Benih Tuan Muda Kejam

Benih Tuan Muda Kejam
BMTK bab 68


__ADS_3

Abraham pun menyelimuti tubuh sang istri dan mencium keningnya.


Abraham memandang wajah Arin yang sudah terlelap dalam tidur.


'Maafkan aku karena terpaksa berbohong sayang, semua ini demi kebaikan kita. Aku akan melindungi kamu dan anak-anak, aku tak akan membiarkan mu menderita untuk ke sekian kalinya,' batin Abraham.


Abraham ikut tidur memeluk istrinya dengan lelap.


Di dalam kamar Doni, salah satu bodyguard milik Abraham.


"Hiks hiks hiks hiks...." Mbak Tina terisak menatapi nasibnya.


Entahlah jam berapa dia bangun, dan berapa kagetnya saat bangun dia tengah di peluk seorang laki-laki bertubuh kekar. Dengan wajah yang sedikit menyeramkan.


Mbak Tina ketakutan, dia langsung menjauh dari lelaki itu.


Mbak Tina menatap ke arah tubuh nya yang tengah dalam keadaan polos tanpa sehelai benang pun.


Deg....


Mbak Tina begitu kaget, apalagi di area bawah terasa sakit dan perih ketika di gerakkan oleh nya.


"Ssstttt ahhh...." Lirih mbak Tina.


Mbak Tina pun mengusap tubuhnya dengan kedua tangannya.


"Aku sudah kotor, apa yang akan ku lakukan nantinya," lirih nya.


" Hiks hiks hiks hiks hiks... Siapa laki-laki ini, kenapa aku bisa berada di sini, harusnya aku berada di mansion milik tuan Abraham," guman mbak Tina, karena yang dia ingat cuma dirinya tengah menyajikan kopi untuk tuannya setelah itu dia tidak ingat apapun.


Lelaki itu mengucek matanya saat mendengar suara tangisan, dia terbangun karena tidurnya merasa terganggu.


"Apa kamu sudah bangun," sapa nya lembut.


"Siapa kamu, lepaskan aku," mbak Tina menepis kasar tangan Doni.


"Hei dengarkan aku.... Aku Doni dan sekarang aku adalah suami mu mulai saat ini, jangan pernah membantahku atau berbuat macam-macam tanpa sepengetahuan ku, aku akan berbuat baik kepadamu kalau kamu juga menghargai ku tetapi sebaliknya aku bisa berbuat jahat sampai kamu ketakutan tak berani menatapku," ancam Doni.

__ADS_1


Doni terpaksa berbuat seperti itu, karena Doni takut mbak Tina berbuat macam-macam kepada keluarga Abraham. Doni tahu bagaimana


Deg...


'Jadi dia suamiku, kapan aku menikah?' batin mbak Tina.


Mbak Tina memandang laki-laki ini dari atas sampai bawah, tetapi mbak Tina tak terasa asing dengan lelaki ini. Mbak Tina kaget saat melihat wajahnya.


"Semalam kita menikah, ya aku beruntung berkat kebodohan mu yang dengan lancang memasukkan obat itu ke dalam kopi milik tuan Abraham," jawab Doni terkekeh.


Deg.... Seketika tubuh mbak Tina terasa lemas mendengar ucapan dari Doni.


Mbak Tina memandang ke arah Doni yang tengah tersenyum menatap nya remeh.


"Ini adalah hukuman mu menikah dengan ku dan tentu saja aku sangat senang mendapat kan wanita cantik dan tentunya masih perawan," kata Doni saat teringat betapa sulitnya dia memasukkan senjata kebanggaan nya.


Doni berteriak girang dalam hati ternyata wanita ini masih perawan, Doni kira dia adalah wanita murahan yang sengaja ingin menjebak tuannya.


'Ini semua akibat keserakahan ku, aku yang kurang bersyukur dan merasa iri dengan apa yang di miliki orang lain, mungkin ini adalah hukuman untukku,' batin mbak Tina sendu.


