Benih Tuan Muda Kejam

Benih Tuan Muda Kejam
BTMK bab 47


__ADS_3

SETELAH MEMBACA TINGGALKAN JEJAK ๐Ÿ‘ LIKE


****


Setelah berbicara dengan bunda dan ke dua adiknya, Arin berniat menemui Abraham membahas semuanya.


Meskipun berat tetapi Arin harus mengambil keputusan ini, dia tidak ingin melihat kedua buah hati nya sedih.


Mungkin kebahagiaan si kembar saat ini ada kepada Abraham, meskipun Arin belum mengenal semua tentang Abraham tetapi Arin berfikir kalau Abraham adalah orang yang baik.


Arin menyeret langkah kakinya menuju ke arah taman belakang tepat nya di mana keberadaan Abraham dan ke dua anaknya berada.


"Ehemmm....." Arin berdehem saat melihat ke tiga nya asyik bermain di selingi candaan.


Ketiga nya menoleh saat mendengar suara Arin.


"Eh mama sini...." Teriak Aurel senang melihat keberadaan mama nya.


"Ayo ma kita main bersama," ajak Abrian.


Sedangkan Abraham memandang nya dengan tatapan yang sulit di artikan, senyum kecil tersungging di bibirnya meskipun hanya sebentar.


Aurel berlari meraih tangan Arin, menariknya mendekat ke arah Abraham dan Abrian bermain.


"Asyik kita main bersama seperti keluarga temanku," girang Aurel sedangkan Abraham maupun Arin terenyuh di buatnya, Arin sungguh merasa bersalah.


'Anakku segitu malang nasib mu, papa berjanji setelah ini akan membuat kalian bahagia, apapun harus aku lakukan untuk membuat anakku bahagia meskipun harus memaksamu besok, ku pastikan kamu tidak akan bisa kabur dari pernikahan kita,' batin Abraham menatap Arin tajam.


"Ma kenapa sih mama sama papa tidak seperti papa dan mama teman aku," kata itu muncul dari si pendiam Abrian.


Deg.... Arin tak pernah berfikir anaknya akan bertanya seperti itu.


"Em...." Arin di landa kebingungan menjawab pertanyaan dari Abrian. Entahlah jawaban apa yang akan dia berikan.


Arin memandang ke arah Abraham berharap meminta pertolongan tetapi Abraham justru cuek tak menanggapi nya.


"Em... Kalian tanya sama papa saja alasannya," Arin melimpahkan pertanyaan kepada Abraham dengan tatapan mengejek.


Kedua bocah itu pun menoleh ke arah Abraham, sedangkan Abraham melotot ke arah Arin.


'Ck dasar kucing nakal, seenaknya saja melemparkan nya ke aku. Lihat saja ku habisi kamu nanti,' guman Abraham kesal melirik ke arah Arin dengan tatapan dingin menusuk membuat Arin sedikit takut.


Abraham pun tersenyum kala otak liciknya menemukan jawaban untuk ke dua bocah itu.


"Bujuk mama supaya menikah dengan Papa setelah itu nanti kita bisa tidur bersama, Papa bisa peluk mama dan rangkul mama tanpa di marahi oleh mama, kita bisa melakukan apapun bersama," jelas Abraham membuat kedua bocah kecil itu berbinar cerah seperti mendapat kan hadiah yang luar biasa.


Arin melotot ke arah Abraham, bisa-bisanya dia berbicara seperti itu kepada ke dua anaknya. Kemudian Arin menoleh ke arah si kembar.


Melihat kedua anaknya tersenyum begitu senang, seketika Arin di landa bersalah karena dia belum bisa membahagiakan si kembar.

__ADS_1


'Nak maafkan Mama,' batin Arin.


"Ayo ma nikah sama Papa buat kita bisa sama-sama, Aurel ingin seperti teman yang lain nya," pinta Aurel dengan sedih.


"Iya nanti mama menikah dengan Papa setelah itu kita jalan-jalan bersama. Ok...." Akhirnya jawaban itu meluncur dari mulut Arin.


"Ye ye ye ye...." Kedua bocah itu meloncat kegirangan mendengar jawaban Arin.


Abraham tersenyum licik sedangkan Arin mengeram kesal melihat senyum mengejek Abraham.


'Biasa-bisanya dia memanfaatkan anak kecil,' grutu Arin di dalam hatinya.


