
Abraham pun beranjak dari tempat duduknya karena kesal.
"Papa mau ke mana?" Tanya Abrian.
"Papa mau ke ruang kerja dulu sayang, papa masih banyak pekerjaan, setelah makan nanti kalian istirahat di kamar kalian," jawab Abraham, dia tidak ingin memperlihatkan kemarahannya. Bisa-bisa citra baik yang tadi telah dia tunjukkan tadi sia-sia. Harus nya dia berterima kasih kepada Arin karena Arin juga dia bisa dekat dengan anaknya.
Abraham bersyukur kalau Arin memberitahukan kepada ke dua anak nya, kalau Papa bekerja jauh untuk mencari uang banyak dan rumah yang bagus seperti istana untuk mereka.
"Papa mana mainan buat Aurel," pinta Aurel bergelayut manja menarik tangan Abraham.
Abraham tersenyum, mengusap lembut kepala putri cantiknya.
"Ada sayang, di samping kamar nanti ada tempat bermain yang besar buat anak papa yang cantik," jawab Abraham.
"Papa tinggal sebentar ya," pamit Abraham.
Arin melihat pemandangan itu pun terenyuh, apalagi melihat kedekatan mereka. Arin tak percaya padahal mereka baru saja bertemu. Biasanya Abrian paling jarang manja atau berbicara dengan orang, dia ingat dulu Abrian tidak begitu suka dengan William meskipun William membawakan banyak mainan tetap saja Abrian mengacuhkannya. Berbeda dengan Aurel yang cepat akrab dengan siapapun.
"Tio kamu anggap saja rumah ini sebagai rumah kalian," kata Abraham kepada adik dari Arin.
Tap tap tap tap tap... Dengan langkah tegas Abraham berjalan meninggalkan meja makan.
Abraham pun beranjak menuju ke ruang kerjanya, dia memilih mengecek pekerjaan Hendra.
Aurel maupun Abrian makan dengan lahap, Aurel di suapi oleh mbak Tina sedang kan Abrian memilih makan sendiri.
Arin pun ikut mengambil sedikit nasi dan lauk karena dia begitu lapar sejak pagi dia belum makan.
"Kak...." Panggil Tio membuat Arin yang sedang menyuapkan nasi ke dalam mulutnya berhenti, dia menoleh ke arah sang adik.
"Kenapa apa Tio? apa yang ingin kamu tanyakan kepada kakak," tanya Arin menatap sang adik.
"Apa benar yang laki-laki itu bilang kalau dia adalah papa dari si kembar?" Tio memandang sang kakak dengan segudang pertanyaan.
Arin memandang ke arah si kembar dan Mbak Tina.
"Mbak ajak anak-anak ke kamar nya biar pak nan yang mengantarkan kalian," perintah Arin kepada mbak Tina.
"Ma kita belum selesai makan," protes Aurel.
"Apa Aurel tidak ingin melihat kamar kalian," bujuk Arin.
Seketika wajah putri nya itu berbinar mengangguk.
"Pak tolong antarkan kedua anak saya, saya ingin berbicara pribadi dengan adik saya,"
Pak nan pun mengangguk hormat, setelah itu meninggal Arin dan Tio.
Tio melihat interaksi Arin, Tio menatap heran ke arah pria paruh baya itu. Kenapa dia bisa menuruti semua perintah Arin.
Seakan mengerti arah pandangan sang adik.
__ADS_1
"Pak Nan adalah kepala pelayan di sini," jelas Arin.
Tio pun mengangguk, dia mengerti.
"Apa yang dia ceritakan," tanya Arin memandang wajah sang adik.
"Dia bilang kalau dia tidak sengaja menodai kakak, dia bilang kalau asistennya mengira kakak adalah wanita bayaran sehingga asistennya itu menarik kakak menuju kamar tuan Abraham," jelas Tio.
"Iya itu memang semua benar, apa lagi yang dia katakan?" Tanya Arin kembali.
"Dia juga bilang, kalau kak Arin yang sengaja kabur saat pagi karena dia tidak menemukan keberadaan kak Arin, karena urusan pekerjaan dia pergi keluar negeri dan saat dia kembali dia tak menemukan kak Arin di kampung, dia berusaha mencari kak Arin tetapi kehilangan jejak kak Arin," jawab Tio.
