
Sampailah mobil Abraham di depan pintu gerbang mansion mewah milik nya.
Pak satpam sudah membuka pintu gerbang saat melihat mobil tuannya itu sudah berada di depan sana.
Abraham mengendong anaknya menuju kedalam.
"Kamu masukkan saja mobilnya, setelah ini aku tidak ingin kemana-mana, aku ingin menghabiskan waktu bersama anak-anak jadi kamu ingat jangan sampai ada yang menganggu," perintah Abraham.
"Baik tuan," jawab Bram patuh.
Bram lah sedang mengantikan bimo dan Doni saat ini, karena Bimo dan Doni sedang mengurus Wilson dan anak buahnya yang sudah berada di markas.
Tap tap tap tap tap tap....
"Sayang nanti kalau ada yang tanya kenapa baju kamu kotor, bilang saja kalau tadi habis main dengan om Tio, ok...." Kata Abraham menjelaskan.
"Siap Pa," jawab Aurel mengangguk setuju.
"Tos dulu dong," kata Abraham menunjukkan tangan nya agar ber tos ria.
Tos... Keduanya ber tos ria.
"Ayo masuk," ajak Abraham.
"Let's go," seru Aurel yang sudah mulai ceria lagi.
"Ha ha ha ha ha ha ha ha, memang anak papa ini paling cantik kalau tersenyum," kata Abraham mencubit gemas pipi sang anak.
"Ish jangan pa, nanti pipi Aurel jadi jelek," jawab gadis kecil itu mengerucutkan bibirnya.
"Aurel itu selalu cantik," kata Abraham membuat Aurel yang tadinya cemberut berubah menjadi ceria lagi.
Keduanya pun masuk ke dalam, Aurel mengandeng tangan papanya dengan riang, namun saat berada di ruang tamu tanpa sengaja kedua nya bertemu dengan bunda.
"Eh cucu Oma baru pulang, lho kok baju nya kotor banget sih nak," kata bunda membuat Aurel dan Abraham terdiam.
Aurel mendongak menatap sang papa, mata bening dengan bulu mata lentik itu berkedip lucu.
"Tadi Aurel bermain dengan Tio jadi bajunya kotor," jawab Abraham karena melihat sang anak masih terdiam.
"Iya Oma," mulut kecil itu baru berbicara setelah sang papa menjawab.
"Oh," bunda mengangguk mengerti.
"Mana Tio?" Tanya bunda celingak-celinguk mencari keberadaan anaknya, apalagi tak terdengar suara mobil sang anak sedari tadi.
"Tio sedang ada urusan sebentar Bun, tadi kita ketemu di jalan jadi saya mengajak Aurel pulang dulu, untuk mandi karena sudah hampir malam," jelas Abraham.
"Ya sudah, sini Oma mandikan," bunda berjalan menghampiri Aurel.
__ADS_1
"Saya pamit ke kamar ya Bun," kata Abraham setelah itu dia berlalu menuju ke dalam kamar.
'Fyuuh untung selamat,' batin Abraham merasa lega.
Entahlah dia baru kali ini takut ketahuan mertuanya itu karena berbohong, apalagi kejadian beruntun yang menimpa gadis kecil kesayangan.
Abraham tak lupa mengirim pesan ke Tio agar nanti tidak salah berucap.
Setelah itu Abraham naik ke atas menuju kamarnya.
Ceklek....
Di sana, Arin sudah tertidur sambil mendekap erat Andra.
Abraham membelai rambut sang istri.
Merasakan ada yang menyentuh rambutnya, Arin pun terbangun.
"Maaf ya ketiduran," kata Arin merasa tak enak.
"Tidak apa-apa," jawab Abraham tersenyum lembut.
Arin pun bangun, dia menegakkan badannya untuk duduk di atas ranjang.
"Aku buatkan minum atau siapkan air hangat untuk mandi," kata Arin saat melihat Abraham yang masih mengenakan baju tadi, Arin berfikir kalau suaminya itu baru saja sampai.
"Tidak perlu, kamu siapkan baju ku saja," pinta Abraham.
Sedangkan Arin memilih kaos dan celana pendek untuk di kenakan suaminya itu setelah mandi.
Si kecil menggeliat saat tak merasakan pelukan sang mama.