Brukkk.... Abrian melempar bola ke arah tanpa di duga sebelumnya.


"Ayo ma kita main bola, kita kalahkan Papa sama Aurel," ajak Abrian.


Arin mengangguk setelah itu dia bergabung dengan ketiganya.


"Ah Papa malas," kata Abraham dengan siasat licik nya.


"Ayolah pa," rengek Aurel.


"Ayolah pa, gak asyik gak ada papa," Abrian pun menyeret Abraham ke tengah lapangan mini itu.


"Papa mau asalkan....." Abraham mengantung ucapannya.


"Apa pa?...." Tanya kedua bocah itu antusias.


"Baik... Ok siapa takut," jawaban Abrian membuat Arin melotot.


'Dasar anak-anak mau saja di manfaatkan sama pak tua itu, dasar pak tua mesum,' guman Arin dengan kesal di dalam hati, tak lupa mengumpat Abraham berkali-kali.


Arin mendesah kasar, dia pun bertekad untuk menang. Mereka pun bermain dengan semangat untuk menang terlebih lagi Abraham.


Lima belas mumet kemudian....


"Hos hos hos hos hos hos hos..... " Arin terengah-engah duduk berselonjor di lantai.


"Yeeeaaa... Kita kalah ma," Abrian cemberut.


"Asyiiiikkkk akhirnya kita menang pa, tos pa," kata Aurel ber tos ria dengan Abraham.


"Ye ye ye ye ...." Aurel berjingkrak-jingkrak senang tak lupa bertepuk tangan dengan girangnya.


Cup.... Aurel mengecup pipi Arin dan Abrian.


Sedangkan Abrian kesal mengusap pipinya yang basah karena terkena bibir Aurel.


"Kalian mandi sana," suruh Arin mengalihkan perhatian supaya Abraham tidak menciumnya.

__ADS_1


"Pa kita berdua mau mandi dulu," pamit Abrian.


Cup.. Cup... Tak lupa mengecup pipi Abraham sebelum pergi begitupun dengan Aurel.


Setelah kepergian Aurel dan Abrian ke dalam rumah.


Arin pun berdiri hendak berjalan meninggalkan tempat ini menuju ke dalam rumah mengikuti kedua bocah kembar tadi.


"Eiiiittttsss.... Mau kemana?" Tanya Abraham mencekal tangan Arin.


" Lepaskan...." Teriak Arin menghempaskan tangan Abraham.


"Ck... Ck... Dasar kucing nakal," kesal Abraham semakin mencengkram erat tangan Arin.


"Lepaskan dasar om-om mesum tua," kesal Arin.


Abraham langsung menatap Arin dingin. Tanpa ba-bi-bu dia mengendong Arin seperti karung beras.


"Lepaskan atau aku teriak," ancam Arin.


"Ha ha ha ha ha... Teriak saja, aku sudah menyuruh bunda dan kedua adikmu itu untuk membeli semua seserahan untuk mu, mereka juga sedang ke butik untuk mengambil kebaya," jelas Abraham membuat Arin melotot


'Ishhh kenapa bunda mau saja di suruh pergi,' kesal Arin dalam hati.


"T-t-tetapi masih ada mbak Tina dan anak-anak terus pak nan, jadi kalau aku berteriak pasti mereka datang," ancam Arin tak patah semangat.


"Ha ha ha ha ha... Coba saja pasti tidak akan ada yang muncul," ejek Abraham.


Arin meronta-ronta mencoba melepaskan diri.


Plak... Abraham memukul pantat Arin untuk diam.


Arin membolakkan mata nya kala tangan besar Abraham memukul pantat nya.


"Aaauhhhh..... Sakit," teriak Arin.


"Jangan banyak bergerak atau aku akan melahap mu sekarang," ancam Abraham membuat nyali Arin menciut di buatnya.


"Kenapa kamu mengendong ku," tanya Arin dengan suara lirih.


"Aku hanya ingin bicara empat mata dengan mu, aku mengendong mu supaya kamu tidak lari dan aku meminta hadiah permainan tadi," jelas Abraham di sertai senyum mesum nya.


"Ish dasar om-om tua mesum," ceplos Arin karena kesal.


.


.


B E R S A M B U N....

__ADS_1


LIKE... LIKE SEMUA BAB๐Ÿ™


__ADS_2