
Sesampainya di dekat Nino , Tio pun berhenti dirinya berjongkok untuk mengatur nafasnya yang masih memburu. Matanya menatap Nino dengan memicing penuh dengan berbagai pertanyaan.
"Ada apa dengan dia, aneh masa dia seperti orang gila nyiumi tangannya sendiri sambil senyum-senyum. Apa jangan-jangan dia kerasukan penunggu pohon itu ya," guman Tio pelan melihat kelakuan temannya yang menurutnya aneh.
Tio bergidik ngeri melihat pohon besar yang berdiri kokoh di samping mobil miliknya.
Plukk....
Nino tersentak kaget ketika seseorang menepuk pundaknya dari belakang. Dengan cepat Nino menoleh ke belakang.
"Eh kamu kirain siapa," kata Nino merasa kaget bercampur gugup karena kehadiran Tio yang tanpa dia duga saat ini.
"Kamu kenapa senyum-senyum tidak jelas?" Tanya Tio yang sedari tadi masih penasaran.
"T-idak apa-apa kok," jawab Nino sedikit gugup karena dia tidak ingin berkata jujur kepada Tio.
"Benar, kamu tidak bohong kan?" Tanya Tio menatap Nino penuh selidik, Tio belum percaya seratus persen ucapan yang keluar dari mulut Nino.
'Mana mungkin aku bilang kalau tadi aku dapat rejeki nomplok, ada 2 gadis cantik merayuku gara-gara mobil milik mu. He he he he..... Mereka mengira mobil ini milikku, bisa-bisanya kalau kamu tahu nanti kamu marah, bisa berabe nanti,' batin Nino berfikir dalam hati nya kata apa yang tempat untuk menjawab pertanyaan Tio saat ini.
'Nih anak kenapa? Tingkahnya begitu mencurigakan?' batin Tio bertanya-tanya dalam hati nya.
'Wah jangan-jangan nih anak kesambet lagi,' batin Tio bergidik ngeri.
"Emm.... Itu tadi tangan ku sepertinya terkena belalang, yang baunya sedikit aneh," bohong Nino seraya mendengus tangannya.
"Ha kok bisa, mana?" Kata Tio penasaran.
"Nih, kamu cium saja tangan ku," kata Nino menyodorkan tangannya ke arah Tio.
'He he he he he, biar dia sekalian sungkem sama aku,' guman Nino tertawa dalam hati menghayal Tio mencium tangannya.
"Ih ogah, sana jauh-jauh tuh tangan," Tio mendorong tangan Nino seperti orang jijik.
"Lha tadi kamu tanya, nih aku kasih tahu," jawab Nino seenaknya.
Tio melotot menatap horor ke arah Nino.
"He he he he he he, santai bro," Nino mengangkat kedua tangan nya seolah meminta ampun saat melihat betapa mengerikannya tatapan Tio.
__ADS_1
'Dih punya teman begini amat ya, serem banget kalau dia lagi mode dingin, datar begini,' batin Nino.
"Oh ya mana Amanda? Biasanya kalian kemana-mana selalu berdua, lengket banget seperti lem ," tanya Nino di sertai candaan untuk mengalihkan topik pembicaraan.
"Oh Amanda lagi ada kelas," jawab Tio.
"Pantas," jawab Nino mengangguk.
Tak lama muncul 2 orang yang sudah Tio hubungi sebelumnya, orang itu menghampiri Tio secepatnya.
"Hay bro maaf lama," kata pria tampan berkulit sawo matang itu menjabat tangan tio.
"Ok, santai saja," jawab Tio membalas jabatan tangan temannya itu.
"Lho kamu panggil mereka?" Tanya Nino kaget.
"Iya karena pihak bengkel terlalu lama, sekarang kamu hubungi pihak bengkel itu lagi kamu cancel saja, kalau mereka protes nanti suruh mereka masukan tagihan ke aku sebagai ganti rugi ongkos perjalanan," jelas Tio kepada Nino.
Nino menghela nafas panjang, dia segera menuruti permintaan Tio.
