Benih Tuan Muda Kejam

Benih Tuan Muda Kejam
BTMK bab 57


__ADS_3

Keesokan harinya....


"Hoammmm...." Aurel mengeliat meraba kasur di samping nya.


"Mama...." Kata Aurel mencari keberadaan sang mama.


"Hiks hiks hiks hiks hiks.... Mama," teriak Aurel sesenggukan.


Akhir-akhir ini Aurel menjadi lebih manja, Aurel merasa begitu bahagia sejak kehadiran Abraham. Dia serasa mendapat keluarga yang utuh seperti teman-teman nya yang lain, ada Papa dan Mama sehingga keluarga nya terasa lengkap.


"Jangan cengeng, mama sedang masak," kata Abrian menghampiri sang adik.


"Terus Papa mana?" Tanya Aurel sambil mengelap air mata nya.


"Papa lagi olahraga," jawab Abrian.


"Srutttt...." Aurel menarik ingus di hidungnya.


"Ish jorok cepat mandi sana," Abrian menarik sang adik untuk turun ke dari ranjang.


"Ish... Aku masih mengantuk," tolak Aurel menepis tangan milik Abrian.


"Ayo cepat mandi, atau ku tinggal," kata Abrian membuat sang adik mengerutkan keningnya penasaran.


"Mau kemana?" Bibir mungil itu pun penasaran.


"Kita mau ke zoo, mumpung libur sekolah. Tadi pagi Papa tiba-tiba ngajak kita ke zoo," jelas Abrian membuat mata sang adik berbinar mendengar nya.


"Ye ye asyik.... Ke kebun binatang," teriak Aurel berjingkrak-jingkrak di atas tempat tidur.


Aurel pun turun, dia segera berlari menuju kamarnya.


"Mbak Tina, bantu Aurel mandi," teriak Aurel memanggil pengasuhnya, sedangkan Abrian hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah sang kembaran nya itu.


Di meja makan.....


"Di mana yang lain?" Tanya Abraham saat sudah selesai berolahraga.


"Entahlah, bunda dan nek ijah tadi pamit buat pulang ke rumah sedangkan Tio dan Rio sudah berangkat kuliah," jawab Arin menjelaskan semuanya dengan rinci.


"Anak-anak mana? Apa mereka sudah siap?" Tanya Abraham saat tak melihat keberadaan kedua anaknya.


"Cepat mandi, jangan sentuh makanan di meja," kesal Arin saat melihat Abraham hendak mencomot kentang goreng kesukaan Aurel.


"He he he he he he he.... Manisnya istriku," Abraham terkekeh sambil menggoda sang istri.


Wajah Arin merona, dengan cepat dia menutupi nya dengan memasang wajah kesal.


"Cepat mandi, dasar om tua jorok," kesal Arin.


Abraham melotot mendengar Arin sering mengatai dirinya tua.

__ADS_1


"Kalau sekali lagi kamu bilang aku om tua, aku ku seret kamu dan ku beri pelajaran seharian, ku buat kamu menjerit minta ampun," ancam Abraham menyeringai.


Arin mendengar itu pun bergidik ngeri.


"Mulai hari ini panggil aku sayang, inget di manapun berada kamu harus memanggil ku sayang," perintah Abraham.


Glekk ..... Rasanya tenggorokan Arin tiba-tiba begitu kering.


'Ha masa aku harus panggil dia sayang di manapun, kalau banyak orang bagaimana? Hadeeeh bisa malu aku,' guman Arin di dalam hati membayangkan bahwa dia memanggil Abraham di depan umum.


"T...." Belum sempat Arin berkata tetapi Abraham menyela ucapan nya.


"Tidak ada kata protes, ingat sayang aku sekarang adalah suamimu," kata Abraham penuh penekanan kepada sang istri. Tiba-tiba sorot mata nya menjadi tajam.


Arin pun pasrah, dia mengangguk setuju.


"Aku mandi dulu sayang, kamu cepat ganti baju setelah itu kita pergi ke kebun binatang," perintah Abraham.


Setelah itu Abraham pun melangkah menuju tangga.


Lima belas menit kemudian....


Semuanya berkumpul di meja makan, Arin, Aurel, Abrian dan Abraham.


Mbak Tina pun ikut duduk membantu kedua bocah kembar itu meskipun awalnya sedikit canggung.


Abraham menyendok makanan itu kedalam mulutnya. Dia senyum-senyum sendiri.


