Benih Tuan Muda Kejam

Benih Tuan Muda Kejam
BTMK bab 140


__ADS_3

Sesampainya di pantai.


Bunda dan pengasuh di kembar membawa di kembar untuk bermain pasir, tak lupa Bimo yang selalu ada di samping mereka. Bimo tak ingin ada sesuatu yang terjadi dengan keduanya. Bimo bahkan ikut bermain bersama si kembar membuatkan istana pasir, beberapa bodyguard juga di suruh Bimo untuk menjaga di sana, karena Bimo berfikir tidak ada yang tahu kedepannya jadi Bimo berusaha melindungi keluarga ini terlebih lagi sang tuan nya adalah pengusaha besar. Pasti musuh tuan nya banyak dan tak main-main.


Sedangkan Tio menarik Amanda berlari menuju ke air.


"Ha ha ha ha ha ha, terima ini," Tio membasahi tubuh Amanda dengan sedikit air.


"Ish baju ku jadi basah kan," protes Amanda kesal karena ulah sang kekasih.


Dengan cepat Amanda ikut mengayunkan tangan nya mengambil air dan mengarahkan ke baju Tio, Amanda tidak akan tinggal diam, dia membalas kelakuan sang kekasih.


"Ha ha ha ha ha ha, satu sama," ledek Amanda tertawa puas.


"Wah kamu berani ya," Tio langsung menggendong Amanda dan menjatuhkan nya di air.


"Ha ha ha ha ha ha," Tio tertawa puas karena berhasil menjatuhkan sang kekasih di air.


"Awas kamu ya," Amanda berdiri hendak mengejar Tio.


Melihat Amanda yang berlari menghampiri dirinya, Tio pun berlari menghindari Amanda.


"Ha ha ha ha ha ha, ayo tangkap aku. Wleee...." Tio berlari sesekali meledek Amanda.


"Eh... Jangan lari," pinta Amanda namun Tio tak menggubris justru Tio semakin berlari kencang tak lupa dia juga meledek Amanda.


"Wlee.... Ayo kejar aku," Tio begitu senang melihat Amanda tertawa sambil mengejar dirinya. Tio seraya meledek sang kekasih.


Amanda menyunggingkan senyum, dia melirik ke arah Tio yang masih berlari menghindar darinya.


"Aduhhh..." Amanda langsung duduk di pasir memegang kaki seperti sedang kesakitan.


Tio membelalakkan matanya melihat sang kekasih seperti kesakitan.


Tio pun berbalik berlari menghampiri sang kekasih yang tengah kesakitan.


"Sayang, kamu kenapa?" Tanya Tio penuh khawatir. Tangannya melihat kali sang kekasih memastikan tidak ada luka atau semacamnya.


"A-ku...." Amanda terdiam namun tersenyum tipis karena rencananya sudah berhasil.


"Tidak apa-apa, ayo ku gendong," ucap Tio, tangan nya hendak memapah Amanda namun Tio melotot saat tangan lentik sang kekasih mengusap kan pasir di pipinya.


"2 satu," ledek Amanda yang sudah berlari menjauhi Tio.


"Dasar kamu nakal ya, tega bohongin aku. Berhenti... Awas kamu," teriak Tio.

__ADS_1


"Ha ha ha ha ha ha, ayo kejar aku..." Amanda tertawa lepas karena berhasil mengerjai sang kekasih.


"Awas kamu yah...."


Keduanya berlari saling berkejar-kejaran, tertawa riang.


"Ha ha ha ha ha ha, akhirnya kena kamu," kata Amanda meledek.


Tio berhasil menangkap tubuh sang kekasih, dia memeluk erat memutar-mutar tubuh itu seirama dengan hembusan semilir angin pantai.


"Ha ha ha ha ha ha," tawa keduanya pecah.


*****


Di sisi lain....


Sedangkan Aurel, Abrian bermain membentuk istana pasir.


"Om Bimo curang," rengek Aurel saat melihat bentuk istana milik Abrian lebih besar daripada miliknya.


"Ya sudah bagaimana kalau om Bimo buatkan Aurel persis punya kak Abrian ya, biar sama," tawar Bimo.


"Tidak mau," Aurel menolak tawaran Bimo.


"Sayang sudah jangan menangis nanti Oma buatkan yang lebih besar di bantu mbak ya," bujuk bunda yang tak tega melihat sang cucu kesayangannya menangis histeris.