"Bla bla la ba bla..." Andra mengoceh tak jelas, matanya sudah terbuka sempurna, dia berusaha membalik tubuhnya mencari keberadaan Arin.
"Eh anak mama mau kemana?" Kata Arin saat melihat sang anak yang sudah bangun.
"Ba la wa la ba ba bla," mulut Andra masih mengoceh tak jelas.
Arin dengan cepat meraih sang putra untuk di gendong karena takut Andra akan jatuh karena dia sudah tidak bisa diam di tempat.
"Ha ha ha ha ha ha ha ha ha...."
Keduanya tertawa bersama.
Ceklek....
Pintu kamar mandi, Abraham muncul dengan handuk melilit di pinggangnya.
"Eh lagi ngomongin apa sih berdua, sampai ketawa-ketawa," kata Abraham mencolek pipi gembul sang anak.
__ADS_1
Andra justru semakin tertawa melihat sang papa.
"Cepat ganti baju setelah itu kita makan malam," pinta Arin melihat suaminya sudah berada di dekatnya.
Sesaat Arin terpesona melihat tampilan sang suami, Abraham menyadari hal itu. Dia segera menghampirinya.
"Apakah aku tampan, atau tubuh ku ini seksi sampai membuat istriku tak berkedip seperti ini," bisik Abraham di telinga sang istri.
Arin yang mendengar itupun di buat malu, wajahnya berubah memerah karena ucapan sang suami.
"Siapa bilang, aku cuma melihat ada uban di rambut mu," elak Arin.
"Ha uban, jadi secara tak langsung kamu bilang aku tua," kata Abraham melotot sekaligus kesal di buatnya.
Arin tersenyum menahan tawanya, dia mungkin berbicara jujur kalau dia benar-benar terpesona oleh tubuh dan wajah sang suami yang menurutnya sangat menarik, mungkin wanita akan mengatakan kalau sang suami adalah Hot Daddy karena pesonanya saat ini meskipun sudah mempunya 3 anak.
"Ck mana ada, biar nanti ku suruh Hendra cek apakah rambutku ada ubannya atau tidak," kata Abraham yang sudah berada di depan cermin besar, dia menyibak rambut nya mencari rambut putih yang bisa membuat pesona nya luntur itu.
'Hi hi hi hi hi hi hi hi, aduh suamiku lucu banget sih... Gemesin,' batin Arin.
"Ayo cepat ganti baju, Andra sudah lapar," kata Arin mengingatkan sang suami.
"Hmm..." Jawab Abraham dengan singkat.
Setelah itu Arin pun turun ke bawah, menyiapkan makan malam tak lupa memberikan Andra kepada pengasuhnya.
Arin juga harus mengecek kedua anaknya, yakini Abrian dan Aurel.
Ceklek.....
Abrian tengah bersantai memainkan robot miliknya, sedangkan Aurel masih memilih baju yang cocok untuk dia kenakan.
"Ma mana yang cocok?" Tanya Aurel saat melihat mamanya yang membuka pintu kamar miliknya.
"Biar saya saja Bun yang membantu Aurel bersiap, bunda bisa tolong Arin untuk membujuk Abrian untuk makan malam," pinta Arin kepada sang Bunda.
"Ya sudah, Oma tinggal ya," pamit bunda kepada cucunya.
Arin pun dengan telaten memilih baju dan memakaikannya ke pada Aurel tak lupa menyisir rambut sang putri dan mengikatnya menjadi 2 bagian, Arin lalu mengepang nya sehingga membuat tampilannya begitu mengemaskan dan cantik.
"Wah anak mama begitu cantik," kata Arin memuji anak nya.
Aurel tersenyum tersipu malu mendengar ucapan mamanya.
Arin pun turun ke bawah, di meja sudah ada bunda, Abraham dan Abrian.
"Mana Tio dan Rio Bun?" Tanya Arin karena tak melihat kedua adiknya.
"Rio belum pulang, tetapi tadi dia pamit menginap di rumah temannya sedangkan Tio dia sudah pamit suami mu ada pekerjaan mendadak," jelas bunda.
__ADS_1
Arin pun mengangguk, setelah itu semuanya mulai makan malam dengan tenang.
B E R S A M B U N G....