Benih Tuan Muda Kejam

Benih Tuan Muda Kejam
BTMK bab 77


__ADS_3

Sesampainya di mansion, Abraham pun mencari keberadaan Arin.


Abraham bernafas lega saat melihat Arin sedang berada di kamar mereka, Arin merebahkan tubuhnya yang lelah.


"Sayang kamu tidak apa-apa kan," tanya Abraham memastikan.


Arin tersenyum.


"Aku tidak apa-apa, terimakasih karena kamu hadir tepat waktu. Aku tak bisa bayangkan seandainya....." ucapan Arin terhenti kala Abraham menempelkan telunjuk di bibir Arin.


"Ssstttt jangan bicara lagi, aku tidak bisa bayangkan kalau kamu pergi jauh dari ku," lirih Abraham.


Keduanya pun saling berpelukan melepaskan rindu.


***


Satu bulan berlalu sejak kejadian itu......


Pagi ini cuaca cerah menghiasi langit kota, setelah semalam di guyur hujan. Udara terasa sejuk, bahkan pohon maupun bunga begitu terlihat segar setelah di guyur hujan tadi malam.


Arin masih bergelut dengan selimut tebalnya. Badan nya terasa lemas dan begitu malas untuk memulai pagi.


Abraham keluar dari kamar mandi, dia menggeleng pelan saat melihat sang istri masih tidur. Arin terlihat begitu lelah.


"Apa semalam aku berlebihan," guman Abraham.


Ya setelah membeli paper bag itu, Abraham tak henti-hentinya menanam bibit di dalam Arin.


Abraham pun bersiap-siap memilih pakaian untuk dia pakai bekerja. Abraham tak lupa memakai jam dan menyemprot parfum kesukaan nya.


Abraham mendekat ke ranjang karena melihat sang istri masih belum bangun juga.


"Sayang bangun," bisik Abraham di telinga Arin.


"Emmm masih pagi sayang, rasanya tubuhku remuk semua," rengek Arin kepada Abraham yang masih memejamkan matanya. Rambutnya berantakan matanya masih engan terbuka.


Abraham terkekeh melihat tingkah konyol sang istri.


"Ayo bangun kita sarapan pagi," bujuk Abraham mencium kening sang istri.


"Emmmm...." Guman Arin.


"Ayo sayang bangun, atau kamu mau aku temani tidur seharian. Tentunya dengan senang hati aku melakukan nya," bisik Abraham sekali lagi.


Otak Arin langsung tertuju ke kegiatan mereka semalam. Arin tak ingin terjebak dengan suami mesum nya ini seharian.


Arin membuka matanya dengan malas, Arin melirik Abraham sudah terlihat rapi dan tampan. Arin bernafas lega.


"Ayo bangun, terus mandi," kata Abraham kepada sang istri.


Arin pun mengangguk, dia menyeret kakinya dengan malas menuju kamar mandi.


"Sayang, aku tunggu di bawah," kata Abraham bersiap untuk turun menuju ruang makan. Sedangkan Arin mendengar suara Abraham dari luar tanpa berniat menyahuti.

__ADS_1


Arin dengan cepat menyelesaikan mandinya, Arin keluar kamar mandi dengan tersenyum saat melihat baju yang susah di siapkan oleh suaminya itu. Arin pun memoles wajahnya dengan cekatan dan tak lupa memakai baju yang sudah Abraham siapkan.


Arin memutar tubuhnya di depan cermin.


"Cantik..." Tiba-tiba Arin begitu ingin tampil cantik dan sempurna.


Setelah itu Arin turun ke bawah, di lihatnya sang suami tengah menyantap sarapan pagi.


Arin pun duduk di samping Abraham, suasana terlihat sepi, karena kedua anak kembarnya sudah berangkat ke sekolah di temani pengasuh mereka yang baru.


"Aduh istriku cantik sekali," pujian itu keluar dari mulut Abraham membuat Arin tersipu malu mendengar nya.


Arin pun melirik menu yang tersaji di meja makan, entah kenapa selera makannya hilang.


"Ayo makan sayang, ini ada menu kesukaan mu," ajak Abraham.


Arin mengeleng menolak ajakan Abraham untuk makan bersama. Melihat wajah sang istri yang tidak berselera makan membuat Abraham berinisiatif menyuapi sang istri.


"Aku suapi ya," kata Abraham hendak mengarahkan sendok ke arah Arin.


Arin mengeleng pelan, tiba-tiba rasa mual menyerang dirinya.


Arin berlari cepat menuju kamar mandi yang ada di dekat sana.


Hoeek.... Arin mencoba menumpahkan isi perutnya namun nihil.


