
Pak Rendi menatap Amanda seolah mencari jawaban tentang pernyataan sang istri.
Namun sang putri justru menunduk takut.
'Apa rencana perjodohan ini membuat anakku sedih,' batin pak Rendi.
"Jeng bagaimana ini, kan kami kesini dengan niat menjodohkan Amanda dan Denis. Itupun juga usul dari suami-suami kita," protes Bu Rita yang tak terima kalau anaknya di tolak.
Padahal dia sudah membayangkan usaha suaminya akan lebih jaya lagi, terlebih Amanda juga cantik dari keluarga kaya sehingga dia tak akan malu memperkenalkan kepada keluarga besarnya.
Abraham dan keluarganya masih terdiam, dia melihat bagaimana reaksi Amanda dan kedua orang tuanya.
Abraham menatap sinis pak Rangga.
Abraham dan Tio sedari tadi diam, keduanya ingin melihat bagaimana pak Rangga menghasut pak Rendi.
"Pak Rendi tidak bisa membatalkan rencana perjodohan ini, anak saya sudah suka dengan Amanda," pak Rangga masih kekeh ingin menjodohkan keduanya.
Pak Rendi menghela nafas panjang, mau maju salah mau mundur pun salah.
'Hmmm.... Di satu sisi teman ku di sisi lain Tuan Abraham yang sangat berkuasa, ini seperti makan buah simalakama,' batin pak Rendi bimbang.
Pak Rendi memantapkan hati nya, dia tak ingin gegabah. Apalagi dia tak ingin kehilangan senyum sang putri. Apalagi sang istri sedari tadi menatap horor.
'Aduh kenapa bunda menatap ku seperti itu,' guman pak Rendi takut sang istri marah.
"Bagaimana sayang, papa serahkan semua keputusan kepada mu?" Kata pak Rendi menatap sang putri dengan teduh seolah menggambarkan dia mendukung semua keputusan Amanda saat ini.
"Tidak bisa begitu pak?" Pak Rangga masih ngotot.
"Maaf pak, saya tidak tahu semua ini. Rencana kita kan hanya mempertemukan Amanda dan nak Denis terlebih dahulu, kalaupun mereka cocok kita lanjutkan ke tahap selanjutnya. Jadi semua nya saya serahkan kepada putri saya, karena yang menjalani nantinya adalah putri saya Amanda, saya tidak ingin putri saya menderita karena menikah dengan lelaki yang tak di sukai nya," jelas pak Rendi dengan tegas.
"Karena kebahagiaan Amanda adalah kebahagiaan saya," sambungnya lagi.
Tio tersenyum puas sedangkan Denis begitu kesal. Denis berfikir kalau pak Rendi akan berada di pihak nya namun dia salah duga.
"Ayo nak bicaralah," pinta bunda.
Melihat Amanda yang masih terdiam, akhirnya Tio pun angkat bicara.
__ADS_1
"Saya Tio Prayudha ingin melamar putri bapak untuk menjadi istri saya, apakah bapak Rendi menerima saya?" Kata Tio menegaskan kedatangannya saat ini.
"Silahkan nak Tio bertanya kepada putri saya sendiri," jawab pak Rendi memasrahkan sua nya kepada sang putri.
"Amanda aku sangat mencintaimu begitupun sebaliknya, ijinkan aku membahagiakan mu dengan cintaku, ijinkan aku menua bersama mu. Terima lah lamaran ku sebagai langkah awal untuk menghalalkan mu,"
"Bagaimana Amanda? Apakah lamaran saya kamu terima atau tolak?" Tio menatap Amanda dengan lembut.
Deg deg deg deg...
'Duh manis banget, kenapa hatiku berdebar ya,' guman Amanda di dalam hati.
Amanda mengangguk malu, mendengar semua ucapan Tio yang sedikit kaku itu mampu membuat hati Amanda ketar-ketir.
"Cie yang di lamar," bisik bunda menggoda sang putri.
Brakkk....
Semua kaget mendengar suara gebrakan meja, semua menoleh ke arah meja di mana pak Rangga berada.
"Ayo ma, Denis kita pulang. Sudah cukup kita di sini di permalukan," murka pak Rangga menatap benci ke arah Abraham dan pak Rendi beserta keluarga nya.
Pak Rangga mendekati pak Rendi.
