Benih Tuan Muda Kejam

Benih Tuan Muda Kejam
BTMK bab 129


__ADS_3

Amanda tersenyum kala mendapatkan beberapa kue pesanan sang bunda. Dengan hati riang Amanda membawa masuk ke 4 kue pesanan sang bunda ke dalam mobilnya, di dalam kantong plastik itu yang terdiri dari beraneka macam kue. Amanda sejujurnya heran karena begitu banyak kue yang di pesan sang bunda.


"Bunda pesan kue banyak banget, buat apa ya," guman Amanda melihat kue itu cukup banyak dan tak akan habis untuk tamu satu orang saja, itulah yang di pikirkan Amanda saat ini.


"Ah sudahlah untuk apa aku pusing-pusing memikirkan hal itu," guman Amanda.


Amanda pun memacu kendaraan roda empat nya dengan pelan karena jalanan cukup macet.


"Ah bisa telat aku sampai rumah," kesal Amanda menatap mobil di depan nya yang tak kunjung jalan.


Amanda memanfaatkan waktu itu untuk mengetikkan pesan kepada sang bunda.


"Bun, maaf mungkin Amanda baru sampai satu jam lagi. Amanda terjebak macet," setelah menulis pesan itu, dengan cepat Amanda mengukir jarinya untuk mengirim pesan kepada sang bunda.


Satu jam berlalu....


Mobil Amanda memasuki halaman depan rumahnya. Amanda pun turun dan meminta pak Narto untuk memasukkan mobil ke dalam garasi.


Amanda berjalan memasuki Rumah nya, kedua tangannya penuh karena membawa kue-kue tadi.


Melihat sang putri yang kesusahan membuat bunda menghampiri Amanda.


"Sayang bunda kira kamu masih di jalan," sambut sang bunda mengambil satu kantong plastik yang di bawa sang putri.


"Bunda ini semua buat nyambut tamu siapa sih Bun, banyak banget," tanya Amanda karena sedari tadi dia begitu penasaran.


"Oh ini teman bisnis papa yang datang dari luar kota katanya," jawab bunda.


"Tumben Bun, biasanya kan Papa suka bertemu di restauran terkenal," kata Amanda mengingat sang Papa yang tak pernah membawa rekan bisnis nya ke rumah karena takut merepotkan sang bunda.


"Mumpung di sini katanya sekalian saja mampir, papa sih bilang begitu," jawab bunda, tangan nya menaruh kue di meja makan tak lupa mengeluarkan semua kue pesanan nya. Satu persatu kardus itu di buka semua untuk memastikan kue benar takutnya Amanda salah memilih kue.


"Oh jadi tuh orang cuma mampir ya Bun," kata Amanda menyimpulkan demikian.

__ADS_1


"Hampir benar dugaan mu sayang, rekan bisnis Papa itu sedang ke sini sekalian mengunjungi anaknya yang kuliah di sini. Kalau gak salah sih itu satu kampus dengan mu," jelas bunda mengingat pembicaraan nya dengan sang suami tadi malam.


Sama seperti Amanda saat ini, bunda pun menanyakan berbagai macam pertanyaan karena dirinya pun di buat penasaran.


"Sudah jangan banyak tanya, cepat kamu mandi terus makan," titah bunda.


"Siap bos," jawab Amanda memberi jawaban dengan hormat kepada sang bunda, sontak hal itu membuat bunda tersenyum lucu melihat tingkah sang anak yang seperti anak kecil.


Amanda pun berlalu menuju ke lantai atas di mana kamar miliknya berada.


Sedangkan di tempat Arin.


Abraham yang baru tiba bergegas menuju ke dalam rumah, tubuh dan hati nya sedang tak baik-baik saja. Dia membutuhkan sang istri untuk meredamkan segala kesedihan, emosi dan kemarahan yang sedari tadi dia pendam sendiri.


Abraham dengan cepat menuju kamar sang anak, Abraham yakin pasti sang istri sedang berada di sana.


