Benih Tuan Muda Kejam

Benih Tuan Muda Kejam
BTMK bab 114


__ADS_3

Tio pun menuju garasi dan di sana sudah menunggu Bimo dan Doni karena Tio sudah menghubungi nya tadi. Abraham menjadikan Tio sebagai tangan kanan nya, dia mengajari adik Arin itu berbagai hal tanpa sepengetahuan Arin.


Abraham tak melibatkan Rio, walaupun mereka saudara kembar namun Rio lebih suka menjadi arsitek dan mengurus usaha Arin yang mulai berkembang pesat.


Bimo sengaja menyuruh Tio untuk datang menemuinya di garasi khusus yang hanya beberapa orang yang tahu.


"Kami tunggu di garasi belakang, lewat pintu rahasia saja jangan sampai ketahuan takutnya ada mata-mata di dalam," isi pesan Doni membuat Tio harus waspada dan berhati-hati supaya kepergiannya di ketahui oleh orang lain, bahkan art atau Bodyguard yang lainnya.


Brak...


Tio menutup pintu mobil setelah mengetahui kalau Bimo dan Doni sudah berada di dalam mobil.


"Apa sebaiknya kita beritahu kepada tuan Abraham terlebih dahulu?" Tanya Doni memastikan.


"Jangan, saat ini kak Abraham sedang dalam kondisi yang kurang baik. Takutnya dia tak bisa fokus di sana nanti, biar kita saja urus semuanya," jawab Tio.


"Iya aku juga setuju," jawab Bimo.


Mobil pun melaju meninggalkan mansion mewah itu.


"Bang Doni sudah kerahkan anak buah kita yang ada di markas utama untuk membantu di markas B yang di serang," tanya Tio.


"Emm... Aku sudah beritahu anak buah kita yang ada di markas utama sama markas A kalau markas B kita kena serang," kata Bimo menjelaskan karena Doni masih fokus mengisi peluruh untuk ketiga senjata nya.


"Bang apa perlu kita membawa senjata?" Tanya Tio.


"Ini hanya untuk berjaga-jaga takutnya ada penyusup di markas karena keamanan di markas B cukup bagus tetapi kenapa bisa kecolongan," jelas Doni membuat Tio mengambil senjata itu dan memasukkannya ke saku jaket yang ada di dalam.


Mobil melaju dengan kencang membela jalanan kota, jangan ragu kan dengan kelihaian Bimo dalam berkendara.


Ckiiiiiiiittttt .....


Mobil berhenti lumayan jauh dari markas B.


"Bang kenapa kita berhenti di sin" tanya Tio heran, harusnya mereka bergegas menuju ke sana.


"Lihat itu," tunjuk Bimo ke arah mobil yang terparkir tepat di depan pintu gerbang.


"Dari mobil mereka bisa diperkirakan mereka dalam jumlah lumayan besar, kita harus hati-hati," jelas Bimo membuat Tio maupun Doni menyiapkan diri.


Ceklek...


Bimo mengendap-endap masuk ke dalam markas.


Dor dor dor dor.... Terdengar suara tembakan dari dalam membuat ketiganya semakin waspada.


Ceklek..


Pintu depan terbuka namun Tio terbelalak saat mengetahui anak buahnya terkapar, ada yang dengan luka lebam di sekujur tubuhnya dan ada juga yang tertembak di bagian lengan maupun kaki.


Doni memberi arahan untuk masuk namun dengan cara mengendap-endap.

__ADS_1


Dor..


Dor...


Dor...


Bunyi tembakan memenuhi ruangan itu.


Tio dengan cepat merunduk dan mencoba mengintip di sana, dia bernafas lega karena para penghianat itu masih berada di sana.


Puk...


Deg... Tio sudah pucat karena tepukan dari belakang, sedangkan Bimo maupun Doni ada di depannya.


'Aduh siapa yang menepuk pundak ku, jangan-jangan ini musuh,' batin Tio sedikit takut.


"Bos," kata salah satu orang kepercayaannya.


Mendengar orang memanggil dirinya bos membuat Tio bernafas lega, Tio sempat berfikir kalau dia akan tertangkap.