Doni ingin wanita yang sudah resmi menjadi istrinya ini sadar dan tak berbuat aneh-aneh. Doni ingin membangun rumah tangga yang tenang dengan beberapa anak yang lucu-lucu.


'Aku yakin dia wanita yang baik buktinya dia masih perawan saat menikah dengan ku, mungkin dia ingin hidup enak dan bersuamikan seperti tuan Abraham,' batin Doni.


Mbak Tina mengerutkan keningnya. "Mami Sarah," guman mbak Tina pelan.


"Ya... Mami Sarah, di sana kamu akan bekerja melayani para lelaki hidung belang, kalau tuan Abraham sudah marah, aku pun tak bisa menolong mu," jawab Doni seakan memperingatkan sang istri.


Dan benar saja mbak Tina pun bergidik ngeri membayangkan nya.


Dia memeluk tubuhnya erat seakan dia mengerti kata Doni, mbak Tina merasa dia beruntung kali ini. Dari perkataan Doni mbak Tina sadar siapa Abraham, dia seperti iblis berwajah malaikat.


"Iya saya akan menuruti semua kata mu,"lirih mbak Tina pasrah akan nasibnya.


"Ayo tidur lagi," ajak Doni menepuk kasur di sisi nya.


Awalnya mbak Tina ragu, tetapi sekarang dia sudah pasrah menerima kenyataan ini. Dia masih beruntung itulah yang ada di pikirannya.

__ADS_1


"Minggu depan kita ke kampung mu, aku ingin berkenalan dengan orang tuamu," kata Doni.


Mbak Tina terdiam, dua mendongak menatap wajah Doni.


Sebenarnya jika di lihat Doni cukup tampan, wajahnya sedikit rusak terkena api saat dulu dia menyelamatkan tuannya dari para musuh. Abraham sudah menawarkan dia untuk operasi wajahnya tetapi dia menolak dengan alasan.


"Biarkanlah seperti ini, dia ingin mencari ketulusan dari seorang wanita yang mau menerima dirinya apa adanya," itulah kata Doni waktu itu.


'Sebenarnya dia baik juga dan kalau di perhatikan dari samping kiri dia terlihat tampan, cuma bekas luka itu terlihat mengerikan,' batin mbak Tina.


"Kalau kamu takut wajahku ini, kamu bisa tidur di sofa," kata Doni menunjukkan ke arah sofa.


Mbak Tina mengeleng, dia pun memejamkan matanya. Lelah tubuh, hati dan pikiran membuatnya cepat tertidur.


Doni memandang ke arah mbak Tina yang sedang tertidur. Doni pun memeluk nya dengan erat.


'Aku beruntung bisa menikah dengan dia, jika di lihat dari ku selidiki tadi malam. Dia wanita yang baik dan pekerja keras. Aku harus membimbing dia untuk jadi wanita yang pandai bersyukur sehingga dia tak muda kena hasutan orang lain karena rasa iri,' batin Doni.


Keesokan harinya....


Arin mengeliat merasakan berat di area perut nya, Arin mengarahkan pandangannya ke arah perut ternyata tangan kokoh milik Abraham tengah memeluknya dengan posesif.


Arin menyingkirkan tangan itu ke samping.


"Aduh badanku rasanya remuk semua," guman Arin.


Dengan malas Arin turun dari ranjang, berjalan pelan menuju kamar mandi.


Ceklek....


Setelah menutup pintu kamar mandi, Arin mengisi bathtub dengan air hangat untuk meredakan rasa pegal akibat pergaulan tadi malam.


Arin masuk ke dalam bathtub dan merebahkan kepalanya sambil memandang langit-langit kamar mandi.


"Kenapa mbak Tina tidak pamit kepadaku, apakah dia marah karena aku meminta dia untuk menjaga nek Ijah," guman Arin.


B E R S A M B U N G....

__ADS_1


__ADS_2