Benih Tuan Muda Kejam

Benih Tuan Muda Kejam
BTMK bab 36


__ADS_3

Sedangkan di kediaman Abraham, tepatnya di kamar seorang wanita cantik masih asyik dalam mimpinya. Entahlah mimpi apa yang membuatnya begitu nyenyak tidur.


Arin terbangun mengucek matanya yang terasa berat. Dengan malas dia memaksa matanya untuk terbuka, pandangan pertama yang dia lihat adalah isi kamar yang berbeda dari milik nya. Kamar yang begitu luas dengan ornamen berwarna gold. Menambah kesan mewah.


"Hoaaammm.... Emm di mana aku?" lirih Arin mengucek mata dengan satu tangannya.


Arin pun mengingat sesuatu, ternyata dia baru ingat kalau saat ini dia berada di kediaman lelaki itu.


"Ah kenapa aku sampai lupa kalau aku masih berada di rumah pria itu, apa sih yang dia inginkan sampai memaksa membawaku ke rumahnya," grutu Arin masih kesal.


Pandangan tertuju pada jam dinding yang ada di sudut kamar.


"Emmm.... Ternyata sudah jam 8 pagi, bisa-bisa nya aku sampai bangun ke siangan ," guman Arin memandangi jam dinding.


Dengan cepat Arin menyibak selimut yang menutupi tubuhnya.


Kaki jenjangnya melangkah menuju kamar mandi. Hari ini Arin tak sabar untuk menemui pria itu dan meminta agar dia di ijinkan pulang.


Lima belas menit Arin keluar dari kamar mandi.


"Uhhhh segarnya..." Kata Arin yang terlihat lebih segar. Arin duduk di meja rias, menyisir rambut panjang nya.


Tok tok tok tok tok tok tok....


Dengan masih memakai handuk kimono, Arin berjalan menuju pintu kamar karena Arin tak punya pilihan, tak mungkin dia memakai baju kemarin past baju itu sudah kotor.


Ceklek....


Arin menyembulkan kepalanya karena dia cukup risih hanya memakai handuk kimono saja. Arin begitu takut kalau yang membuka kamar itu adalah Abraham, lelaki yang ternyata telah merenggut masa remaja nya.


"Nyonya ini baju anda," kata pelayan itu ramah.


Arin bernafas lega ternyata yang mengetuk pintu adalah pelayan yang mengantarkan baju untuk dia pakai saat ini.


Arin pun membuka pintu lebar-lebar, membiarkan pelayan tadi membawa masuk tumpukan baju yang sedang dia bawa.


Setelah menaruh baju tersebut pelayan pun pamit undur diri. Pelayan itu tak berani menatap maupun memperlakukan Arin dengan kasar, mereka semua takut dengan hukuman yang akan mereka dapatkan.


"Saya permisi nyonya, kalau ada sesuatu yang di butuhkan anda bisa menghubungi kita melalui telepon di sana," jelas pelayan tadi sambil menunjuk ke arah telephon yang ada di meja samping tempat tidur.


"Terimakasih," kata Arin tersenyum hangat.


Pelayan itu pun tersenyum, dalam hati dia tak menyangka Arin adalah orang yang baik terlihat dari cara bicara dan senyum nya yang begitu tulus.


"Saya pamit melanjutkan pekerjaan di dapur, kalau nyonya lapar silahkan ke bawah, semua sudah tersedia di meja makan,"


Arin pun mengangguk setelah itu pelayan pergi meninggalkan kamar Arin.


Brak.... Arin menutup pintu. Dia duduk di atas tempat tidur. Pikirannya berkelana jauh.


"Bagaimana kabar kalian sayang, mama kangen...." Lirih Arin memikirkan sang buah hati.


"Entah apa yang akan di lakukan pria itu padaku," gimana Arin.


Sedangkan di kantor, Abraham tengah menatap berkas yang menumpuk di meja nya.


Entahlah pikiran tak tenang melanda dirinya, seakan ada masalah besar yang akan mendatanginya.


Klik....

__ADS_1


Tut.... Sambungan telepon terhubung.


Baru saja mengangkang telepon, terdengar suara Abraham membuat Hendra harus memilih terdiam menyimak


"Hendra... Selidiki apa yang di lakukan William hari ini, jangan sampai terlewat satu pun," titah Abraham.


"Semua pekerjaan hari ini kamu yang urus, aku mau pulang," sambung Abraham.