Dengan cepat, Abraham membuka pintu kamar baby Andra. Ternyata benar dugaannya, di sana dia melihat Arin yang sedang menyusui baby Andra.


"Iya Bun," jawab Abraham singkat.


"Nak biar baby Andra, bunda gendong! Kamu urus suami mu dulu," saran bunda mengambil alih sang cucu dari dekapan hangat mama nya.


Bunda tahu saat ini sang menantu sedang tak baik-baik saja, terlihat dari sorot matanya penuh kesedihan dan penampilan yang biasanya rapi terlihat berantakan. Karena itulah bunda menyuruh anaknya perempuan nya itu untuk menemani sang suami.


Arin menatap sang suami, dia sedikit paham mengapa sang bunda menyuruhnya untuk menemani Abraham.


Dengan lembut, Arin menuntun tangan besar nan kokoh itu ke dalam kamarnya. Arin membuka dasi yang sudah tak serapi tadi pagi tu.


Arin pun melepaskan sepatu milik sang suami, namun Abraham masih terdiam. Saat Arin hendak menuju kamar mandi untuk menyiapkan air hangat. Pinggang ramping nya itu di peluk dari belakang oleh sang suami.


"Mas ada apa?" Tanya Arin saat merasa tubuh suami nya itu bergetar.


"Biarkan seperti ini dulu," pinta Abraham masih memeluk sang istri dengan kencang seolah meluapkan segala rasa sakit nya saat ini. Pelukan ini seolah obat mujarab bagi Abraham.

__ADS_1


5 menit kemudian, pelukan itu terlepas.


"Mandilah biar tubuh mu sedikit rileks, setelah mandi ku tunggu di sini. Bagilah sedikit kesedihan mu itu kepada ku," pinta Arin. Tak lupa Arin memberikan kode untuk Abraham, agar dia mau membagi semua beban yang saat ini dia pendam sendiri.


Abraham mendongak menatap wajah damai sang istri, setelah itu Abraham mengangguk.


Abraham memasuki kamar mandi, benar saja rasa lelah yang dia rasakan sedikit berkurang karena berendam di air hangat.


Setelah 15 menit , Abraham pun menyudahi mandi nya. Saat dia keluar dari kamar mandi, Abraham masih melihat sang istri duduk manis di atas ranjang.


Abraham pun mengambil baju yang di siapkan oleh Arin dan membawanya ke ruang ganti.


Abraham pun menghampiri sang istri kala dirinya sudah selesai. Arin mengambil handuk kecil dan menggosok rambut Abraham yang masih basah.


"Aku tahu mas menyimpan sesuatu, bagilah dengan ku mungkin dengan begitu kamu akan merasa lega," pinta Arin.


Abraham menatap mata Arin yang penuh dengan ketulusan.


Abraham pun membuka mulutnya, menceritakan semua nya. Abraham menceritakan pertemuan dengan sang mama tanpa terlewatkan satu pun.


Deg...


Arin menutup mulutnya seolah tak percaya dengan apa yang di dengarnya, Arin menatap wajah sang suami yang terlihat bersedih.


Arin memeluk erat tubuh gagah itu namun terlihat rapuh. Arin tak menyangka kehidupan sang suami begitu menyedihkan.


"Ada aku, ada Aurel, Abrian dan baby Andra. Kamu tidak sendirian ada kita," kata Arin menguatkan sang suami.


"Terima kasih sayang," lirih Abraham mengatakan kata itu dengan tulus, tangan nya mengeratkan pelukan di tubuh sang istri.


Arin tak menyangka kehidupan Abraham yang dulu dia pikir penuh dengan kemewahan, kesombongan itu hanya sebuah topeng, Arin juga mengingat bagaimana arogan nya lelaki yang menjadi suaminya ini, ternyata semua itu semua itu hanya untuk menutupi kesedihannya, Arin berfikir dia begitu beruntung memiliki kehangatan keluarga meskipun hidup sederhana namun Arin berfikir kalau dia masih beruntung memiliki bunda dan kedua adiknya.


B E R S A M B U N G....

__ADS_1


__ADS_2