Benih Tuan Muda Kejam

Benih Tuan Muda Kejam
BTMK bab 58


__ADS_3

SETELAH MEMBACA TOLONG TEKAN LIKE ๐Ÿ‘


"Ehemmm....." Seseorang berdehem di belakang mbak Tina.


Glekk...


'Siapa yang ada di belakang ku,' batin mbak Tina ketakutan saat mendengar deheman seseorang yang berada di belakang nya.


Membuat mbak Tina tersentak kaget, dengan cepat dia menoleh ke belakang.


Tatapan dingin nan tajam penuh dengan ancaman itu seakan mengintimidasi mbak Tina. Sorot mata yang begitu tajam memandang kearah nya.


"Tu-tuan...." Kata mbak Tina menunduk takut melihat wajah kejam itu.


"Jaga batasan mu, jangan pernah memimpikan sesuatu yang tak akan pernah kamu raih. Bersyukur lah dengan apa yang kamu punya kalau tidak jangan salahkan nasib mu akan berakhir dengan MEN-DE-RITA," kata Hendra penuh dengan ancaman dengan penuh penekanan di akhir ucapannya.


Gleeeekkk.... Glekk..


Tenggorokan mbak Tina terasa kering mendadak.


'Sadar Tina siapa kamu? Dan kamu pasti tahu siapa mereka. Jangan sampai kamu di pecat karena khayalan mu yang tak masuk akal tadi,' guman mbak Tina dalam hati menyadarkan siapa dirinya.


"Iya tuan saya mengerti," lirih mbak Tina yang sedang ketakutan.


Mbak Tina masih gemetar ketakutan karena ancaman dari Hendra.


"Sekarang kamu pergi dari sini," perintah Hendra dengan tegas.


"Te-tapi tuan...." Belum selesai mbak Tina berbicara, Hendra mengangkat tangan nya memberi kode untuk berhenti berbicara.


"Hei ingat.... Kamu hanya pengasuh, kamu harusnya sadar akan posisi kamu agar kamu tak bermimpi merebut milik orang lain. Kamu bisa beristirahat di sana nanti kita akan ke sana," tunjuk Hendra pada salah satu tempat untuk beristirahat yang di dalamnya terdapat tempat duduk, makan maupun toilet.


Deg.... Pipi mbak Tina terasa basah karena air mata itu menetes tanpa di minta.


Mbak Tina begitu sakit mendengar semua kata-kata Hendra sang asisten itu.


"Baik tuan," jawab mbak Tina menunduk lesu, tiba-tiba matanya sedikit berair lagi kala mengigat kata Hendra yang menohok.


Dia segera berjalan meninggalkan keluarga kecil yang terlihat harmonis tadi. Dia tak ingin berlama-lama di sana.


Sementara Abraham yang melihat sang asisten nya itu dengan cekatan mengusir pengasuh anaknya pun tersenyum lebar.


"Hmm .... Dengan begini aku tak perlu turun tangan," guman Abraham dengan suara kecil.


"Ayo pa...." Abraham tersentak kaget kala tangan mungil milik Abrian menarik tangan Abraham, menuju ke arah Arin dan Aurel sedang berada.


"Iya sayang, sabar jangan lari-lari nanti kamu jatuh," kata Abraham memperingatkan sang anak yang sedang menarik tangan Abraham dengan penuh semangat.


Sedangkan Hendra ....


Fyuuuuuhhh..... Hendra menghela nafas panjang, dia bersyukur sampai tepat waktu. Dia terpaksa ke sini karena ada berkas penting yang harus di tanda tangani oleh Abraham.


Hendra curiga, saat dia melihat pengasuh yang bekerja dengan istri tuan nya dari kejauhan, matanya terfokus kepada tuan Abraham.


Hendra menghela nafas panjang, memperhatikan gerak-gerik mbak Tina sekali lagi, dia tak ingin bertindak gegabah.


Hendra melihat Mbak Tina itu tengah memperhatikan tuan nya dengan penuh kekaguman. Hendra melihat tatapan itu penuh damba, Hendra takut wanita muda itu akan semakin terbuai dengan khayalan nya.


Hendra pun segera bertindak karena dia ingin menjaga keluarga kecil sang tuan nya yang baru saja merasakan kebahagiaan.

__ADS_1


"Aku terpaksa berbicara seperti itu, agar kamu sadar dan tidak melanjutkan mimpi mu. Kalau saja tuan Abraham turun tangan bukan hanya kamu yang hancur tetapi nasib keluarga mu juga di pertaruhkan," lirih Hendra memandang punggung Mbak Tina menjauh dari mereka.


Hendra pun menghampiri Abraham, dengan langkah kecil.


Sampailah Hendra....


"Ehemm...." Hendra berdehem membuat Arin dan Abraham menoleh.


"Maaf kan saya tuan, sudah menganggu waktu anda," kata Hendra menunduk.


Abraham mengangguk setelah itu dia berjalan menjauhi Arin dan anak-anak nya.


"Apa yang membuatmu datang kemari?" Tanya Abraham.


"Ada berkas yang harus anda tanda tangani dan ada investor dari luar negeri yang mengundang anda untuk menghadiri acara pernikahan anaknya," jelas Hendra memperlihatkan undang beserta berkas yang dia bawa saat ini.


"Hmm....." Abraham mengangguk, dengan cepat dia menanda tangani semua nya.