"Enak kan masakan mama... Pa?" Kata Abrian seolah tahu pikiran papa nya.


"Emmm....." Jawabnya.


"Pa cepat dong makan nya, Aurel sudah gak sabar mau ke zoo nih," rengek Aurel manja.


"Dasar berisik," cibir Abrian.


"Iya sayang sabar ya, papa masih makan," rayu Arin.


Arin begitu senang melihat pemandangan yang ada di depannya, Arin terharu melihat si kembar yang begitu bahagia dari sebelum nya.


"Ayo ma jangan melamun saja," kata Abrian menyadarkan Arin dari lamunannya.


"Eh....." Arin tersadar dari lamunannya.


Abraham pun mengandeng tangan kedua anak kembarnya.


"Mbak ajak anak-anak ke dalam mobil, jangan lupa sua kebutuhan mereka juga kamu bawa," perintah Abraham.


Ketiga nya pun melenggang pergi menuju ke dalam mobil, sedangkan Abraham masih terdiam di samping Arin.


"Jangan melamun terus, kasihan ayam tetangga tidak ada kerjaan kalau kamu melamun," bisik Abraham meninggalkan Arin yang masih terpaku.

__ADS_1


Arin mendelik mendengar perkataan Abraham.


"Ck dasar..." Arin melirik kesal ke arah Abraham.


"Apa hubungannya coba, ayam tetangga sama aku," Arin pun menghentakkan kaki nya kesal. Meskipun begitu dia tetap mengikuti mereka semua masuk ke dalam mobil.


Mereka semua pun masuk ke dalam mobil, mbak Tina pun ikut di mobil berbeda dengan dua pengawal yang di siapkan oleh Abraham.


Akhirnya mereka semuanya pun sampai, setelah menempuh perjalanan cukup melelahkan karena terjadi kemacetan, yang di akibatkan adanya kecelakaan.


"Ayo sayang kita turun," ajak Arin kepada Aurel.


Aurel pun mengucek mata nya karena mengantuk.


"Apa sudah sampai ma?" tanya Aurel dengan kesadaran belum sepenuhnya.


"Sudah, ayo turun.... Tuh kak Abrian sudah turun, tinggal nunggu kamu saja," jelas Arin kepada anak perempuan nya.


Aurel pun turun dari mobil di gandengan Arin, sedangkan Abrian di gandeng oleh Abraham.


Mbak Tina pun mengikuti mereka di belakang.


'Sungguh beruntung ya mbak Arin, menikah dengan tuan Abraham. Meskipun di luar terlihat keras dan dingin tetapi kalau berhadapan dengan anak-anak sifatnya bertolak belakang, dia berbicara lembut dan perhatian, apalagi tuan Abraham ganteng, tajir minta ampun, rumahnya mewah. Aaahhh kapan ya aku menemukan lelaki sepeti itu,' batin mbak Tina.


"Ma itu hewan apa?" tanya Aurel saat melihat macan tutul.


"Oh itu harimau," jawab Abrian.


"Ha ha ha ha ha.... Salah sayang, lihat tuh corak di tubuhnya beda sama harimau," kata Arin.


"Apa beda nya ma? sama saja kok," kata Aurel masih kekeh mengakui kalau itu adalah harimau.


"Itu macan tutul sayang, kalau harimau di sana," jelas Abraham sambil menunjukkan ke arah kadang yang tak jauh dari sana.


Mereka pun pindah melihat semua koleksi yang di miliki oleh kebun binatang itu.


Arin dengan sabar menjelaskan semua, pertanyaan ke dua anak nya.


Sedangkan Abraham melihat interaksi anak nya pun tersenyum bahagia. Dulu hidupnya cuma kerja dan kerja, berbeda sekarang hidupnya terasa lebih hidup karena kehadiran Arin dan si kembar.


Sedari tadi Tina menatap Abraham penuh kekaguman, mbak Tina mengekor di belakang Arin dan Abraham.


'Ah semakin di lihat semakin mempesona,' guman mbak Tina di dalam hati.


Arin tak menyadari hal itu, dia terlalu asyik menjawab pertanyaan dari kedua anak nya.


Sedangkan Abraham juga sering memergoki pengasuh anaknya itu, tetapi dengan cepat dia berpura-pura tak mengetahui karena Abraham sedikit risih.


B E R S A M B U N G....


LIKE, KOMEN, GIFT VOTE, FAVORIT ๐Ÿ™

__ADS_1


__ADS_2