"Hiks hiks hiks hiks hiks, Aurel tidak mau," gadis kecil itu masih sesenggukan.


"Fyuuuhhh...." Abrian menghela nafas panjang melihat kelakuan sang adik yang mendrama tak jelas. Abrian melirik malas ke arah sang adik yang selalu mencari gara-gara.


"Jangan nangis nanti jelek," ledek Abrian agar sang adik berhenti menangis.


Mendengar itu, Abrian mendelik sebal atas permintaan Aurel, sungguh kalau bukan adik nya ingin rasanya Abrian menaruh cabe di mulutnya.


"Tuh kan Oma, Abrian melotot ke arahku," adu aurel menunjuk ke arah Abrian.


Bunda menepuk keningnya, pusing melihat tingkah cucu perempuan nya itu.


"Fyuuuhhhh... Om Bimo beli es krim yuk. Abrian haus," ajak Abrian. Karena Abrian jengkel mendengar sang adik yang mengoceh tak jelas.


Abrian menarik tangan Bimo yang sedari tadi binggung mau memihak siapa, keduanya sama-sama anak tuannya namun karena sama-sama laki-laki jadi Bimo lebih dekat dengan Abrian.


"Tuh kan oma kakak jahat masa beli es krim tidak ajak Aurel," gadis kecil itu semakin merajuk, bibirnya di buat mengerucut seperti terompet.


"Nanti Oma belikan ya," rayu nya.

__ADS_1


"Iya Oma, benar.... Janji ya," mata gadis kecil itu terlihat berbinar senang seraya menganggukkan kepalanya tanda dia mau.


Bunda mengangguk mendengar ucapan Aurel yang terlihat begitu antusias.


Sedangkan Abrian yang tak begitu jauh mendengar perkataan sang adik di buat jengah.


"Kalau bukan adikku, sudah ku lempar ke laut," grutu Abrian seraya melangkah kan kaki kecilnya menuju tempat penjual es krim berada.


Bimo yang mendengar ucapan Abrian di buat geleng-geleng.


"Dasar anak kecil," Bimo terkekeh di buatnya.


"Semoga saja nanti baby Andra tidak menjengkelkan seperti Aurel," guman Abrian dengan suara kecil sambil menghela nafas panjang, namun ucapan itu masih di dengar Bimo.


"Ha ha ha ha ha ha ha ha, Tuan pasti repot memiliki 3 anak," kata Bimo semakin tergelak mendengar nya lagi.


"Om jangan tertawa, nanti ku kasih tahu Papa kalau om buat Aurel nangis," Abrian tersenyum licik saat berbicara memperingatkan Bimo.


'Cih benar-benar keturunan Tuan, angkuh, tukang perintah dan suka mengancam,' sungut Bimo kesal di dalam hati nya.


***


Sedangkan di tempat berbeda.....


"Sayang lepaskan," Arin menggoyangkan tubuhnya karena Abraham tak mau melepaskan pelukannya.


"Tidak aku mau seperti ini," lirih Abraham semakin mengeratkan pelukannya, seraya mencium aroma tubuh Arin yang begitu wangi membuat Abraham begitu nyaman.


"Tuan...." Tanpa ketuk pintu terlebih dahulu Doni masuk ke dalam kamar milik Abraham yang tak di kunci.


Abraham tersentak kaget, saat tiba-tiba Doni menyelonong masuk ke dalam. Arin pun di buat malu dan kikuk meskipun mereka suami istri dan hal itu lumrah.


Doni melotot melihat adegan di depan nya, dengan cepat Doni membalik tubuhnya.


"Ma-af Tuan..." Doni merutuki kecerobohannya karena dia lupa mengetuk pintu terlebih dahulu.


"Punya tangan, punya mulut kan kamu. Kalau masuk ketuk pintu atau permisi dulu, dasar tidak sopan," bentak Abraham kesal karena kesenangan nya harus terganggu.


"Maaf tuan," Doni hanya mampu mengucapkan maaf dengan menunduk.


"Sudahlah sayang..... Lihatlah kasihan Doni, pasti dia kesini mau mengingatkan kita untuk pergi ke pantai," Arin meredakan emosi sang suami.


'Nyonya kamu adalah pahlawan ku karena nyonya sering membelaku dari amukan singa jantan itu,' batin Doni merasa lega.


B E R S A M B U N G....

__ADS_1


__ADS_2