"Apa dia berbicara seperti itu?" tanya Arin memastikan.
"Iya kak, dia juga bilang semua ini bukan kesalahan dia maupun asistennya. Tetapi kesalahan kak Veli yang tega menjebak kak dan membawa kakak ke hotel atas suruhan Jo," jelas Tio menceritakan semua yang Abraham katakan.
Arin menghela nafas panjang, jujur sebenarnya yang di katakan oleh Tio tidak ada yang salah, semua nya benar.
"Aku tak bisa marah kepadanya, kalau semua yang dia bilang itu benar?" Lanjut Tio.
Arin mengangguk membenarkan semuanya.
"Kenapa kak Arin tidak bilang kepadaku kalau semua ini ulah teman kak Arin?" Tanya Tio sedikit emosi.
"Sudahlah, biarkan saja.... Toh semua sudah terjadi tidak perlu di sesali karena tidak bisa merubah apapun," jawab Arin.
"Tetapi kak ....." Tio masih belum bisa menerima semua nya.
"Entahlah kak karena saat ku jemput mereka, dia sudah berada di sana dan mengendong Abrian," jawab Tio.
"Tadi mbak Tina bilang......"
#FLASHBACK #
"Ini mainan aku yang ambil duluan," kata Aurel mencoba meraih mainan yang di ambil oleh anak laki-laki gendut tadi.
"Kalian boleh pakai mainan ini, kalian kan tak punya ayah," ledek bocah gendut itu.
Bruk....
Abrian kesal mendorong bocah gendut itu sampai terjatuh.
"Kami punya Papa, dia sedang bekerja mencari uang yang banyak untuk kita," teriak Aurel dengan marah.
Ketiganya pun terlibat perkelahian....
***
Di perjalanan Abraham mendapatkan telephon dari anak buahnya yang di tugaskan mengawasi kedua anaknya.
Rahang Abraham mengeras mendengar kalau anaknya terluka, apalagi dari laporan anak buahnya kalau si kembar sering di bully tidak mempunyai ayah.
__ADS_1
"Pak supir putar balik, ke sekolah taman anak-anak di jalan mawar nomor 5," titah Abraham tegas.
Emosi begitu terlihat dari wajahnya yang tampak semakin dingin.
'Siapa yang berani mengusik tuan,' batin sang supir.
Tut..... Panggilan terhubung.
"Kalian semua ikuti aku," perintahnya kepada para bodyguard melalui sambungan telepon.
Klik... Panggilan itu terputus.
Sesampainya di sekolah anak-anak, para bodyguard membuka pintu mobil Abraham.
Banyak guru maupun wali murid memandang ke arah Abraham, mereka berdecak kagum melihat ketampanan Abraham. Para bodyguard pun mengikuti langkah tuan nya menuju ke ruangan kepala sekolah.
Abraham mengangkat tangan meminta mereka berhenti.
Samar-samar Abraham dapat mendengar ucapan dari kepala sekolah maupun wali murid.
Aurel sedang menangis, sedangkan Abrian duduk sambil menunduk dengan sorot mata kebencian.
"Dasar anak nakal, kalian selalu saja menyakiti anak saya," kata ibu dari anak gendut tadi. Dia tak henti-hentinya mencoba mencubit Aurel. Mbak Tina berusaha menghalangi justru di pukul.
"Lepaskan adikku," bentak Abrian.
"Dasar anak ha**m," kesal ibu gendut itu memukul Abrian.
Mbak Tina pun meraih tubuh Abrian dan Aurel memeluk mereka berdua menjauh dari wanita itu.
Sedangkan kepala sekolah tadi memandang sinis ke arah mbak Tina dan si kembar.
"Maaf Bu, mereka ini memang anak nakal biar saya kasih hukuman nanti," rayu kepala sekolah kepada wali murid.
Di luar Abraham mengepalkan tangannya mendengar ucapan di dalam.
"Ibu kan tahu, suami saya ini adalah donatur di sini, jadi sepantasnya anak saya di prioritaskan berbeda dengan mereka yang tak punya ayah," sinis wanita tadi.
Sedangkan bocah gendut itu meledek kepada keduanya.
Brak.....
.
.
BERSAMBUNG...
Sudah hari Senin saja nih.
Seperti biasa ya setelah membaca biasakan like untuk supaya penulis semangat melanjutkan cerita ๐
__ADS_1