Benih Tuan Muda Kejam

Benih Tuan Muda Kejam
BTMK bab 24


__ADS_3

Saat ketiganya berada di luar rumah sakit.


"Bunda akan ikut Arin pulang ke rumah nenek kan," pertanyaan sekaligus permintaan Arin.


Bunda memandang ke arah nek Ijah, antara perasaan tak enak takut sang nenek keberatan. Nek Ijah pun tersenyum mengangguk.


"Iya," jawab bunda membuat Arin begitu senang.


Arin memeluk sang bunda. " Terimakasih Bun," lirihnya.


Tak ada kebahagiaan yang sempurna selain berkumpul bersama keluarga, itulah yang Arin rasakan.


Ketiganya pun pulang menuju rumah sang nenek.


Perjalanan cukup membuat Arin lelah.


"Nak apa kamu lelah?" Tanya bunda.


Akhirnya angkot pun sampai di jalan raya dekat kampung. Ketiganya saat ini sedang berjalan menuju rumah sang nenek.


"Eh nek Ijah baru pulang," sapa salah satu ibu-ibu.


Arin, bunda dan nek Ijan berjalan beriringan menuju rumah. Mereka melewati segerombolan ibu-ibu yang sedang asyik bergosip karena tidak ada pekerjaan rumah lagi.


"Iya Bu,"


"Itu siapa nek yang di samping Arin?" Tanya Bu RT.


"Oh ini ibunya Arin," jawab nek Ijah.


"Bukannya anak nenek itu mbak Tami ya, saya kira Arin anaknya mbak Tami," kata Bu RT memastikan.


"Ini anak angkat saya," jawabnya.


Sedangkan Arin maupun bunda memilih diam. Takut salah berbicara.


"Mari buk," pamit nenek Ijah ramah.


"Eh kapan nek Ijah angkat anak,"


"Iya jangan-jangan yang di bilangin kalau Arin punya suami itu bohong," celoteh Bu kikan tetangga nek Ijah.


"Iya mungkin, masa kerja gak pernah pulang sekali-kali nengokin bini," saut Bu Tini.


Kasak-kusuk terdengar sampai ke telinga nek Ijah, Arin maupun bunda meskipun samar-samar.


Nek Ijah berhenti hendak menegur tetapi Arin mencegahnya.


"Nek ayo pulang, Arin sudah lelah ingin beristirahat," bujuk Arin.


"Maunya apa sih tuh ibu-ibu, suka sekali ikut campur urusan orang lain," kata nek Ijah mengomel sepanjang jalan.


"Biarkan saja nek, tidak perlu kita ambil hati omongan mereka," bujuk bunda.


Ketiganya pun sampai di depan rumah. Arin dengan cepat membuka pintu.

__ADS_1


Bunda memandang ke sekeliling, bunda cukup miris ternyata kehidupan sang nenek tak jauh dari kehidupannya.


'Nak pasti kamu hidup cukup sulit di sini, bunda tak bisa bayangkan kalau nanti cucu bunda lahir, apalagi rumah ini terlalu kecil kalian tempati nanti,' batin bunda miris.


"Ayo masuk Bun," ajak Arin menarik tangan sang bunda yang masih terdiam di luar.


"Maaf rumahnya kecil," kata nenek seakan mengerti pemikiran bunda Arin.


"Ti-tidak kok nek, saya berterima kasih karena nenek sudah menolong anak saya selama ini," jawab bunda kikuk.


Arin pun membuatkan teh hangat dan air dingin untuk sang bunda.


"Ayo bunda minum, pasti bunda lelah karena rumah nenek cukup jauh," suruh Arin.


"Nak bagaimana kalau kamu dan nenek ikut tinggal dengan bunda," ajak bunda.


"Saya tidak ingin merepotkan ibu, kalau Arin ingin ikut dengan ibu, saya tidak keberatan," jawab nek Ijah.


"Tetapi bagaimana nenek nanti," tanya Arin.


"Nenek sudah terbiasa sendirian," jawab nenek.


"Maaf nek, tetapi di mana anak nenek sekarang," tanya bunda hati-hati.


"Anak saya ikut dengan suaminya kerja di luar pulau," jawabnya getir. Nenek mengingat sang anak yang jauh dan tak pernah menghubungi dirinya.