"Aduh kenapa rasanya mual sekali," lirih Arin.


Saat itu dia yang mengalami pusing dan mual hebat saat Arin di ketahui hamil anaknya, sekarang Abraham yakin kalau Arin hamil. Apalagi Abraham yakin Arin belum datang bulan juga sampai saat ini.


"Kapan kamu terakhir datang bulan sayang?" Tanya Abraham memastikan.


Arin pun terdiam berfikir, Arin pun membulatkan matanya saat dia teringat dia belum dapat tamu bulanan bulan kemarin.


"Dari bulan kemarin aku belum dapat sayang," lirih Arin.


"A-apa kamu ham-il sayang?" Tanya Abraham bergetar.


Arin mendengar kata Abraham pun menoleh.


'Apa benar aku hamil,' batin Arin.


Arin tak mempunyai pemikiran ke sana, karena dulu saat hamil Aurel dan Abrian dirinya tidak merasakan apapun. Sedangkan Abraham begitu bahagia, langsung memeluk Arin.


Sedangkan Arin terpaku ditempatnya masih terdiam, dirinya masih belum percaya.


"Kenapa sayang, apa kamu tidak senang hamil anakku?" Tanya Abraham dengan tatapan menyelidik.


Arin mengelengkan kepalanya pelan.


"Aku masih belum percaya, apa benar aku hamil?" Jawab Arin dengan linglung.


"Biar aku suruh salah satu pengawal untuk membeli alat tes kehamilan," kata Arin memberi saran.

__ADS_1


"Sebaiknya kita ke rumah sakit saja untuk memastikan," kata Abraham di angguki Arin.


"Kalau begitu kamu siap-siap, biar hari ini aku antar ke rumah sakit memastikan secepat nya," perintah Abraham.


Arin pun menuju kamarnya, mengambil tas dan ponsel miliknya.


Trink... Terdengar notif pesan masuk dari ponsel Abraham.


Abraham pun melihat ponselnya ternyata itu pesan dari dokter Rian.


"Kenapa dokter mesum ini mengirim pesan kepadaku," kesal Abraham. Kalau dokter Rian mengirimkan pesan itu berati ada sesuatu yang terjadi.


Abraham mengepalkan tangannya karena ternyata Veli berhasil kabur.


Ya setelah kejadian penculikan Arin, Abraham sudah menyuruh semua anak buahnya meringkus Veli, Abraham takut wanita licik itu membuat masalah lagi.


Dokter Rian mengatakan kalau Veli berhasil kabur dari rumah mami sarah, Abraham membaca itu pun menjadi geram tangan nya terkepal erat.


"Tidak ada ampun untuk wanita jahat itu," sengit Abraham dengan tatapan tajam.


Abraham sungguh sesalkan dia tak membereskan Veli dari dulu.


"Kamu urusi semuanya, aku tidak ingin ikut campur karena Arin sedang hamil," balas Abraham kepada dokter Rian.


"Wah hebat, gak sia-sia tiap malam Arin kamu gempur pakai baju kurang bahan itu," ejek dokter Rian kepada Abraham melalui pesan.


"Dasar dokter mesum," kesal Abraham membalas pesan dari dokter Rian.


Abraham pun memasukkan ponselnya ke dalam saku celana dengan kesal.


Abraham teringat saat dirinya meminta Hendra membelikan baju kurang bahan itu sekodi dengan berbagai warna berbeda.


Abraham kesal kenapa saat dia menyuruh Hendra, tiba-tiba dokter Rian menyelonong masuk ke dalam ruang kerja nya tanpa mengetuk pintu.


Dari situlah Abraham sering di ledek dokter Rian.


Abraham pun menghela nafas panjang, dia menyerahkan semuanya kepada dokter Rian maupun Hendra.


Di rumah sakit tempat dokter Rian, tepatnya di sebuah ruangan cukup besar.


"Ha ha ha ha ha ha ha ha," tawa dokter Rian pun pecah.


"Hebat juga dia, langsung jadi. Ah kapan ya aku bisa menemukan wanita pujaan ku," lirih dokter Rian.


Dokter Rian menghela nafas panjang, dia harus menangani Veli terlebih dulu. Dokter Rian tahu kalau Abraham tak mungkin bisa di andalkan karena harus menjadi suami siaga.


Tiba-tiba dokter Rian teringat dengan William teman nya dulu.


"William, andai kamu tak berbuat seperti ini pasti kita masih berkumpul di sini," lirih dokter Rian.


B E R S A M B U N G....


Hari ini dobel up ya, jangan lupa like, komen maupun vote, video ๐Ÿ™

__ADS_1


__ADS_2