"Ku serahkan mobil ku sama kalian berdua, ku tinggal ke kantin. Kalau semua sudah selesai kamu bisa hubungi aku," jelas Tio.
"Beres," jawab pria itu dengan cepat.
"Eh kok di tinggal, kamu tidak takut tuh mobil kamu yang keren itu di bawa mereka kabur?" Tanya Nino menatap ke arah Tio dengan rasa tak percaya.
"Aku lebih percaya dia daripada kamu," kata Tio.
"Kok kamu percaya mereka, bukannya aku yang notabene sahabat kamu," Nino bertanya seolah tak percaya apa yang keluar dari mulut Tio saat ini.
"Sudah jangan suudzon, mereka itu orang kepercayaan kakak ipar ku. Nah kalau mereka bawa kabur mobilku gampang tidak sampai satu jam mobil itu akan kembali lagi ke aku tanpa ada lecet sedikit pun. Nah beda kalau kamu yang bawa, aku malah takut, bukan takut hilang tetapi takut rusak seperti mobil Bram," jelas Tio seraya melirik ke arah Nino untuk melihat ekspresi wajah Nino saat ini.
Nino melebarkan matanya, dia menatap Tio dengan mengerutkan keningnya. Nino tak menduga Tio tahu kalau dia sempat membuat mobil Bram nyungsep. Nino menggaruk tengkuknya dengan kikuk.
'Bagaimana Tio tahu masalah ini? Tetapi untung saja aku tadi cuma numpang foto doang tidak berani macam-macam sama tuh mobil, kalau tidak bisa tamat riwayatku,' batin Nino bergidik ngeri membayangkan apa yang akan di lakukan Tio kepada nya nanti.
"He he he he he he, itu kan aku lupa harusnya aku injak rem bukannya gas," jawab Nino cengengesan.
"Ck dasar, ayo cepat jalan nya jangan lelet seperti perempuan,"
__ADS_1
Tio berjalan cepat agar dia cepat sampai di kantin namun saat dia hendak tiba di sana tiba-tiba dia berputar ke arah toilet.
"Lho kemana?" Tanya Nino merasa heran karena Tio justru berbalik arah.
"Kenapa? Mau ikut?" Tanya Tio.
Nino mengelengkan kepalanya sebagai jawaban.
"He he he he he, tidak kok," jawab Nino.
"Terus kenapa kamu masih ngikutin aku?" Tanya Tio kesal karena Nino mengikuti dirinya dari tadi.
"He he he he he he, mana upah nunggu mobil tadi," jawab Nino tanpa rasa bersalah.
Tio menepuk keningnya. Setelah itu dia merogoh saku celananya mencari dompet.
"Nih," Tio mengambil 1 lembar uang berwarna merah dan memberikan nya kepada Nino.
Nino masih terdiam di tempatnya meskipun sudah menerima uang dari Tio.
"Ck kenapa kamu masih diam di situ?" Tanya Tio dengan geram.
"He he he he he, kurang. Tambahin 1 lagi ya," pinta Nino memelas.
"Ck untung teman kalau tidak sudah ku buang ke laut," grutu Tio merogoh kembali saku celananya untuk mencari dompet.
"Nih," Tio menyerahkan 1 lembar lagi.
Nino mencium uang itu dengan gembira.
"Nah gitu dong, makasih ya Tio yang tampan dan baik hati," kata Nino dengan begitu manis.
"Heeeemmmm...." Jawab Tio malas.
Tio berjalan cepat menuju ke toilet.
"Sial banget sih hari ini, berangkat buru-buru ternyata kelas kosong. Lebih kesal lagi ketemu tuh Denis yang sok kecakepan pake ban mobil ku di buat bocor lagi. Di palak sama Nino pula... Nasib ku hari ini jelek banget sih," grutu Tio dengan kesal berjalan menuju ke arah toilet.
"Ah sudah lah,"
__ADS_1
Setelah itu Tio pun bergegas menuju toilet untuk buang air kecil.
B E R S A M B U N G....