"Saya pamit undur diri tuan," kata Hendra menunduk dan hendak berbalik pergi.


"Tunggu...." Kata Abraham mencegah Hendra untuk pergi.


"Maaf tuan, ada perintah apa?" Tanya Hendra yang sudah mengerti watak Tuan nya.


"Kamu awasi gerak-gerik pengasuh anakku, aku mempunyai firasat tak enak. Jangan lupa perketat penjagaan kalian," perintah Abraham.


"Siap tuan," kata Hendra menunduk hormat. Hendra pun pergi meninggalkan tempat itu.


Abraham pun menghampiri Arin dan kedua anak nya.


"Ada apa? Apa urusan penting sehingga dia menemui mu ke sini. Kalau kamu ada pekerjaan mendadak tidak apa-apa kamu tinggalkan saja kami," kata Arin yang sedang duduk di bangku depan kandang salah satu hewan.


Abraham pun ikut duduk dengan Arin.


"Apa kamu tidak ingin memberikan adik untuk Aurel dan Abrian," goda Abraham mengengam tangan Arin.


Tiba-tiba wajah Arin memanas mendengar ucapan Abraham.


"Di tempat umum jangan bahas aneh-aneh," ketus Arin mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Berarti kalau di kamar boleh dong," Abraham memandang Arin dengan senyum nakalnya, dia menaik turunkan alisnya menggoda Arin.


"Dasar mesum...." Kesal Arin menoleh ke samping untuk menutupi wajah malu nya.


"Ha ha ha ha ha... Mesum sama istri sendiri kan tidak di larang," bisik Abraham tersenyum menggoda.


Arin pun mencubit pinggang Abraham karena malu terus di goda.


"Auhhhh..... Sakit sayang. Bilang saja kalau ingin. Tetapi nanti ya di rumah," kata Abraham mengusap pinggang nya yang terasa sakit.


"Ish...." Kesal Arin menghentakkan kaki nya.


"Ha ha ha ha ha ha ha..." Abraham tertawa melihat Arin yang terlihat mengemaskan di mata nya.


"Oh ya mana mbak Tina?" Tanya Arin yang tak melihat pengasuh anak nya.


"Entahlah... Mungkin dia ke toilet," jawab Abraham acuh.


"Ma... Mama, Aurel lapar," kata Aurel menghampiri Arin dan Abraham.

__ADS_1


"Abrian juga lapar?" Tanya Abraham kepada sang putra. Abrian pun hanya mengangguk sebagai jawaban.


"Ma... Aurel capek," rengek gadis cantik itu.


Arin pun sadar waktu sudah siang, tentu sang anak merasakan lapar. Arin pun kasihan melihat kedua nya sepertinya kelelahan.


"Ya sudah biar mama gendong," kata Arin hendak mengendong tubuh sang putri.


"Jangan, nanti kamu kelelahan biar aku yang gendong," sela Abraham mulai berjongkok mengendong gadis kecil itu di punggung.


"Abrian pasti lelah," kata Abraham dan lagi-lagi Abrian hanya mengangguk.


Aurel berkali-kali menguap di belakang punggung milik Abraham.


"Pasti kalian lelah, kalian sudah puas kan melihat semua hewan yang ada di sini jadi ayo kita pulang tetapi sebelum itu kita mampir dulu buat cari makan," kata Abraham kepada ke dua anaknya.


"Kalian mau makan apa?" Tanya Abraham.


"Aku mau ayam goreng," kata Abrian bersemangat.


"Kalau aku mau bakso," celetuk Arin membuat Abraham geleng-geleng.


Arin pun menutup mulutnya karena malu, entahlah sejak bersama Abraham Arin kembali ke sifat aslinya seperti anak kecil.


"Tolong ambil ponsel di saku ku, tekan nomor 3," pinta Abraham.


Arin pun menurut meskipun wajahnya tersipu malu saat merogoh saku celana Abraham.


Arin pun menekan nomor 3 dan panggilan itu pun tersambung, Arin pun menempelkan ponselnya di telinga Abraham.


Abraham meminta para bodyguard untuk mendekat ke arah mereka.


Setelah selsai Arin pun menutup panggilan itu dan menaruh kembali ponsel itu ke dalam saku celana Abraham.


Setelah menunggu 5 menit semua bodyguard mendekat ke arah mereka.


"Tuan..." Sapa mereka semua menunduk.


Sedangkan mbak Tina pun diam menunduk karena malu.


"Kamu gendong anak saya," perintah Abraham kepada kepada salah satu bodyguard nya.


Mereka semua pun pergi meninggalkan kebun binatang.


Sampailah semuanya di parkiran. Abraham pun menaruh kedua bocah itu di dalam mobil.


"Kamu ikut mobil di belakang," kata Abraham menunjuk ke arah mbak Tina.


Dengan lesu mbak Tina mengangguk.


"Lho kenapa mbak Tina harus ikut mobil belakang, tidak ikut mobil kita saja lagian masih muat kok," protes Arin.


'Ck sayang ku, kamu itu terlalu polos,' batin Abraham.


"Emmm ..... Aku ingin lebih dekat dengan kalian, aku risih kalau ada ORANG LUAR," kata Abraham, mengeraskan kata di akhir ucapannya.


Arin pun paham, dia segera masuk di susul Abraham.


B E R S A M B U N G....

__ADS_1


__ADS_2