Tio menepis tangan pak Rangga.
"Singkirkan tangan anda dari calon mertua saya, anda juga sudah dengar kan tadi kalau pak Rendi bilang kalau niat hanya mempertemukan Denis dengan Amanda itu artinya Amanda bisa menolak anak anda," kata Tio dengan tegas, aura dingin seketika muncul dalam tubuhnya.
Abraham tersenyum melihat, adik iparnya begitu tegas. Tak sia-sia dia membimbing menjadi pebisnis handal. Tanpa semua tahu kalau Tio sudah mendirikan sebuah perusahaan kecil atas jerih payahnya sendiri, namun Tio masih bekerja di perusahaan milik Abraham.
"Cih.... Bocah ingusan seperti kamu mau melawan saya," pak Rangga justru menatap Tio dengan remeh.
Amanda ketakutan di peluk sang bunda, sedangkan Arin ingin berbicara namun di halangi sang suami. Bunda Tio masih terdiam, membiarkan sang anak dan menantunya yang turun tangan karena sang bunda masih binggung harus berbicara apa.
"Sabar pak Rangga, kita bisa bicarakan baik-baik," bujuk pak Rendi.
"Tidak perlu, mulai hari ini aku tarik kerja sama kita," kata pak Rangga sedikit mengancamnya.
"Terserah pak Rangga, saya akan mengembalikan uang pak Rangga secepatnya," jawab pak Rendi pasrah.
__ADS_1
Pak Rendi tak ingin mengemis kepada temannya itu, dia tidak ingin merendahkan diri nya sendiri di hadapan siapapun.
"Tenang saja pak Rangga, PT. A. Prayudha Jaya bisa mengantikan kerjasama itu," jelas Tio mengatasnamakan perusahaan sang kakak.
Ya Tio dan Rio memang mengunakan nama belakang sang kakak ipar sesuai perintah Abraham, karena dia ingin sang adik di hormati tidak di rendahkan siap pun.
Mendengar itu pak Rangga marah.
"Ayo kita pergi," pak Rangga menarik anak dan istrinya meninggal kediaman pak Rendi.
"Maaf atas semua kejadian yang tidak mengenakkan tadi," kata pak Rendi meminta maaf.
"Jadi lamaran Tio untuk Amanda di terima ya pak?" Tanya bunda sekali lagi meyakinkan.
"Iya Bu, lamaran kami terima," jawab pak Rendi.
'Yes akhirnya,' batin Tio girang.
Bunda Amanda pun pergi ke dapur, mengambil kue yang baru untuk di hidangkan, tak lupa meminta art untuk mengambil bekas minuman tadi dan menggantinya dengan yang baru.
"Silahkan di cicipi," kata bunda Amanda yang baru saja meletakkan kue.
"Terima kasih, maaf merepotkan," ucap bunda dan Arin bersama karena merasa merasa tak enak.
Akhirnya semua berbincang-bincang, tak lupa pak Rendi juga bertanya bagaimana hubungan mereka dan kenapa Amanda sampai lupa memberitahu kan kepada dirinya.
"He he he he, maaf ya pa' Amanda lupa," itulah jawaban Amanda.
Tanggal dan bulan pernikahan mereka masih menunggu kuliah mereka selesai tinggal beberapa bulan lagi.
Pak Rendi hanya meminta Tio untuk melakukan acara pertunangan saja nanti, untuk mengikat keduanya secara pasti.
Setelah itu Abraham beserta keluarganya pamit untuk pulang.
Pak Rendi menghela nafas lega, setelah itu pak Rendi menanyakan kepada Amanda siapa sebenarnya Tio.
Amanda cuma bilang kalau Tio adalah saudara dari Arin istri Abraham. Tio juga bekerja di perusahaan milik Abraham namun Amanda tak tahu kalau Tio sudah mempunyai usaha sendiri.
Pak Rendi beruntung karena perusahaan milik keluarganya masih terselamatkan berkat Abraham, ya meskipun pak Rendi jarang ke kantor dan mempercayakan kepada orang suruhan nya, pak Rendi sibuk di rumah sakit karena profesinya sebagai seorang dokter.
__ADS_1
Mengetahui calon menantunya juga mengerti perusahaan membuat pak Rendi lega, karena akan ada yang meneruskan perusahaannya nanti.
B E R S A M B U N G....