
Tio mengekor di belakang Abraham.
"Kak..." Panggil Tio dengan suara lirih, entahlah Tio hari ini takut melihat raut wajah Abraham.
"Ada apa? Jangan katakan kalau kamu ada janji dengan Amanda atau teman kamu yang lain atau dengan rekan bisnis mu," kata Abraham tanpa menoleh ke belakang ke arah Tio.
Abraham sudah bisa menebak apa yang akan dipikirkan Tio saat ini, seakan dia tahu Tio akan mencari berbagai alasan untuk bisa menghindari Abraham.
Glekkk...
Rasanya tenggorokan Tio langsung kering seketika mendengar ucapan dari kakak iparnya tersebut.
"Bu-bukan kak, aku...." Tio tidak bisa melanjutkan ucapannya karena Abraham dengan cepat dengan cepat memotong ucapan dari Tias saat ini.
"Cih.... Aku tidak menerima penolakan, kamu harus ikut karena semua ini adalah hukuman dariku untukmu," kata Abraham penuh penekanan ke pada Tio.
"Kak aku memang benar-benar ada pertemuan dengan beberapa kolega yang tak bisa diwakilkan," kata dia dengan tatapan memohon ke arah Abraham.
"Sudah jangan jangan protes, ini adalah hukuman mu karena kamu telah lelah menjaga Aurel. Seharian ini kamu harus menemani Arin dan ketiga anakku karena aku akan pergi keluar kota karena ada urusan yang harus aku selesaikan," jelas Abraham mengutarakan maksudnya agar Tio bisa menjaga anak dan istrinya di rumah selama beberapa hari karena Abraham harus pergi ada urusan yang begitu mendesak baru saja di sampaikan oleh Bimo.
"Hmm... Abraham mau ke mana?" Tanya Tio dengan hati-hati.
__ADS_1
"Ada urusan yang harus aku selesaikan dalam waktu dekat ini, tolong jaga Arin dan ketika anakku karena apa takut ada seorang yang masih mengincar mereka," kata Abraham sebelum berlalu pergi meninggalkan Tio.
"Baik kak," jawab Tio patuh.
☘️☘️☘️☘️
Sedangkan Abraham berjalan tergesa-gesa menuju dalam mobilnya.
Di dalam mobil.
"Tuan kita akan langsung pergi ke sana atau kita mampir ke suatu tempat dulu?" Tanya Bimo yang sudah siap di dalam mobil.
"Aku ingin langsung pergi menemui orang itu, lebih cepat lebih baik," jawab Abraham dengan tegas.
"Aku tidak ingin Tio terlibat dengan masalah ini, aku takut dia akan marah, kecewa atau frustasi saat mendengar semua ini karena aku masih sanggup untuk mengatasinya sendiri. Kamu tentu tahu kan bagaimana sifat Tio, aku takut dia berbuat nekad meskipun kita sudah menempanya untuk menjadi kuat namun masalah ini tentu bisa membuatnya hancur. Kamu ingat kan dulu bagaimana hancurnya aku dan aku tak ingin Tio mengalaminya," kata Abraham mencoba menjelaskan yang ada di pikirannya.
"Ya saya mengerti tuan, "jawab Bimo.
"Tapi bagaimana dengan anak itu?" Kata Bimo dengan hati-hati.
"Kita belum tahu itu anak nya atau akal-akalan wanita itu untuk menjebak dan menghancurkan nya," kata Abraham mencoba berfikir positif.
__ADS_1
"Tetapi tuan?........." Bimo masih ingin berkata lagi namun Abraham memotongnya dengan cepat.
"Sudah jangan banyak protes, cepat kamu jalankan mobil ini kalau tidak kita tidak akan sampai tepat waktu," bentak Abraham begitu kesal karena isi dari tadi semua tak henti-hentinya bertanya kepadanya.
"Ba-ik tuan," jawab Bimo singkat namun dengan gugup karena sudah membuat Abraham kesal.
Abraham pun memegang pelipisnya, dia memijat pelipisnya dengan pelan, dia begitu pusing karena tak henti-hentinya masalah mendera keluarganya, masalah seakan datang silih berganti tiada akhirnya.
Berbeda dengan Abraham yang sedang banyak pikiran, Tio justru bersiul-siul menandakan kalau dia ini begitu bahagia.
"Aku kangen Amanda, bagaimana kalau aku jemput dia dan mengajaknya ke rumah kak Arin untuk bantu jaga si kembar, ahhhh..... Pasti kak Arin dan bunda juga nanti akan senang," kata Tio begitu senang membayangkan wajah cantik kekasihnya.
"Oh ya, kemana Rio? Punya saudara kembar selalu hilang tanpa kabar, mana KTP ku di bawa sama dia. Heran masih muda tetapi sudah pikun, masa dia bawa KTP ku dan KTP nya malah di tinggal, dasar.....! Awas saja kalau pulang," grutu Tio begitu kesal.
Ingatan Tio langsung tertuju ke waktu seminggu yang lalu.
Saat itu Rio tengah menginap di rumah Arin, entah kenapa tiba-tiba dia curhat patah hati saat melihat kekasihnya berjalan di pusat perbelanjaan dengan mengandeng tangan seorang pria dan nampak begitu akrab. Rio bilang awalnya menepis prasangka buruk itu namun sering kali dia melihat kejadian yang sama, beberapa temannya juga sudah memperingati namun Rio acuh dan lebih percaya dengan sang kekasih namun semua itu hancur ketika sang kekasih memintanya putus.
Rio begitu terpukul, Rio juga pamit kepada Tio untuk menenangkan diri namun saat menaruh dompet nya dia salah mengambil dompet milik Tio.
Tio pun sudah menghubungi Rio memastikan dompetnya tertukar dan Rio meminta maaf karena dia tidak bisa pulang, Rio saat ini telah berada di negeri seberang untuk menenangkan pikiran sekaligus mengembangkan usaha milik Arin yang saat ini sudah resmi menjadi milik Rio.
__ADS_1
B E R S A M B U N G....