Ternyata itu adalah Randy orang kepercayaan nya yang tak lain juga sahabatnya di kampus.


Tio pun menoleh ternyata anak buah dari markas utama dan markas A sudah tiba.


Tio pun memberi arahan untuk mereka semua masuk.


"Randy kamu bawa mereka semua yang terluka ke rumah sakit," perintah Tio menunjuk ke arah orang-orang yang terluka.


Tio pun masuk.


Bug bug bug bug bug... Tio memukul beberapa dari mereka, jangan tanyakan lagi keahlian Tio karena Abraham sendiri lah yang sudah melatih adik ipar nya itu. Abraham ingin menjadikan Tio tangguh dalam hal apapun.


Brak...


Dor...


Dor....


Doni bertarung melawan mereka sedangkan Bimo mengawasi dengan senjatanya.


Dor..... Srekkkk.....


Tio tiba-tiba menoleh saat mendengar tembakan dari belakang nya.


Tio melotot karena peluru itu menuju ke arah Bimo.


Tio berlari mendorong Bimo yang tengah fokus menembaki musuhnya.


Brukkk.... Tubuh Bimo terhempas ke bawah.


Bimo yang kaget pun menoleh saat mendapati tubuh Tio sudah berlumuran darah akibat peluru yang melesat ke tubuh Tio.

__ADS_1


"Tio...." Bimo berteriak saat melihat Tio terkapar memegang luka tembakan itu.


"Aaaaaa...." Teriak Bimo frustasi.


Bimo pun mengambil senjata Tio, dia menembaki semua musuhnya dengan menggunakan 2 senjata. Bimo seakan kalut dalam kemarahan, semua musuh pun tak berdaya dan di ringkus oleh anak buahnya.


"Tio," Doni menepuk pipi pemuda tampan itu dengan keras untuk menyadarkan nya.


Doni segera mengendong Tio berlari menuju mobil yang terparkir di depan markas itu.


"Kalian urus mereka semua, bawa ke markas utama dan perketat penjagaan takutnya mereka punya rencana jahat," titah Doni pada anak buah yang masih tersisa di sana.


Sedangkan di tempat Amanda.


Ceklek...


Amanda baru saja kembali dari dapur mengambil air minum.


Amanda menutup pintu tak lupa mengunci nya. Amanda berjalan menuju tempat tidur tak lupa menaruh gelas berisi air putih itu ke atas meja, namun tanpa sengaja kaki Amanda tersandung karpet bulu yang ada di bawah tempat tidur.


Dengan cepat Amanda berpegangan ke meja, memang gelas itu aman namun tanpa sengaja justru Amanda menyenggol foto Tio.


Foto yang dulu Amanda ambil diam-diam dan di taruh di kamarnya.


Pyarrrr....


Bingkai foto itu terjatuh, kaca itu pecah.


Deg....


Dada Amanda berdebar kencang, pikirannya tertuju ke foto Tio.


"Kenapa aku kepikiran dengan Tio," tiba-tiba pikiran Amanda tertuju ke Tio.


"Apa Tio baik-baik saja," Pikiran Amanda tak tenang.


Tut.... Tut... Tut...


Sambungan telepon itu tak di respon pemiliknya membuat Amanda semakin di landa kecemasan.


"Apa yang dia lakukan? Kenapa dia tak mengangkat telepon dari ku, apa dia tak tahu kalau aku sedang mencemaskan dirinya," guman Amanda terlihat mondar-mandir tak jelas di kamarnya.


"Ah sudahlah buat apa mencemaskan dia," kesal Amanda.


Amanda pun membuka laptop miliknya dan mengerjakan tugasnya, dia ingin mengusir Tio yang sedari tadi berseliweran di dalam benaknya.


"Ah kenapa sih wajahnya muncul terus di mata ku," kesal Amanda.


Amanda pun meninggalkan meja belajarnya, dia berlalu menuju kamar mandi untuk membasuh muka nya, Amanda berfikir mungkin dengan dinginnya air itu bisa menyadarkan dirinya agar fokus.


B E R S A M B U N G...

__ADS_1


Maaf ku tambahin bumbu ya ๐Ÿ™


__ADS_2