
"Ayo ma cepat," teriak Abrian yang ternyata sudah berada di luar pintu.
"Sebentar sayang, mama lagi telepon papa," kata Arin mencoba menjelaskan.
Istri dokter Rian juga di buat binggung melihat perubahan dari bocah laki-laki itu yang awalnya begitu antusias namun setelah kembali justru bersikap begitu dingin dan ketus.
'Apa yang terjadi sebenarnya,' batin istri dokter Rian saat ini.
"Kenapa dengan anak itu," grutu Arin.
"Ayo sayang pamit sama Tante ya, kita harus cepat menyusul kak Abrian sebelum dia semakin kesal," kata Arin mengajak Aurel berpamitan.
"Tetapi ma, Aurel masih mau main di sini," gadis kecil itu menolak, dia masih engan untuk pulang.
"Ayo sayang, Aurel lihat kan kak Abrian sudah tidak sabar ingin pulang," bujuk Arin kepada putrinya.
"Tante...."
Aurel menghampiri perempuan cantik sebaya dengan sang mama.
"Iya cantik," jawab nya tersenyum lembut ke arah Aurel.
"Emmm... Aurel pamit pulang ya Tante, tetapi..... Em.. Aurel boleh tidak main ke sini lagi," kata Aurel malu-malu.
"Iya cantik, pintu rumah Tante selalu terbuka untuk Aurel yang cantik," jawab istri dokter Rian dengan tersenyum mengusap rambut milik Aurel.
"Hore asyikkk..." Aurel memekik kegirangan.
Arin dan istri dokter Rian pun mengelengkan kepalanya melihat aksi lucu Aurel tersebut.
__ADS_1
Tap tap tap tap tap tap tap.....
Arin menoleh saat mendengar suara langkah kaki mendekati mereka.
"Sayang, mana Abrian?" Tanya Abraham saat tak melihat keberadaan anak laki-laki nya di sana.
"Abrian sudah keluar," tunjuk Arin ke arah pintu.
Abraham pun bergegas menyusul sang putra.
Abraham pun sampai di depan mobil.
Tok tok tok tok tok....
"Sayang buka pintunya," pinta Abraham mengetuk pintu mobil berkali-kali karena pintu di belakang kemudi di kunci sang anak.
"Tidak," tolak Abrian dengan cemberut.
Abraham pun meminta Bimo yang bertugas menjadi supir untuk membuka pintu belakang, namun Bimo mengelengkan kepalanya dan meminta Abraham untuk masuk mobil duduk di samping supir untuk membujuk sang anak.
Ceklek..
Brukkkk...
Abraham pun menatap ke arah Abrian dengan binggung, dia menghela nafas kasar sebelum dia memulai merayu anaknya.
"Sayang, papa akan menuruti semua permintaan Abrian," kata Abraham.
Mendengar itu wajah Abrian yang tadinya masam pun berubah ceria.
__ADS_1
"Benar pa," tanya Abrian memastikan.
Abraham mengangguk setuju.
Abrian pun membisikkan sesuatu kepada Abraham. Abraham mengangguk sebagai jawaban karena baginya kebahagiaan keluarga nya penting.
...----------------...
Sedangkan Arin merasa tak enak apalagi melihat sang suami yang langsung keluar tanpa mengucapkan sepatah kata.
"Em maaf ya mbak, kami pamit pulang. Terimakasih dan maaf merepotkan, titip salam buat dokter Rian," kata Arin dengan kikuk.
"Iya mbak, terimakasih juga hadiah nya buat Kayla," balas dokter Rian dengan tulus.
"Sayang, Tante pulang dulu ya. Kapan-kapan Tante main ke sini lagi," kata Arin menoel pipi bayi mungil itu.
Setelah itu Arin pun mengandeng Aurel untuk keluar.
"Ma kenapa dengan kak Abrian? Dia buru-buru pulang karena kebelet pipis ya," tanya Aurel dengan polosnya.
Arin menepuk keningnya pelan, mendengar ucapan dari anak perempuan nya tadi.
"Aduuuh nak, masa kebelet pipis harus pulang. Di rumah om dokter juga ada kamar mandi," jawab Arin.
Di perjalanan menuju ke arah mobil, sedari tadi Aurel tak henti-hentinya bertanya kepada Arin.
"He he he he he he he, iya ya. Aurel lupa," jawab bocah itu cengengesan.
"Terus kenapa kak Abrian terburu-buru?" Tanya Aurel lagi.
__ADS_1
"Entahlah ma juga tidak tahu, sudah jangan banyak bicara. Kita harus segera menyusul kak Abrian," kata Arin berjalan cepat.
Akhir nya sampailah Arin di dekat mobil.