"Nak bunda masih punya warisan dari kakek mu, bunda sudah bertekad menjual nya dan kita buat membeli rumah yang layak dan cukup besar karena bunda ingin kedua cucu bunda hidup layak, dan untuk rumah kontrakan bunda sebentar lagi akan berakhir masa sewanya," jelas bunda.


"Kenapa kita tidak tinggal di sana saja," tanya Arin.


"Arin sih terserah bunda, terus rumah milik ayah bagaimana?" Tanya Arin teringat rumahnya dulu.


"Rumah sudah bunda jual, buat sewa kontrakan dan buka toko kecil sedangkan sisanya bunda simpan untuk sekolah Tio dan Rio kedepannya," jawab bunda.


"Bagaimana kalau nenek ikut saja, nanti kita buka usaha kue kecil-kecilan dulu untuk pemasukan sehari-hari, nenek bisa menjaga anak Arin kalau sudah lahir nanti. Apa bunda setuju dengan saran Arin," kata Arin mengutarakan niatnya.


"Bunda setuju, pasti adik kamu juga senang," lirih bunda.


"Besok kita cari rumah yang sesuai," kata bunda.


"Maksud bunda apa? Bukannya kita menunggu rumah itu terjual," tanya Arin penasaran.


"Bunda ada uang sedikit, nanti sisanya kita bayar setelah rumah kakek," jelas bunda.


"Terserah bunda,"


"Iya nak lebih cepat lebih baik," jelas bunda.


Sedangkan di tempat berbeda......


Tut ...... Tut...... Tut.....


Panggilan pun terhubung.


"Halo dokter Rian," sapa wanita di sebrang telephon menghubungi rekannya.

__ADS_1


"Ada apa dokter Esta menghubungi saya?" Tanya dokter Rian tanpa basa-basi.


"Saya tadi sedang memeriksa wanita yang ciri-cirinya seperti anda sebutkan," jawab dokter Esta.


"Anda ketemu dengan nona Arin," tanyanya memastikan.


"Iya namanya Arininda Putri, tetapi saya heran?" Jawabnya sedikit ragu.


"Maksud anda apa?" Tanya dokter Rian sedikit berteriak.


"Anda jangan coba-coba membohongi saya atau memberi kabar yang salah, anda tahu kan bagaimana saya," ancam dokter Rian.


Glekkkk ....


'Dasar dokter kutub, tahu begitu saya tidak memberitahu kabar penting ini,' batin dokter Esta kesal.


"Nama suami nona Arin di sini tertulis Ibra, apa ini Arin yang anda maksud," jelas dokter Esta.


"Kamu kirim rekaman cctv, salinan pendaftaran tadi ke ruangan saya," tegas dokter Rian.


"Ba....." Belum selesai dokter Esta menjawab tetapi dokter Rian sudah mematikan sambungan telepon nya.


Tut..... Tut.... Tut.... Panggilan terputus sepihak.


"Dasar dokter sableng, kaku , kok ada ya dokter datar dingin seperti dia, amit-amit semoga nanti jodohku tidak seperti dia," grutu dokter Esta.


"Jauhkan lah hambamu ini dari manusia seperti dokter Rian," guman dokter Esta.


Dokter Esta pun berdiri, dia harus menuju ruang cctv untuk meminta copy an dari rekaman di ruangannya tadi.


"Suster tolong kamu cari data tadi pasien , atas nama Arininda Putri, nanti kamu foto copy dan taruh di meja saya," pinta dokter Esta.


"Baik dok,"


***


Di salah satu ruangan mewah tempat dokter Rian sedang bergelut dengan berkas-berkas saat ini.


"Hmmm ..... Kabar baik, apa aku hubungi Abraham sekarang atau besok menunggu hasil rekaman dari dokter Esta," guman dokter Rian.


"Ha ha ha ha kalau itu benar Arin, rejeki nomplok. Aku harus minta imbalan yang besar nih," kata dokter Rian tersenyum.


Dokter Rian pun melanjutkan pekerjaannya.


"Nasib jadi pimpinan, tugas tidak ada habisnya," grutu dokter Rian melihat tumpukan berkas yang harus dia periksa.


Bersambung.....


Kapan-kapan crazy up ya kalau tidak ada kesibukan.


Jangan lupa like, komen ya.


Minta rate bintang 5 say biar semangat update.


Terimakasih semua masih setia dukung karyaku.

__ADS_1


__ADS_2