Tut.... Panggilan terputus sepihak.


"Ta....." Belum sempat Hendra menolak tiba-tiba panggilan itu di tutup sepihak.


"Selalu saja di tutup tanpa bisa bicara, nasib jadi bawahan," grutu Hendra yang kesal tuannya selalu saja seenaknya.


"Bagaimana bisa dapat kekasih, tiap hari kerjaan tidak ada habisnya," guman Hendra meratapi nasibnya. Akankah dirinya menjadi perjaka tua.


Sedangkan Abraham membereskan meja kerjanya, dia membawa beberapa berkas untuk di antar ke ruangan Hendra supaya Hendra kerjakan semuanya.


Tap tap tap tap tap...


Ceklek...


Bruk....


Hendra mendongak menatap pada tumpukan berkas yang baru saja mendarat di mejanya, siapa lagi pelakunya kalau bukan Abraham.


Tap tap tap tap tap tap.... Dengan langkah lebar Abraham meninggalkan ruangan Hendra tanpa sepatah kata pun .


Sedangkan Hendra melotot tak percaya.


"Ha bagaimana semua ini bisa selesai hari ini, kalau aku harus mengerjakan semuanya sendiri,"


Hendra mengusap wajahnya kasar.


Klik...


Tut .....


"Shinta cepat datang ke ruangan saya," titah Hendra melalui sambungan telepon.


Sedangkan Abraham memasuki mobil dengan senyum mengembang, memikirkan Arin membuatnya bahagia.


Sedangkan pak supir bergidik ngeri melihat tuan nya tersenyum manis.


"Mau sampai kapan kamu melihat ku hahhh......" Kesal Abraham.


"Maaf tuan," cicit pak supir dengan hati was-was.


"Aku memperkerjakan mu bukan untuk memperhatikan ku, cepat jalan," kata Abraham dengan nada menggelegar.


"Kita kemana tuan," tanya supir itu dengan takut.


Abraham menatap horor ke arah supir karena membuat suasana hatinya menjadi kesal.


"Pulang......"


"Baik tuan,"


Mobil pun melaju dengan kecepatan sedang membelah jalan raya yang ramai.

__ADS_1


Setelah perjalanan hampir 2 Jam, mobil pun sampai di gerbang mansion mewah Abraham.


Tin..... Tin... Tin...


Dengan cepat pak satpam membuka pintu gerbang.


Setelah itu mobil berjalan pelan melewati taman depan rumah yang cukup luas, menuju garasi.


Pak supir pun membuka pintu mobil dengan hormat.


Tap tap tap tap tap... Dengan tergesa-gesa Abraham menuju ke dalam rumah.


Abraham memandang sekeliling yang terasa sepi.


"Di mana wanita itu," kata Abraham kepada salah satu pelayan yang tanpa sengaja lewat di depan nya.


"Nyonya Arin masih di kamarnya tua ,"


"Apa dia sudah makan?"


"Maaf tuan, nyonya Arin belum turun untuk makan,"


Setelah itu Abraham mengibaskan tangannya mengusir pelayan tadi, pelayan itu pun pergi meninggalkan Abraham.


"Benar-benar nakal kau kucing kecil," kata Abraham dengan senyum yang sulit untuk di artikan.


Tap tap tap tap tap... Abraham menaiki tangga dengan cepat.


Sampailah dia di depan kamar Arin.


Ceklek ceklek ceklek ceklek...


Berkali-kali Abraham mencoba membuka pintu itu tak bisa ternyata pintu itu di kunci dari dalam.


Tok tok tok tok tok....


"Siapa sih gak sabaran banget," grutu Arin, tangan lentiknya berhenti memoles wajah cantik nya.


"Pasti pelayan tadi menyuruhku turun untuk makan," kata Arin santai.


Ceklek.....


Mata Arin melotot sempurna ternyata di depan adalah Abraham.


"Kamu......" Arin perlahan mundur ke belakang, entahlah tatapan mata Abraham yang begitu dingin nan tajam membuatnya takut.


BERSAMBUNG.....


Update satu bab ya. Aku juga update di novel yang satunya Di Kejar Cinta ABG Tengil.


Biasakan setelah membaca like ya.


Seperti biasa ya saya, jangan lupa.


~Like


~Komen


~Rate

__ADS_1


~Vote


TERIMAKASIH SEMUA ATAS DUKUNGAN KALIAN SEMUA.


__ADS_2