajam bak pisau yang siap menembus jantung nya saat ini.
Deg...
Deg...
"Suara itu," lirih Arin.
Namun sudut bibirnya langsung terangkat.
"Apakah itu benar suaranya, aku tidak lagi berhalusinasi kan," guman Arin dengan suara kecil bertanya-tanya.
Tiba-tiba keluar cairan dari matanya, dia segera mengusapnya kasar dan memastikan bahwa yang di dengarnya tidaklah salah.
Arin pun menarik kursi ke arah pintu memastikan semuanya, Arin takut pendengarannya salah karena sedari tadi pikirannya tertuju ke pada sang suami, berharap suaminya datang menolong dia secepatnya, Arin begitu takut orang-orang itu bertindak kejam kepada dia dan kedua anaknya saat ini.
"Mama mau apa?" Tanya Abrian yang melihat sang mama tiba-tiba menarik kursi di dekat tempat tidur.
"Mama mau kabur?" Tanya Aurel penasaran.
"Tidak nak, mama dengar seperti mendengar...." Arin tak melanjutkan ucapannya.
'Aku tak mungkin jujur dengan anak-anak takutnya aku salah dengar dan kedua anakku bisa kecewa,' guman Arin di dalam hatinya.
"Mendengar apa ma?" Tanya Abrian dengan penasaran karena mamanya berbicara sepotong-sepotong.
Abrian pun ikut menguping ke arah pintu seperti yang dilakukan oleh Mama nya tadi, namun dia hanya mendengar suara orang seperti berdebat dan tak begitu jelas.
"Kak Brian dengar apa?" Kini giliran si cantik yang bawel bertanya kepada kakaknya.
Abrian mengelengkan kepalanya sebagai jawaban.
"Aku mau ikut juga," Aurel pun ikut menguping namun dia juga sama saja tak mendengar suara apapun.
"Tidak kedengaran apa-apa," kata Aurel mengelengkan kepalanya.
Arin tak menghiraukan si kembar, dia cepat naik ke kursi dan mengintip di celah-celah lubang angin yang ada di atas pintu. Matanya fokus melirik ke kanan dan kiri seolah mencari keberadaan sang suami.
__ADS_1
Deg...
Arin tersenyum bahagia saat sekelebat melihat sosok yang mirip dengan sang suami.
"Itu pasti dia," kata Arin begitu yakin.
Sedangkan di luar ruangan....
Bugh
Bugh
Tanpa aba-aba Abraham langsung memberi bogem mentah ke arah pria itu membuat pria itu terhuyung ke belakang dengan cepat.
"Ciiih..." Wilson berdecak kesal sambil menyeka sudut bibirnya dengan satu tangannya. Wilson memandang tangannya yang terdapat darah.
"Gara-gara kamu kak William meninggal," teriak Wilson maju mulai menyerang Abraham membabi buta.
Bugh bugh bugh bugh....
Abraham mencoba menghindari pukulan Wilson.
Bugh...
"Ahhh..." Wilson mengerang kala Abraham berhasil menendang perut Wilson.
Bruaaaaak.... Pyarrr....
Tubuh Wilson terhempas membentur meja dan membuat meja beserta gelas ataupun barang yang ada di atasnya berjatuhan.
"Brengsek..."
Berbagai umpatan atau makian Wilson ucapkan untuk Abraham saat ini, dia langsung ambruk di lantai setelah Abraham melayangkan tendangan untuk dia.
Bugh bugh bugh bugh bugh... Dengan cepat Abraham menghampiri Wilson dan menarik kerah bajunya.
"Ini adalah balasan karena kamu dengan lancang berani mengusik hidupku dan keluargaku," kata Abraham menatap pria itu dengan tatapan elang tak lupa tangan Abraham masih asyik di wajah Wilson dengan berbagai pukulan keras.
Mulut Wilson masih berceloteh padahal dia sudah kehilangan banyak tenaga terlebih lagi dia kalah jauh dengan Abraham.
"Aku belum kalah, aku tidak akan membiarkan mu hidup bahagia sedangkan kak William harus kehilangan nyawanya karena kamu..." Teriak Wilson mencoba bangkit dan memukul Abraham kembali.
Bug bug bug bug bug ...
Keduanya bertarung tak ada yang mencoba untuk mengalah.
Hos hos hos hos hos hos hos....
Baik Wilson maupun Abraham terengah-engah mengatur nafasnya yang tak beraturan.
"Mas Abraham...." Arin berteriak kencang memanggil nama Abraham, Arin berharap sang suami mendengar suaranya.
Abraham menoleh ke arah pintu kala mendengar nama nya di panggil.
__ADS_1
"Mas Abraham tolong keluarkan kita dari sini," teriakan Arin untuk kedua kalinya.
Melihat Abraham yang lengah, dengan cepat Wilson melayangkan tendangan ke arah Abraham.
Brugghhh..... Tendangan begitu cepat Wilson layangkan kepada Abraham.
Bruaaakk...... Abraham tersungkur.
"Papa... Papa..." teriak Abrian begitu senang kala mama mereka meneriakkan nama sang papa.
"Papa tolong Aurel di culik,"
"Huuu hu hu hu hu.... Aurel takut pa," Aurel berteriak keras.
Abraham mengepalkan tangannya, kilatan amarah terlihat dari wajahnya. Abraham pun segera bangkit dan menyerang Wilson membabi-buta.
Bug bug bug bug bug bug....
"Aahh......" Teriak Wilson memegang perutnya yang terasa sakit karena pukulan Abraham yang begitu kuat.
Wilson tersungkur tak berdaya di lantai, dia hanya bisa mengerang kesakitan.
"Uhuk uhuk uhuk uhuk...."
Wilson terbatuk-batuk karena pukulan Abraham.
"Ini peringatan terakhir dari ku, jangan pernah mengusik keluarga ku.
Pandangan Wilson terasa buram, setelah itu dia ambruk di lantai tak sadarkan diri akibat kebrutalan Abraham saat memukulnya tadi.
Abraham langsung menuju pintu di mana terdengar teriakan Arin dan si kembar.
"Sayang menjauh dari pintu," teriak Abraham kepada Arin dan kedua anaknya.
Arin pun menarik kedua anaknya menjauh.
Bug bug bug bug... Brakkkkk.... Brakkk...
Setelah berkali-kali mendobrak pintu akhirnya pintu itu pun terbuka.
"Papa,"
"Papa,"
"Sayang,"
Ketiga orang yang sangat Abraham sayangi itupun langsung berhambur memeluk Abraham.
"Hiks hiks hiks hiks pa, akhirnya papa datang," kata Aurel.
Abraham langsung mengendong Aurel dan mengandeng tangan Abrian.
"Ayo sayang, Tio dan yang lainnya sudah menunggu kita di luar," ajak Abraham kepada sang istri.
__ADS_1
Sedangkan Tio dan yang lainnya menunggu Abraham di luar karena mereka yakin Abraham sanggup menghadapi Wilson seorang diri.
B E R S A M B U N G.....